42. cinta pertama yang kandas

2.4K 293 12
                                        

Kereta kuda berhenti didepan sebuah pagar mansion yang sangat luas.

Saat pintu kereta terbuka, beberapa orang pria keluar dari kereta kuda lalu di belakang mereka terlihat seorang pria berambut perak dengan mata zamrud.
"Tuan, izinkan saya untuk membantu anda"ucap Laure menjulurkan tangan kanannya.
"Tidak biarkan aku"ucap Rachael mengangkat tangan kirinya kepada ku.
Aku sedikit tertawa kecil lalu menyambar kedua tangan itu secara bersama.
"Tuan, kaki anda akan kedinginan jika anda turun kereta dengan bertelanjang kaki di musim dingin"ucap Louise yang melepas sepatu kulitnya.
Pria berambut coklat itu memakaikan sepasang sepatu yang sedikit lebih besar itu ke kakiku.
"Terima kasih.. Louise"ucapku tersenyum sembari menatap Louise yang sedang berlutut di hadapan kakiku.

"Tuan..."ucap Emily tiba tiba.
Sontakk aku menatap gadis berambut merah(kita ubah saja warna rambut Emily dari hitam ->merah)itu.
"Anda pasti kedinginan kan, saya akan memberikan anda pakaian saya untuk anda"ucap Emily yang mencoba melepaskan kancing gaun yang sedang ia pakai.
"Tidak ... Tidak perlu"ucapku dengan cepat menolak.
"Tapi kenapa?"ucap Emily kebingungan.
"Apa anda khawatir kalau saya akan kedinginan?, anda tidak perlu khawatir karna ras dragon memiliki kulit dan sisik yang tebal dan memantulkan hawa dingin. Jadi kami sebagai ras dragon tidak akan kedinginan hanya karna musim akan menjadi dingin"ucap Emilymenjelaskan.

Aku melangkah keara gadis yang terlihat berusaha keras itu.
Aku menepuk kedua pundaknya, lalu tersenyum.
"Aku tahu ras dragon memiliki sisik dan kulit yang tebal, namun kau juga harus ingat kalau kau juga adalah salah satu bagian dari keluarga karish"ucapku lalu menyentuh rambutnya yang berwarna merah.
"Karna keinginan seorang ayah adalah melihat putrinya tumbuh serta menikah dengan lelaki yang baik"ucapku dengan lembut.
"Saya mengerti..."ucap Emily mengangguk dengan wajah yang sedikit cemberut.

"Eh tunggu dulu"ucap Emily tiba tiba mengupa ekspresi wajahnya.
"Emh, ya ada apa?"tanyaku bingung.
"Bukankah seharusnya aku yang menjadi ibunya tuan"ucap Emily
"Yah benar, tahun ini anda akan berumur 30 tahun, sedangkan aku akan berumur 311 tahun. Seharusnya tuanlah yang memanggilku ibu, bukan aku yang memanggil tuan ayah"ucap Emily bersemangat.
"Tapi... Bukankah itu sedikit aneh, bagaimana mungkin aku bisa memanggil seorang wanita yang tampak seumuran putriku dengan panggilan ibu"ucapku mencoba memberikan alasan logis

"Paman...."suara yang begitu meria mulai terdengar.
Aku mengangkat wajahku melihat keara sumber suara itu.
Terlihat dengan jelas 7 anak anak yang berdiri didepan pintu.
"Paman Karllan..."usepang seorang anak lelaki yang paling kecil berjalan keraku dengan air mata yang banjir.
Matanya terlihat sangat bengkak.
"Danish, mengapa kau menangis sayang?"ucap melangkah kara anak lelaki berambut biru mudah itu.
Aku menggendong anak itu kedalam pelukan.

Perlahan aku menggerakkan mataku keara 6 anak lainya yang masih berdiri dengan mata berbinar.
"Aria, Giova, Lariet , Dehan, Merion, Rion... Apa kalian tidak merindukan paman?"tanyaku berjongkok sembari merentangkan kedua tanhanku keara 6 anak lainnya.

"Paman... Huwaaaa pamaaaaan"tangisan mereka begitu keras.
Mereka berlari lalu berkerumun dan memeluk tubuhku secara bersamaan.
"Paman.... Paman dari mana saja"tanya gadis berambut merah tua bernama Aria yang berusia 5 tahun
"Paman kenapa paman lama sekali pulangnya"tanya Giova gadis berambut hijau tua dengan wajah berbintik berumur 7 tahun
"Paman.... Paman...."ucap Lariet gadis berambut coklat mudah memelukku erat
"Hiks hiks, paman. Paman jangan pergi lagi. Paman" ucap Dehan anak berambut orange bergelombang berusia 6 tahun.
"Hiks hiks kenapa paman tidak bilang akan pergi lama"ucap Merion anak berambut ungu tua dengan wajah berbintik yang berusia 5 tahun.

"Paman maafkan aku, maafkan aku...."tangis Rion anak berambut hitam yang berumur 8 tahun dan salah satu anak yang paling tertua dari ketuju anak itu.
"Kenapa kau meminta maaf pada paman, Rion?"ucapku menepuk rambut Rion.
"Karna aku, paman... Paman.... Hiks hiks"ucap Rion takk bisa menyambung kata katannya.
"Woow, sepertinya rumah ini sangat ramai yah"
"Emh... Sepertinya anak kita akan senang jika berada di lingkungan seperti ini"ucap 2 pria kembar yang turun dari kereta kuda.

