26. side story (2)

4.6K 523 17
                                        

Aku bisa merasakan betapa gemetarnya tangan ayah dari sentuhannya.
Jika aku bisa membuka mulutku, aku sangat ingin bertanya padanyaa.
"Ayah, bagaimana sebenarnya hidupmu sebelum ada kami?"
Racun yang kami telan adalah racun yang tak akan membunuh hanya dengan sekali minum, racun itu membutuhkan waktu dan konsumsi jangka panjang untuk membunuh korbannya.
Racun itu memang tak akan terasa, namun perlahan demi perlahan racun itu akan merusak isi perutmu sampai akhirnya kau benar benar mati.

Tapi meskipun begitu, tubuh lemahku tak sanggup mengeluarkan racun itu dengan mudah.
Racun itu membuat tubuhku yang lemah menjadi semakin rentan, meskipun racun itu sudah benar benar hilang dari tubuhku tapi aku masih harus melewati efek samping yang begitu menyedikan.

Aku duduk di atas kursi  kayu sembari melihat keara jendela kamarku yang berada di lantai 3. Aku bisa melihat kedua saudaraku yang sedang bermain dengan para pelayan.
Mereka terlihat senang dan di penuhi dengan suara tawa.
"Aku iri..."ucapku perlahan memandang keara kakiku.
Sudah seminggu sejak racun itu menghilang dari tubuhku, namun efek dari racun itu membuat kakiku menjadi lumpuh dalam waktu yang cukup panjang.

"Reeves"terdengar suara dari Ara pintu.
Aku mengarahkan mataku pada Ara suara itu, dan disana aku melihat seorang pria berambut perak memakai kemeja berwarna hitam berjalan kearaku.
Aroma sabun yang wangi semerbak dari ayah, aroma bunga lavender yang begitu menenangkan.
"Apa ayah baru kembali dari ruang latihan?"tanyaku.
"Yah... Apa kau sudah makan?"tanya ayah bertanya lagi sembari melihat sup telur yang masih penuh tak tersentuh.
Sup itu sudah dingin namun aroma sup itu masih tercium begitu enak.

"Aku tidak bisa memakannya, ayah"ucapku
"Apa perutmu sakit lagi?"tanya ayah yang sudah berada di hadapanku.
Ia berjongkok di hadapan kakiku.
Wajah ayah terlihat begitu khawatir.
"Yah .. perutku hanya sedikit sakit"ucap ku tersenyum kepada ayah.
Mata ayahku menjadi gelap, dia menatapku dengan wajah yang begitu kecewa.
"Ayah... Apa anda tidak benci padaku?"tanyaku.
"Benci kenapa?"tanya ayah yang memegang kedua tangan mungilku.
"Karna tubuhku yang begitu lemah ini, aku selalu merepotkan mu"ucapku
"Ayah mana yang akan membenci anaknya, hanya karna dia terlahir dengan tubuh lemah. Reeves"ucap ayah menyentuh rambut pirangku.
"Ayah kau salah... Di dunia luar, bahkan ada seorang ayah yang tidak mempercayai kami sebagai anaknya hanya karna kami belum lahir".

"Jika aku bisa meminta kepada tuhan, aku sangat ingin menjadi anak biologis mu. Bukan hanya anak asuhmu ayah"
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"tanya ayah membuyarkan lamunanku.
"Menatap seperti apa?"tanyaku tertawa.
"Tatapan seperti seorang anak yang sedang kelaparan "ucap ayah tersenyum tipis.
"Yah... Sepertinya aku sedikit lapar sekarang "ucapku tersenyum
Ayah membalas senyuman itu hanya dengan senyuman tipisnya.
Lalu perlahan ia mengangkat tubuhku, menggendongku di dadannya.

Ia menopang bokongku dengan lengan kananya.
"Ayah berapa umurmu sekarang?"tanyaku
"17 tahun, kenapa?"tanya ayah yang melangkah
"Begitukah"aku hanya mengangguk.
Kami berjalan melewati lorong lantai 3, lalu mataku sedikit tertarik kepada sesuatu yang di tutupi oleh tirai berwarna hitam.
"Ayah... Apa yang ada di balik tirai itu?"ucapku membuka mulutku.
Ayah mengubah Ara wajahnya dan menatap keara tirai yang menempel di dinding.
"Itu hanyalah sebuah lukisan"ucap ayah.
"Lukisan?, apa itu lukisan kakek dan nenek?"tanyaku melihat wajah ayah.
Ayah menggelengkan kepalanya.
"Lukisan itu lebih spesial dari itu..."ucap ayah menatapku.
"Itu adalah lukisan orang yang paling ayah cintai di dunia ini... Seorang wanita yang memiliki kecantikan namun tidak memiliki keanggunan"ucap ayah tiba tiba terkekeh.
Ayah berjalan mendekat keara tirai itu.

"Mungkin karna dia adalah wanita yang memiliki sifat bebas dan keingintahuan yang besar jadi dia menjadi wanita yang berbeda dari wanita wanita lainya"tangan ayah perlahan menyentuh tirai merahh itu lalu mulai menyingkap tirai yang menutupi sesuatu itu .
Lalu lukisan dibalik tirai itu akhirnya terlihat.
Lukisan itu di buat dengan cat minyak yang begitu indah.
Seorang wanita berdiri di dalam lukisan itu, dengan tawa lebarnya ia menjulurkan tangannya, seakan dia mencoba membujuk seseorang untuk meraih uluran tangan itu.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang