Untuk beberapa chap akan memakai POV arshan
_____
Seorang pria berambut hijau muda terbaring di hamparan air yang dangkal.
Pria itu memakai pakaian pendeta berwarna putih, seolah terombang ambing di atas air yang mengalir.
Tetesan air terus terdengar di telinga pria itu.
Perlahan matanya yang tertutup terbuka, matanya tampak gelap melihat keatas.
Namun hanya kegelapan saja yang bisa ia lihat.
Pria itu terus memasang wajah yang datar, lalu
Hiks
Air matanya mengalir dari pelupuk matanya dan menyatu dengan air mata air mata yang telah menggenang dan membuat tubuhnya mengambang.
"Maafkan aku, tuan Renete"
"Maafkan aku...."
Pria itu meringkuk sembari memeluk lututnya dan terus menangis.
Dia menangis tanpa henti, membuat air matanya semakin meninggi dan hampir menenggelamkan tubuhnya.
"Apa yang sedang kau tangisi, wahai anakku!"
Suara perempuan terdengar begitu lembut dari kegelapan yang menyelimuti anak itu
Tak
Tak
Suara langkah ikut terdengar, seolah ada seseorang yang berjalan mendekat keara pria itu.
Pria berambut hijau itu mengangkat wajahnya dan mengalihkan pandangannya keara suara itu berada.
Dari kejauhan anak itu melihat setitik cahaya berwarna orange seolah berjalan mendekat kearahnya.
Sentakan kaki bersama dengan suara percikan air yang terinjak terus bergema di telinga anak itu.
Saat cahaya itu semakin mendekat, sosok seorang wanita dengan tudung hitam yang menutupi setengah wajahnya tampak begitu jelas.
Wanita itu memegang sebuah lampion di tangan kirinya.
Ketika melihat lampion yang di pegang wanita itu, anak berambut hijau mudah itu langsung berdiri.
Pria itu berlari mendekat keara wanita itu, namun dia seolah terjerat oleh air matanya sendiri sehingga membuatnya sulit bergerak.
"Tolong saya, saya mohon"ucap anak itu terus mencoba mendekat keara wanita pemegang lampion.
"Tolong saya mohon"ucap anak itu menangis.
Dia menggerakkan kakinya dengan berat,
Bruk
Anak itu tersandung oleh air matanya sendiri dan langsung jatuh ke hamparan air mata yang setinggi lutut itu.
"Saya memang bukan orang yang baik, tapi saya mohon tolong selamatkan dia...."teriak anak itu yang tak mampu berdiri.
Srrrt
Langkah kaki wanita itu terhenti tepat ketika ia berada di hadapan anak itu.
"Saya mohon tolong, selamatkan beliau. Selamatkan tuan saya"ucap anak itu tampak begitu menyedihkan
"Wahai anakku Arshan, kau telah mati. Sudah saatnya aku menuntut mu ke akhirat."ucap wanita dengan suara lembutnya.
"Saya tahu tentang itu, namun sekali saja saya mohon tolong selamatkan tuan saya"ucap arshan yang tampak begitu putus asa.
"Jika kau begitu mencintai tuanmu, mengapa? Kau lebih memilih jalan dimana kau akan diingat sebagai penjahat di sudut pandang tuanmu"ucap wanita itu.
"Karna inilah jalan yang paling benar demi masa depan tuan saya. "ucap arshan.
"Paling benar?, apa kau sudah bertanya tentang pendapat tuan mu?"tanya wanita itu.
"Tidak, tuan saya adalah pria yang begitu baik hati dan penyayang. Beliau adalah seorang kepala pendeta kuil lampion sudah tugasnya untuk mendengar rintihan para jemaatnya, Namun perasaan beliau sama sekali tak perna di hargai di ibukota. Namun ketika kami datang ke Utara beliau tampak lebih ceria dari biasanya "ucap Arshan berbicara kepada wanita itu.
Puk sentuhan hangat terasa menyentuh rambut hijau milik Arshan.
"Bisakah kau ceritakan kisahmu padaku, nak"ucap wanita itu yang tampak tersenyum tipis.
Pria berambut hijau itu mengangguk.
....
Pendeta Renete adalah pahlawan bagiku, ketika aku lahir aku di tinggalkan oleh orangtuaku didepan kuil dewa takdir.
Aku dibesarkan oleh para suster dan pendeta disana, mereka memberiku kasih sayang dan pembelajaran yang baik.
Semuanya begitu baik padaku, dan ketika aku menginjak usia 7 tahun.
Aku harus di kirim ke kuil utama untuk mengikuti pembelajaran untuk menjadi calon pendeta.
Dan aku akan mengabdikan diriku untuk menjadi pendeta di kuil dewa takdir sebagai rasa terima kasih karna telah memberiku kehidupan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