Mereka memiliki rambut merah mudah dengan pupil abu abu.
"Aroon, kau harus minta maaf pada Rion"ucapku.
"Emh?, aku?"ucap Aroon menunjuk dirinya sendiri.
"Yang tuan katakan itu benar Aroon, kau harus minta maaf karna sudah menipu Rion "ucap Areen menyaut dari belakang.
"Tunggu dulu, semua hal tentang menipu Rion itu adalah idemu ya Areen "ucap Aroon melihat keara Areen

"Apa maksudmu?, aku tidak tahu apa apa"ucap Areen memalingkan wajahnya keara lain.
"Ah.... Baik baik, aku hanya perlu minta maaf saja kan"ucap Aroon dengan sedikit berbisik.
Saat para anak anak itu hanya memfokuskan perhatian mereka kepadaku perlahan terdengar langkah kaki.
Seorang anak kecil berambut merah mudah dengan kemeja putih mulai melangkah mendekat.
Aroon tampak seperti seorang anak lelaki berusia 7 tahun dengan kulit pucat dengan rambut yang menutupi sebagian matanya

"Rion..."ucap Aroon dalam bentuk anak kecil.
Rion yang merasa terpanggil mulai mengarahkan perhatiannya ketempat suara itu.
Mata Rion begitu berbinar lalu langsung berjalan keara Aroon yang menggaruk kepalanya dengan canggung.

Gruh Rion memeluk Aroon.
"Erlan, maafkan aku...."ucap Rion memeluk Aroon erat.
"Mengapa kau minta maaf kepadaku?, seharusnya akulah yang minta maaf"ucap Aroon kebingungan melihat Rion yang menangis.
"Hiks hiks, maafkan aku. Padahal aku sudah berjanji menjagamu, tapi aku tak bisa berbuat apa apa saat kau menghilang bersama paman Karllan"ucap Rion.
"Eh?, apa dia masih tidakk tahu jika orang yang menculik tuan Karllan itu adalah aku?"
"Rion .. tidak apa apa, itu bukan salahmu "ucap Aroon tertawa kecil.
"Tidak semua ini salahku... Kali ini hiks, aku pasti akan benar benar melindungi mu "ucap Rion tiba tiba menatap mata Aroon dengan lekat.
"Hentikan tatapan itu, kenapa wajahmu seperti itu?"ucap Aroon yang mulai kebingungan.
Cup tiba tiba kecupan ringan dari Rion mengenai pipi kiri Aroon.
"Aku pasti akan bertanggung jawab kali ini"ucap Rion dengan wajah memerah.

"Tidak,tidak,tidak,tidak hei hei apa yang baru saja anak ini katakan.?"
"Sepertinya selama kita terpisa kau sudah menemukan cinta pertamamu ya ar—Erlan"ucap Areen menepuk kepala Aroon sembari tertawa.
"Hei.. apa maksud perkataanmu itu"ucap Aroon.

"Namamu Rion yah, perkenalkan Rion namaku Areen. Aku kakaknya Erlan."ucap Areen tersenyum lalu berjongkok.
"Jadi Rion, apa kau menyukai Erlan?"tanya Areen menahan tawanya.
"Hei areen, apa maksudnya i—"ya saya menyukai Erlan, tolong izinkan saya menikahi Erlan saat besar nanti"ucap Rion yang memotong kata kata Aroon.
"Begitukah, pffft jadilah suami yang baik ya hahah"ucap Areen yang tak menyembunyikan tawanya lagi.
"Sepertinya memiliki adik ipar sepe—(Gyut) aww apa yang kau lakukan Aroon"ucap Areen berteriak saat merasakan cubitan keras dari tangan mungil Aroon.
"Areen... Kau sengaja kan"ucap Aroon menaikan nada bicara.
"Emh?, apa kau penasaran adikku sayang"ucap Areen dengan wajah yang begitu menyebalkan.

"Emh... Oh jadi begini kau bermain"ucap Aroon mengangguk.
"Maafkan aku Rion, tapi aku tak bisa menikah denganmu"ucap Aroon.
"Kenapa?"tanya Rion bingung.
"Kau mungkin salah paham tentangku karna suara dan wajahku yang cukup feminim"ucap Aroon meraih tangan kiri Rion.
"Tapi maaf... Aku bukanlah seorang wanita "ucap Aroon menyentuhkan tangan Rion ke arah selangkangannya.
Mata Rion tiba tiba melebar.
Bruk
Rion perlahan jatuh dengan tangan gemetar.
"Apa maksudnya itu, kenapa kau punya benda yang hanya di miliki pria"ucap Rion yang masih kebingungan.

Srrrt
Aroon menurunkan sedikit celananya.
Terlihat segumpal daging yang cukup panjang berwarna kemerahan.
"Karna aku adalah seorang pria sama seperti mu, tentu saja aku punya benda itu"ucap Aroon dengan wajah serius.
Hari itu terasa begitu dingin sama seperti hati Rion yang di Landa oleh badai salju yang begitu lebat.
Hembusan angin begitu keras menerpa kedua anak yang masih berhadapan itu.
"Hiiih rasanya dingin"ucap Aroon menaikan celananya.
Cinta pandangan pertama Rion kepada seorang pria bernama Erlan yang Rion kira adalah seorang gadis selama ini langsung kandas.
"Maaf... Tapi tolong lupakanlah aku, Rion"ucap Aroon melangkah meninggalkan Rion yang masih terduduk tak percaya.

Tuk tepukan ringan mendarat di kepala Rion.
Pria berambut perak itu berjongkok di hadapan anak berambut hitam itu.
"Paman"ucap Rion melihat Karllan.
Karllan tersenyum dan membuka mulutnya
"Rion, kau adalah anak yang baik kau Pasti akan menemukan orang lain nanti.
Tapi sebelum kau jatuh cinta, tolong pastikan terlebih dahulu kalau orang itu benar benar seorang wanita."

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang