telapak tangan areen menembus pelipis wanita itu sampai melubangi kepalanya.
"Ap—?"
"Aku hanya melakukan yang kau katakan, nyonya"ucap areen menarik tangannya keluar dan menyisihkan lubang seukuran kepalan tangan orang dewasa di kepala wanita itu.
Wanita itu langsung tergeletak dan mulai membasahi salju dengan darahnya sendiri.
Ketika areen berfikir semua itu berakhir namun ternyata tebakannya salah.
Crap
Crap.
tiba tiba dari Arah punggungnya, 5 anak panah melesat dan langsung mengenai punggung areen tanpa sempat areen menghindar.
Areen menoleh sesaat dan tampak seorang wanita yang tak lain adalah Riyen yang berada di atas tembok yang tinggi.
Ia menatap Areen dengan tatapan tajam sembari terus menghujani areen dengan anak panah miliknya
"Bagaimana bisa?"ucap areen yang tampak terkejut.
"Hahahaha......"tiba tiba wanita yang masih tergeletak dipenuhi darah itu tertawa dengan suara nyaring.
"Aku belum mati... Tentu saja ilusinya akan tetap berjalan"ucap wanita itu tertawa keras.
Suara berubah menjadi sangat nyaring dan tinggi.
Areen yang sedari tadi telah kehilangan banyak darah hampir di ambang batasnya.
Ia terduduk karna kakinya lemas karna kehabisan darah
Srrrt
Perlahan bayangan muncul dari atasnya, ketika ia mendongak.
Tampak bayangan seorang pria berambut hitam pegang sedang mengarahkan pedangnya ke Ara areen.
"Maafkan aku tuan karllan..."
Stab
Ayunan keras nan cepat dan Heront akhirnya benar benar membuat kepala areen terlepas dari tubuhnya.
Ras siren memiliki kekuatan penyembuhan yang bahkan mampu menumbuhkan anggota tubuh yang hilang.
Namun semua itu tidak berarti jika mereka kehilangan kepalanya.
Kepala areen terguling tepat di kaki Heront, dengan tubuhnya yang perlahan tergeletak tepat di kakinnya.
Heront perlahan mengangkat kepala areen lalu berteriak.
"Kita menang" teriakan serta sorakan mulai terdengar.
Namun sesaat kemudian.
Ilusi itu akhirnya menghilang bersamaan dengan nyawa areen yang ikut menghilang.
Namun perlahan sorakan para kesatria yang awalnya meriah menjadi senyap langsung.
Begitu juga dengan Heront yang tampak sengaja melihat kebawa kakinya.
Tampak sebuah tubuh tanpa kepala yang sedang memakai mantel bulu tergeletak di salju yang punggungnya di penuhi dengan anak panah.
Mata Heront melebar dan ia langsung menurunkan kepala yang sejak tadi ia angkat dan ia banggakan.
Disana pupilnya langsung bergetar ketika ia mendapati kepala yang ia pegang buka lah kepala monster tikus yang sejak tadi coba ia buru.
Melainkan kepala seorang lelaki yang memiliki rambut merah mudah, mata lelaki itu tampak terbuka dan menunjukan pupil abu abu tua nya.
"Areen?!"ucap Heront berkeringat.
"Pfffth hahahahaha"tiba tiba tawa keras terdengar dari punggung mereka.
Tampak wanita berambut ungu tua yang memakai pakaian maid itu tertawa begitu keras.
"Nona Marie?"tanya Renete yang terkejut.
"Bagaimana rasanya setelah bermain dengan ilusi yang saya buat. Tuan heront"ucap wanita itu tersenyum lebar.
"Ilusi?"ucap heront.
Lalu perlahan ia menoleh ke sekitar nya.
Tempat itu di penuhi dengan tubuh para kesatria yang telah meninggal.
Namun kejanggalan besar mulai terasa, ketika tidak ada satupun mayat monster tikus disana.
"Apa anda sudah menyadarinya, tuan Heront"ucap wanita itu tertawa.
"Tidak ada satupun dari kalian yang membunuh monster. Melainkan kalian dengan bodohnya saling membunuh satu sama lain"ucap wanita itu tersenyum sampai bibirnya hampir menyentuh telinganya sendiri.
"Kau?"teriak Renete mencoba menghantam wanita itu dengan tinjunya.
Namun sebelum wanita itu sempat dipukul, wanita itu secara tiba tiba melebur menjadi ratusan bahkan ribuan tikus berbulu hitam yang berukuran normal.
Tikus itu mulai menyebar dan berlari dengan cepat bahkan para kesatria hampir tak bergerak dari tempatnya.
"Hahahhaha, sampai jumpa lagi. Tuan Heront"ucap wanita itu.
Tanggal 28 Desember, pukul 2 dini hari.
-Areen serta 389 kesatria di nyatakan meninggal dunia
-70 kesatria mendapatkan luka fisik berat bahkan kehilangan anggota tubuhnya
- 37 kesatria luka kecil
Dan 3 orang sisanya yang tak lain adalah Heront ,Renete dan Riyen(maid) sama sekali tak terluka.
Laporan selesai.
-----
Di lain sisi.
