100

619 79 36
                                        

Waktu terus berjalan tanpa pernah berhenti sekalipun badai telah menghancurkan semuanya tanpa tersisa dan kehidupan tetap berjalan sebagaimana waktu berputar.

Sekalipun luka itu terus mengalir, terbuka, hingga bernanah dan tidak pernah diberi waktu untuk sembuh.

Begitu pun dengan Jake. Kehidupannya benar-benar hancur, hatinya remuk redam seperti serpihan kaca yang tidak lagi bisa disatukan.

Separuh hidup nya telah mati. Kini yang tersisa hanyalah sebagian dari jiwa yang dipaksa untuk tetap bertahan sekalipun badai telah menghapus bersih kehidupan yang semula baik-baik saja menjadi hancur berantakan.

Jake nampak seperti orang gila yang kerap tiba-tiba menangis, lalu berteriak, dan marah di waktu yang bersamaan. Atau mungkin ia akan termenung sepanjang hari terduduk di tengah sunyinya lorong rumah sakit dengan mata yang menatap kosong ke depan pintu ruang rawat Sakala.

Kehidupannya yang dulu penuh dengan kesempurnaan telah hancur dalam sekejap mata. Tidak ada lagi Jake yang gila belajar, karena ia tidak pernah lagi menyentuh buku. Tidak ada lagi Jake yang selalu membanggakan nilainya yang sempurna, karena ia bahkan tidak lagi pergi ke sekolah sehingga membuatnya tinggal kelas dari semua teman-temannya.

Lagipula untuk apa Jake memperjuangkan itu semua masa depannya sudah hancur. Cita-cita yang ia rencanakan bersama saudara kembarnya tidak akan pernah bisa terwujud.

Candaannya yang meributkan dua negara untuk melanjutkan pendidikan bersama Satya saat itu kini hanyalah kenangan pahit yang semakin membuat Jake terpuruk.

Dan masih banyak hal yang tidak mungkin lagi bisa Jake wujudkan bersama saudaranya yang lain.

Terkadang ada satu hari dimana Jake berpikir untuk mengakhiri hidupnya dan menyusul semua saudaranya di atas sana.

Banyak cara yang telah Jake coba, tapi tidak satupun yang berhasil. Entah Jake yang langsung sadar, atau orang lain yang berhasil menghentikan aksi buruknya sehingga ia selalu gagal menyusul mereka.

Dan setelahnya Jake hanya akan termenung di lorong rumah sakit, menatap lama pintu ruang rawat Sakala seolah menyadarkan dirinya sendiri kalo dia tidak pernah benar-benar sendirian.

Masih ada Sakala, satu-satunya saudara yang tersisa dan tengah berjuang untuk kembali ke dalam pelukan Jake.

Sudah hampir 3 bulan, Sakala terlelap dalam tidur panjangnya. Entah mimpi seperti apa yang adiknya rasakan hingga tidak segera kembali ke dalam pelukan Jake.

Setiap malam Jake akan tertidur di samping brangkar Sakala, mengenggam tangan adiknya yang semakin kurus setiap waktunya.

Dokter tidak bisa memprediksi kapan Sakala akan kembali. Cedera yang dialami adiknya cukup parah, jika Sakala terbangun pun kemungkinan akan ada beberapa yang terganggu sehingga adiknya sulit untuk pulih seperti dulu.

Tapi bagi Jake, apapun yang terjadi kedepannya selama Sakala masih bersedia kembali, ia akan merawat adiknya sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya.

Jake tidak ingin lagi kehilangan.

Seperti malam sebelumnya, Jake setia duduk di samping brangkar Sakala. Menatap lekat ke wajah pucat sang adik yang kini tertutup masker oksigen, tangannya terulur menyentuh pucuk kepala dan mengelus lembut surai sangat adik yang mulai memanjang hampir menutupi sebagian keningnya.

"Kala....abang disini." Lirih Jake dengan suara serak seolah menahan tangis.

"Abang akan selalu disini nemenin Kala. Nunggu Kala kembali ke pelukan abang." Lirihnya lagi, perlahan air mata mulai mengalir, Jake tidak bisa lagi menahannya.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang