Kepala pelayan orkaaaaan"teriaak Anne
Hujan yang awalnya sudah deras menjadi lebih deras.
Dengan suara guntur yang perlahan menggelegar.
Orkan berdiri di atas atap kereta dengan posisi tegak.
Matanya melirik keara Anne yang masih di atas kudanya.
Brak
Entah dari mana tiba tiba Riyen melompat sembari mengarahkan pedang besarnya keara kepala orkan.
"Ayo maaaaiiin"teriak Riyen keras dengan tawa lebarnya.
Ting
Suara menyilukan telinga terdengar dari suara benturan pedang dan sebilah belati yang tampak begitu tipis.
"Riyeeen"teriak Anne yang mengalihkan pandangannya keara Riyen yang berhasil mendarat di atap kereta kuda.
Rambut merah Riyen yang pekat tampak kusut dan darah yang tak kalah merah juga mengalir dari kening Riyen.
"Kau masih menyerang begitu agresif seperti biasanya, nona Riyen"ucap orkan yang tampak begitu tenang menahan pedang selebar 20 cm dengan panjang 120 cm tsb.
"Dan anda masih saja cerewet seperti biasanya ya master"ucap Riyen tersenyum.
Riyen meeratkan tangannya pada gagang pedang yang berat.
Praaaak
Ia melancarkan tendangan tepat di antara selangkangan pria parubaya itu.
Suara keras terdengar bergema bersama suara tawa kecil dari Riyen.
Orkan mengambil ancang ancang seolah-olah akan memukul rusuk kiri Riyen, sadar akan hal itu Riyen langsung mengarahkan pedang lebarnya untuk menjadi tameng.
Namun ia salah, orkan malah menargetkan rusuk bagian kanan Riyen yang terbuka begitu lebar.
Pukulan cepat itu menghantam dengan keras.
Bahkan suara Krak terdengar cukup nyaring di tengah hujan yang kian menderas.
Syuut
Tiba tiba kaki kiri Riyen tergelincir dari atap kereta yang dibasahi.
"Sial..."ucap Riyen benar benar kehilangan pijakannya.
Ketika ia hampir terjatuh, tangan kirinya dengan refleks memegangi apapun yang bisa ia pegang agar tak terjatuh.
Ketika wajah Riyen terangkat tampak seorang pria parubaya beruban itu berdiri tepat di samping tangannya berpegangan.
Pria itu menatap Riyen dengan lekat lalu mengarahkan belati yang ia pegang sekarang ingin menusuk Riyen.
"Mhm... Pffft"tiba tiba tawa riang menghiasi wajah Riyen.
"Apa yang kau bodoh?"ucap orkan mengeryitkan matanya.
Riyen masih menunjukan senyuman yang menyebalkan itu.
"Tuaaan Rachaaeeeel"teriakan keras Riyen menggema.
Lalu di saat bersamaan tiba tiba suara gemuru keras terdengar.
Kereta kuda yang awalnya berlari cepat tiba tiba kehilangan kendali seolah-olah tergelincir.
"Apa yang terjadi?"tanya orkan berbalik.
Ketika ia berbalik tampak tempat kusir yang di harusnya di duduki oleh Giselle sudah bertambah orang.
Tampak seorang wanita berambut coklat tua yang memakai pakaian maid sedang berdiri dengan seorang gadis berambut pirang yang tertunduk dengan sebuah anak panah di lehernya.
Lalu selain itu tampak gundukan es yang berukuran lebih kereta berdiri koko di jalan yang ingin mereka lewati.
Diatas gundukan es itu tampak seekor serigala berbulu merah.
Serigala itu berdiri dengan ke empat kaki menatap tepat keara orkan yang berdiri di atas kereta.
"Aaauuuuuuuuuuuuuuuu"lolongan keras terdengar dari Rachael.
Air air yang awalnya menetes dari langit seolah-olah berhenti, seakan waktu melambat.
Lalu tiba tiba air hujan yang seharusnya berbentuk cair mulai jatuh dalam bentuk kepingan es yang menghujani mereka dengan deras dan lebat.
Tetesan es begitu lancip dan tajam.
Ketika tetesan demi tetesan jatuh menghujani orkan.
Tampak seorang es itu mulai menggores sedikit demi sedikit tubuh orkan.
Bahkan hampir membuat atap kereta kuda itu berlubang.
"Aaaaaaaaaaa......"suara nyanyian terdengar begitu nyaring.
Nyanyian keras itu terdengar dari Ara seorang pria berambut merah mudah yang sedang menaiki seekor naga berwarna merah pekat.
Seketika suara nyanyian itu membawa angin yang begitu lebat.
"Uwaaahhhhhh naga....?!"ucap Riyen melepaskan tangannya dari pegangan lalu terjatuh kedalam genangan lumpur.
"Riyen..."ucap Anne berteriak dengan suara khawatir.
"Kau seharusnya tidak berpaling"terdengar suara di hadapan Anne.
Bersamaan dengan tubuh Giselle yang melebur kembali menjadi tikus berwarna hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasia"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
