101

528 75 33
                                        

Malam turun perlahan, angin berhembus cukup kencang di luar sana. Hujan masih senantiasa turun walau tidak sebesar sore tadi, menyisakan genangan air di beberapa sudut kota.

Suasana malam terkadang membuat beberapa orang merasakan kerinduan, kekecewaan, luka atau mungkin rasa sakit dari sebuah kehilangan akan sesuatu yang mereka cintai.

Jika dulu malam adalah tempat berbagi kehangatan maka malam yang dilewati saat ini dan seterusnya hanya akan diisi kesunyian dan kehampaan.

Hilmi, lelaki yang baru akan memasuki usia kepala empat beberapa bulan lagi. Kini hanya bisa duduk meringkuk di sudut kamar dengan pencahayaan yang hanya mengandalkan dari sisa-sisa cahaya di luar sana.

Seperti malam-malam sebelumnya, ia hanya akan merenung sepanjang malam menyalahkan diri sendiri atas kehilangan putra-putranya.

Berulang kali, Hilmi mencoba untuk bangkit menjalani rutinitas sehari-hari di rumah. Terlebih putra bungsunya bersama Mira telah diperbolehkan pulang, seharusnya kehadiran baby Zio di rumah bisa membantu dirinya bangkit seperti sedia kala.

Namun, ternyata Hilmi tidak bisa. Kehadiran baby Zio sama sekali tidak bisa mengisi kekosongan di hatinya setelah kehilangan mereka semua.

Tiga bulan berlalu, rasanya dari hari ke hari Hilmi semakin merasa hidupnya tidak lagi berguna.

Hilmi sampai harus memindahkan jabatan sementara serta mempercayakan Harlan untuk mengurus perusahaan.

Selain kehilangan putranya. Hilmi juga harus kehilangan reputasi dan harga dirinya yang kini sudah hancur, ia bahkan tidak sanggup untuk menatap dunia luar.

Setiap langkah kaki yang ia pijakkan, hanya berisi hinaan dan makian, sebuah harga yang harus ia bayar karena telah berbohong pada publik akan identitas putranya selama ini.

Putra yang tidak pernah ia kenalkan pada publik membuat banyak orang berpikir Hilmi adalah orang tua yang picik, kejam dan tidak berperasaan sebab menyembunyikan putranya hanya demi reputasi.

Seperti sekarang, Hilmi terus memandangi jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai, menatap setitik demi setitik air hujan yang jatuh mengenai jendela.

Bayangan wajah putra-putranya terus muncul silih berganti di kepala seperti kaset yang tidak mau berhenti. Suara tawa, langkah kaki yang terus bersahutan bergema di telinga.

Dulu, suara-suara mereka terdengar biasa saja atau kerap kali membuat ia jengkel karena mereka terus saja memanggil dirinya meminta ini dan itu. Namun, justru sekarang mengingat kenangan mereka yang terus meminta bantuan kecil padanya itulah yang paling menyakitkan.

"Papa kangen nak...papa benar-benar gak bisa hidup tanpa kalian...." Lirih Hilmi, suaranya nyaris tak terdengar.

Hilmi menundukkan kepala, memeluk kedua lututnya erat, meringkuk di pojok kamar dengan dada yang kembali sesak.

"Kenapa kalian hukum papa kayak gini....papa gak bisa..." Suaranya pecah membelah sunyinya malam di tengah kegelapan.

"Maafin papa...papa salah...maafin papa karena pernah mengabaikan kalian....

"Maafin papa yang udah jahat dan gak peduli sama kalian....

Sejenak hening, hanya suara tetesan hujan di luar sana yang mengisi ruangan.

"....papa tau kesalahan papa...papa gak rela..." Nafasnya terputus-putus sebab rasa sesak yang tidak bisa lagi ia bendung. "...tapi kenapa kalian tega hukum papa kayak gini....

"Jay bilang..." Suaranya semakin pecah saat kepalanya mulai memutar satu persatu kenangan tentang putranya. "Jay bakal buktiin kalo Jay bisa jadi anak kebanggan papa...." dadanya sesak bukan main.
"Tapi kenapa Jay pergi tinggalin papa....

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang