36. Laure hutan Amazon

2.3K 289 12
                                        

"Ternyata kau mati seperti itu yah..."ucap mereka bersamaan
"Apa yang kalian katakan, aku belum mati..."ucapku keras.
"Lalu bisakah kau menjelaskan, mengapa tubuhmu terbelah?"ucap pria berambut perak itu sembari memegang cangkir teh.
"Ya... Kau sudah mati, sama seperti kami"ucap pria berambut hitam itu tertawa sembari memakan kuenya.
"Tidak aku belum mat—Trrrk
Tiba tiba aku terbangun dengan keringat dingin.
"Apa itu mimpi?"ucapku melihat ke sekitar ku.

Mataku perlahan tertuju kepada jendela yang terbuka.
Matahari belum terbit dan 2 bulan masih bersinar di atas langit.
Perlahan aku beranjak dari tempat tidur dan duduk di sofa panjang yang tak jauh dari balkon.
"Apa semua itu tadi?"ucapku bingung.
"Lalu kedua pria itu, memiliki suara yang terasa sangat familiar... Namun mengapa aku tak bisa mengingat nama kedua pria itu?"gumamku memegang kepalaku.
"Sial.. aku tiba tiba merasa seperti akan terjadi hal buruk"gumamku memegang dadaku.

"Laure?"perlahan terdengar suara pria dari sampingku.
Pria berambut perak itu berjalan dengan tubuh telanjang hanya mengenakan sehelai selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
"Tuan Karllan, mengapa anda bangun?"tanyaku.
"Kau juga mengapa tidakk tidur di kasur?"ucap pria itu berdiri tepat di hadapanku.
"Apa anda khawatir dengan saya?"tanyaku menarik tuan Karllan dan mendudukkannya di pahaku.
Aku mendekap tubuhnya dengan erat.
Terlihat matanya yang berat dan hampir tertutup karna rasa kantuk.
"Lalu mengapa kau disini?"tanya tuan Karllan.
"Saya ingin melihat matahari terbit"ucapku menyentuh rambut perak pria dalam dekapanku itu.

"Laure... Apa kau perna melihat laut"suara tuan terdengar begitu lembut.
Ia perlahan menggerakkan tangan kanannya dan menyentuh wajahku.
"Karna saya lahir di desa yang berdekatan dengan laut. Saya sering bermain disana saat kecil"ucapku menjawab pria itu sembari menggenggam tangan itu.
Tangannya terasa kasar serta banyak kapalan di telapak tangannya yang berkulit putih susu itu.
"Bagaimana pemandangan laut menurutmu?"tanya tuan.
"Saya tidak bisa mendeskripsikan nya hanya dengan kata kata, laut adalah tempat dimana hampir separu dari ekosistem kehidupan didunia ini. Laut terlihat sangat indah di pagi dan sore hari. Namun saat malam hari laut yang indah itu berubah menjadi tempat yang mencekam"ucapku sembari mencium telapak tangan tuan.

"Begitukah, mendengar cerita mu aku jadi sangat ingin melihat laut yang indah itu"ucap tuan terus menatap arah langit yang terlihat jelas dari jendela.
"Jika itu keinginan anda, saya dengan senang hati akan membawa anda untuk melihat laut dan pantai. Pasir yang basah terasa begitu lembut dengan hembusan ombak yang ringan akan terasa geli jika menyentuh kaki"ucapku
"Kau harus menepati janji itu"ucap tuan mengarahkan matanya kearaku

"Ya saya berjanji tuan"ucapku menarik dagu tuan dengan perlahan lalu mendaratkan kecupan ringan pada bibirnya yang berwarna merah pucat itu.
Mata kami sekali lagi saling bertatapan.
"Laure.. tolong peluk aku"ucap tuan sembari merentangkan kedua tangannya.
Aku menyambar rentangan tangan itu dan memasukan pria itu dalam dekapan yang erat.
Aku menyentuh kulit yang di penuhi dengan tanda tanda yang sudah kami tinggalkan.
Srrrt
Selimut yang menyelimuti tubuhnya, sedikit tergelincir.
Aku menarik selimut itu dan menutupi tubuh kami berdua.
"Laure..."ucap tuan yang melingkarkan tangannya pada leherku.
"Ya ada apa tuan?"tanyaku menepuk rambut perak itu.
"Jika suatu hari nanti aku menghilang, apa kau akan menangis untukku?"ucap tuan tiba tiba.
"Tuan apa maksudnya itu?, mengapa anda mengatakan hal seperti itu seolah anda..."ucapku terhenti
"Seolah anda benar benar akan hilang Dann meninggalkan kami"

"Laure semua mahluk hidup pasti akan mati suatu saat nanti, tapi aku memiliki 1 permintaan untukmu "ucap tuan tiba tiba.
"Permintaan?, namun jika itu permintaan untuk membunuh anda saya ragu kalau saya akan mematuhi nya"ucapku yang enggan melepaskan pelukan ku.
"Tidak bukan seperti itu, dengarkan baik baik Laure. Dan jangan biarkan orang lain tahu tentang ini bahkan pada diriku sendiri"ucap tuan tiba tiba membuatku bingung.
"Pada diri anda sendiri?, apa maksud anda tuan?"ucapku semakin bingung.
"Setelah percakapan ini selesai, kau akan memahami nya"ucap tuan perlahan memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Lalu perlahan dia mulai bicara.

"Jika suatu hari nanti ******* bisakah kau ******** ku"ucap tuan.
Mataku terbuka lebar mendengar kata kata yang baru saja tuan katakan padaku.
"Saya tidakk bisa melakukan itu tuan, saya sungguh tidak bisa..."ucapku memegang keras tangannya.
"Kau harus melakukan nya Laure... Karna hanya kau yang bisa kupercayakan akan tugas ini"ucap tuan dengan serius.
"Tuan... Mengapa anda begitu kejam pada saya?"ucapku tak bisa menahan air mataku.
Pria berambut perak itu tersenyum tipis.
Lalu mengusap air mataku.
"Jika kau menangis seperti ini, bagaimana bisa kau akan menghadiri pernikahan kita nanti"ucap tuan tersenyum

"Waktunya sudah habis..."ucap tuan tiba tiba lalu berdiri.
Ia kembali berbaring di atas kasur sembari membawa selimut nya.
Dan kembali berbaring di kasur, ia perlahan menutup matanya dan kembali terlelap.
Aku hanya terduduk di atas sofa dan terus mencoba mencerna kata kata tuan.

2 jam kemudian...
Sebentar lagi matahari akan terbit namun aku masih tak mampu memikirkan solusi yang tepat.
"Laure... Mengapa kau disana?"ucap pria berambut perak itu berdiri di hadapanku.
"Tuan mengapa anda bangun lagi?"tanyaku
"Lagi?, apa maksudmu?"tanya tuan tiba tiba.
"Bukankah anda sebelumnya sudah bangun—"setelah percakapan ini selesai kau akan memahami kata-kataku"
"Tolong rahasiakan percakapan kita ini dari semua orang termasuk diriku"
"Waktunya sudah habis"
Tiba tiba aku teringat kembali dengan kata kata tuan 2 jam sebelumnya.

"Laure ada apa?"tanya tuan yang mendekap selimut.
Cara dia bicara dan cara dia mengenakan selimut, sama seperti kejadian yang terjadi 2 jam sebelumnya.
"Saya hanya ingin melihat matahari terbit"ucapku mengangkat wajahku sembari tersenyum pada tuan Karllan.
"Begitukah"ucap dia duduk di pangkuanku.
Aku mendekap pria itu erat.
"Apa anda tidak mengantuk?"ucapku berbicara sembari mencium kening tuan Karllan.
"Emh... Aku mulai sedikit mengantuk sekarang..."
Perlahan pria itu terlelap dalam dekapan yang hangat itu.
"Selamat tidur... Tuanku"ucapku mencium tangan kanan beliau.

