"besok saya akan pergi bersama tuan Heront ke wilayah barat. Jadi saya ingin menyampaikan perasaan saya kepada anda terlebih dahulu"ucap Renete perlahan melangkah.
"Lalu setelah mengungkapkan nya. Jawaban apa yang kau harapkan dariku. Tuan pendeta?"ucapku yang terus berdiri disana.
"Akan ku katakan dengan jelas. Sebaiknya kau lupakan saja niatmu itu Jika kau hanya ingin mengharapkan kasih sayang dariku."ucapku dengan nada datar.
"Anda tidak perlu membalasnya, anda hanya perlu menerima nya tuan"ucap Renete semakin mendekat.
Lalu ia berdiri tepat di hadapanku.
Perbedaan tinggi badan kami tampak terlihat jelas.
"Jadi apa yang kau inginkan dariku?"tanyaku mendongak agar melihat wajahnya.
"Bisakah anda memberikan izin agar saya bisa bersanding di sisi anda?"ucapnya dengan ekpresi begitu lembut.
"Apa telingamu bermasalah. Aku sudah jelas mengatakan —"bahkan jika bukan sebagai kekasih.. saya tetap ingin berada disisi anda"ucap Renete.
Mata birunya tampak bersinar indah di kegelapan itu.
"Jika aku menginginkan mu sebagai budak, apa kau tetap ingin bersanding disisiku. Tuan pendeta?"tanyaku sembari menatap matanya.
"Saya tak masalah dengan itu..."jawab Renete yang masih memasang wajah tenang.
Bibirku yang awalnya menunjukan sedikit senyuman langsung kembali datar.
"Mari kita lupakan percakapan kita malam ini. Tuan pendeta"ucapku mendorong pria itu sedikit menjauh.
"Tapi mengapa tuan?"tanya Renete menahan diriku.
Dia tak bergerak dan hanya menyisakan ekspresi kebingungan di wajahnya.
"Karna alasan kau ingin bersanding disisiku walau sebagai budak dan semua itu hanya di dasari sebagai cinta?. semua itu terdengar sangat menjijikan dan tak rasional, tuan pendeta"ucapku dengan nada ketus.
Trrrt
Aku menunjuk dada pria berkulit hitam itu.
" Karna aku tidak perna melakukan perbuatan yang cukup baik sampai membuat anda berhutang padaku. Atau mungkin kau menginginkan hal lain dariku?" tanyaku menatap pria setinggi 190 cm tsb.
Pria itu tampak tertegun dengan mata yang melebar.
"Jika kau benar benar ingin bersanding di sisiku, bukankah sebaiknya kau jujur pada tuanmu ini, calon budak ku?"ucapku tertawa mencibir.
"Hahhaa"perlahan tawa kecil keluar dari bibir kecoklatan pria itu.
" 1 pertanyaan, apa anda akan membunuh saya?"tanya Renete perlahan.
"Tergantung jawaban yang kau berikan"ucapku tersenyum.
"Saya ingin memanfaatkan anda untuk membalas kematian arshan kepada kuil"ucap Renete dengan nada datar.
Wajah nya tampak tanpa ekpresi namun bibir sedikit terlihat gemetar yang tertutup oleh bayangan.
Pria itu perlahan melangkah melewati ku.
Kedua tangannya perlahan bergerak menyentuh pintu kaca pembatas ruang kerja dan beranda/balkon.
"Kuil?, semua kuil?"tanyaku berbalik untuk melihat Renete.
Pria itu tampak berdiri di balkon dengan kedua tangan memegang pagar yang tampak di lapisi oleh keramik tsb.
3 bulan yang berada dilangit tampak bersinar begitu terang dan membuat malam itu begitu indah.
Pria berpakaian pendeta itu perlahan berbalik.
Mata birunya tampak menyalah membelakangi cahaya bulan.
"Jika saya bilang 'IYA' , apa yang akan anda lakukan?"tanya pria itu tampak tersenyum.
Senyumnya terlihat begitu lepas dengan mata yang menatapku dengan tajam.
"Saya ingin menghancurkan semua kuil yang ada di kekaisaran. Entah itu bangunan bahkan orang orang didalamnya. Orang orang yang telah menyiksa arshan, orang orang yang memaksa arshan melakukan hal menyimpang. Terutama orang orang yang sudah melukai arshan. Semuanya harus mati... Aku tidak akan membiarkan anakku mati seperti itu. Aku tidak akan melupakan para bangsawan yang sudah membuat arshan mati... "Ucap Renete dengan nada sedikit berteriak.
"Bahkan jika orang tsb saintess ataupun pedenta agung sekalipun... Aku pasti akan membunuh mereka... Oleh karna itu"ucap Renete berjalan mendekat kearaku.
Dia menggenggam kedua pergelangan tanganku.
"Tolong izinkan saya memanfaatkan anda. Tuan Karish"ucap Renete.
Genggaman nya terasa erat.
Tis
Tis
Air matanya perlahan menetes dari pelupuk matanya dan mengenai kedua punggung tanganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