Di sebuah ruangan yang tampak di terangi cahaya likin, seorang pria berambut perak sedang duduk di meja kerjanya sembari terus menggerakkan pena tinta yang ia genggam.
Meskipun lingkaran hitam tampak menghiasi wajahnya, dia sama sekali tak berhenti menggerakkan jemarinya.
Tsss
Tanpa sengaja ia menyenggol wadah tinta yang terbuat dari kaca itu, dan membuat semua tinta yang ada disana membasahi kertas yang sedang ia kerjakan.
"Tch"pria itu berdecak lidah sesaat lalu menyandarkan punggungnya kepada sandaran kursi yang nyaman itu.
Pria berambut perak itu tampak menjepit sedikit alisnya yang tegang.
"Haaah.... Aku merindukan areen"ucap karllan sembari menatap langit yang tampak begitu gelap tanpa sedikit bintang pun yang menghiasinya.
Ketika para pelayan sudah mulai tertidur, pria itu tetap terjaga dengan wajah pucatnya.
Brak
Tiba tiba seseorang mendobrak pintunya dengan keras.
"Tuan karllan"terdengar suara dari Ara pintu yang terbuka.
"Ada apa, Aroon?"tanya karllan sembari melirik keara pria berambut merah mudah yang berada di ambang pintu itu.
Pria berambut merah mudah itu tak mengucapkan sepatah kata apapun.
Lalu tiba tiba dia terduduk di ambang pintu dengan mata memerah.
Karllan yang menyadari akan hal itu langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri pria berambut merah mudah itu.
"Tuan Duke tolong..."ucap Aroon sembari menggenggam tangan karllan
"Ada apa Aroon, tolong katakan padaku"ucap karllan tampak tenang.
Tis
Tis
Perlahan air mata mulai menetes dari pelupuk mata Aroon.
Dengan lembut pria itu menggerakkan bibirnya
"Tolong-----"
Ketika kata kata itu terucap dari bibir Aroon, pupil karllan tampak melebar.
"Tolong hidupkan kembali, Areen. Saya mohon tuan. Saya akan membayarnya dengan nyawa saya sendiri. Tolong hidupkan kembali adik saya, areen"ucap Aroon keras sembari terus menarik lengan karllan.
"Tuan aroon, bisakah anda berhenti berteriak. Anda menganggu orang orang"ucap Louise yang berjalan dengan lilin di tangannya.
"Sebenarnya kenapa anda men—perlahan kata kata Louise terhenti. Ketika ia mendapati karllan sedang memeluk Aroon yang sedang menangis
Karllan tampak menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya seolah menyuruh Louise untuk bungkam.
Mata karllan juga tampak sangat merah dengan pupil yang lebar.
Srrrt
Karllan mengelus rambut pria berwarna merah mudah itu dengan lembut.
Tak ada suatu sedikitpun yang keluar dari karllan dan louise.
Malam itu sangat dingin, namun sekarang terasa semakin dingin ketika air mata Aroon dan suara tangisan Aroon mulai bergema di telinga karllan.
.......
Tuk
Suara catur terdengar.
"Hm dimana aku?"gumam pria berambut perak itu sembari melihat sekelilingnya.
"Lama tak berjumpa, tuan karllan"ucap seseorang dari kursi di hadapannya.
Karllan mengangkat wajahnya lalu menatap seorang pria yang hanya dipisahkan meja bundar.
Papan catur di hadapannya, serta satu pion di tangannya.
Serta tawa menjijikkan yang muncul itu membuat karllan teringat akan tempat ini.
Pria bercadar itu terus tertawa, lalu menunjukan pion hitam yang ia pegang pada karllan.
"1 pionmu hilang, tuan karllan"ucap pria itu tertawa.
Karllan sama sekali tak berekspresi apapun, ia hanya diam dan memandangi pion yang di pegang pria bercadar transparan itu.
"Aku mengerti"ucap karllan hanya mengangguk.
"Haah... Karllan sama sekali tidak seru"ucap pria itu menghentikan tawanya.
"Tapi... Apa kau mau tahu bagaimana dia bisa mati?. Kau penasaran kan, pasti penasaran kan?"ucap dewa mulai menggoda karllan.
"Tidak , sama sekali"jawab karllan singkat.
"Tch, mengapa kau terus bertingkah kuat seperti itu. Padahal aku tahu. Kau sedang hancur kan sekarang"ucap pria itu sembari memajukan wajahnya hingga hanya berjarak sejengkal dari wajah karllan.
"Terutama disini"ucap dewa menunjuk dada karllan.
"Kau sedang marah kan, kau sedang putus asa kan hahah"ucap pria itu tertawa.
"Tidak sama sekali"ucap karllan perlahan mulai menyeruput teh yang sudah di sediakan sang dewa.
Setelah menyeruput teh sampai habis, karllan berdiri dari kursinya.
"Eh?, sudah mau pergi?"tanya pria itu tampak kebingungan.
"Hm.."karllan hanya berdehem lalu meninggalkan dewa sendirian di tempat itu.
"Padahal aku sudah menyiapkan cookies untuknya"ucap dewa itu sembari memangku dagunya
"Tapi tidak apa, sampai jumpa lain kali. Tuan karllan"
....
Selamat membacaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