Firasat burukku entah mengapa malah semakin buruk, Dan firasat buruk itu akhirnya benar benar terjadi.
Tuan Karllan di culik tepat di depan mataku sendiri.
"Cari mereka berdua, mereka pasti belum jauh dari sini"teriakku keras.
"Aku akan mencari mereka di jalur darat"ucap Rachael beruba menjadi serigala berbulu merah.
Rachael mulai berlari mencoba menemukan tuan dengan mengikuti aroma tubuh tuan.
"Sialan..."ucap Emily keras.
"Aku akan mencari lewat jalur udara"ucap Emily dengan wajah cemas.
"Emily ingatlah untuk tidak beruba menjadi wujud naga mu, kita masih di kekaisaran. Sebelum kau menemukan tuan bisa saja kau yang akan mati duluan karna di serang para tentara"ucapku

"Aku mengerti"ucap Emily mengangguk.
Srrrt
Perlahan muncul tonjolan dari punggung Emily.
Sraaak
Muncul sepasang sayap naga berwarna merah dari punggung Emily.
"Aku akan pergi duluan, jika kau mendapatkan kabar. Segera beritahu aku"ucap Emily melesat cepat menuju langit
Kepakan sayapnya juga sangat kuat sampai membuat banyak daun daun rontok.
"Laure apa yang harus aku lakukan?"tanya Louise.
"Kau...?"ucapku memandang kaki Louise yang cacat.
"Kau bahkan tak bisa berlari. Kau hanya akan menjadi beban saja, jadi urus saja rumah ini sampai kami kembali"ucapku berjalan meninggalkan mansion.
"Baik... Aku mengerti"ucap Louise yang tampak kecewa.

Aku berjalan keara hutan yang berada tak jauh di belakang mansion.
Sebuah hutan yang masih merupakan bagian dari kediaman Duke karish.
Aku berdiri di lapangan kecil yang berada di tengah tengah banyaknya pohon pinus yang tinggi menjulang.
Tak
Aku menghentak-hentakkan kakiku keras di tanah yang penuh hamparan rumput itu.
Grrraaak
Grrrtaaaak
Suara suara mulai terdengar dari dalam tanah bersamaan dengan getaran getaran.
Dengan kekuatan yang kumiliki, aku membuat pertumbuhan akar akar pohon pinus itu berkembang pesat lalu mulai merambat mereka ke manapun yang ku inginkan.
Selama ada tanah dan pohon akar itu akan terus merambat sampai ber mil-mil dari tempatku berdiri.
(1 mil itu sekitar 1,60934 km)
Dan dari akar itu juga aku bisa mendapatkan banyak informasi secara diam diam

"Hei ayo main denganku!"
"Tidak mau... Aku tidakk mau makan sayur"
"Selamat atas pernikahanmu"
"Buah buah, ayo buahnya. Baru saja di petik dan rasanya sangat segar"
Akar akar itu terus menjalar dan manjadi telingaku.
Suara demi suara mulai masuk ke telinga ku.
"Tidak... Bukan suara ini yang ku cari"ucapku

Hari demi hari mulai berlalu namun tidak ada satupun dari kami bertiga yang bisa menemukan jejak tuan.
Entah aroma, bahkan wujud tuan tidakk perna terlihat di manapun.
Seolah-olah beliau benar benar lenyap dari dunia ini.
Meskipun Louise selalu membawakan makanan dan air untukku, namun aku tidak memiliki waktu untuk menyantap makanan itu sedikitpun karna prioritas utamaku adalah menyebarkan akar akar itu untuk mencapai ke wilayah wilayah paling jauh.
Dan Di hari kelima, setelah mengeluarkan sihirku secara nonstop aku akhirnya benar benar ambruk di dalam hutan karna dehidrasi parah ,kelelahan dan juga kehabisan mana.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang