63. Mengapa?

1.3K 160 44
                                        

"Karllan.... Kau"teriak wanita itu keras padaku.
"Emh?, ada apa? "Ucapku tertawa kecil seolah mengejek wanita itu.
"Hentikan, nenek"tiba tiba terdengar suara laki laki.
Aku menoleh keara sofa di samping tempat duduk wanita itu dan baru menyadari kalau ada orang lain disana.

Terdapat seorang anak laki laki yang tampak terlihat berusia 14-17 tahun-an.
Lelaki itu memakai pakaian yang Rapih dengan warna yang tak terlalu mencolok, rambutnya yang berwarna hitam tertata dengan rapi kebelakang sehingga memperlihatkan dahinya yang memiliki tanda lahir yang cukup lebar.

"Maafkan kedatangan kami yang sangat mendadak ini kakak"ucap anak itu menurunkan cangkir teh ke meja.
"Siapa kau?"tanyaku yang masih berdiri.
"Lebih baik anda duduk terlebih dulu, agar kita bisa melanjutkan perbincangan yang tertunda"ucap pria itu dengan nada sopan.
"Baiklah, akan kudengar kata kata kalian. Tapi jika kata kata itu sama sekali tidak berarti aku akan langsung mengusir kalian tanpa basa basi lagi"ucapku tersenyum cukup lebar.

Aku duduk di sofa yang berhadapan dengan wanita tua dan anak itu.
"Louise tolong tuangkan aku teh"ucapku melihat pria itu.
"Apa anda masalah menunggu saya memanaskan airnya terlebih dahulu, tuan Duke?"tanya Louise.
"Tidak perlu memanaskannya, tuangkan saja teh yang sudah kau seduh"ucapku
"Baik, tuan"jawab Louise mengangguk lalu menuangkan teh yang sudah dingin kedalam cangkir itu.

Aku menegak teh itu tanpa merasa terganggu, rasa teh itu memang sangat asin dan aku merasa sedikit bernostalgia dengan masa laluku.
"Apa menyajikan teh dengan garam adalah tradisi wilayah Utara?, atau kau kekurangan uang untuk membeli gula ?"ucap wanita itu terkekeh seolah mengejek.
"Gula adalah barang berharga jadi aku lebih memilih untuk menyajikan teh dengan gula kepada orang penting dan orang yang menurutku pantas saja"ucapku menjawab ejekan itu.
"Karllan kurang ajar itu ada batasnya"ucap wanita itu berteriak
"Saya setuju dengan pendapat anda kakak, gula adalah barang yang sangat berharga. Jadi menyajikan teh dengan gula kepada tamu yang tak di undang seperti kami hanyalah akan membuang buang bahan pangan saja"ucap anak itu meminum teh dengan nikmat.

"Sejak tadi kau terus memanggilku kakak, memangnya kau siapa sampai sampai memanggilku dengan informal seperti ini?"tanyaku menurunkan gelasku ke atas meja.
"Maaf karna terlambat memperkenalkan diri, nama saya Heront van Marlia. Saya adalah anak dari adik ibu anda dengan kata lain kita adalah sepupu dekat"ucap pria itu tersenyum lembut.
'Heront?!'.
'aku ingat anak ini, dia diceritakan dalam buku panduan sebagai cucu kesayangan Darnia Van Marlia'.
"Lalu kenapa kau datang kemari?"tanyaku

"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan padamu,kakak"ucap Heront tampak ragu.
"Apa itu?"tanyaku menatap anak itu dengan serius
"Latihlah dan Jadikanlah Heront seorang kesatria kerajaan yang layak, ini bayaran pertama"ucap wanita tua itu tiba tiba melempsrkan kantung berising koin perak.

Wanita itu berbicara tanpa memikirkan perkataannya dan dengan angkuh malah ingin memberiku beberapa koin perak, bahkan uang jajan milik Leamona saja lebih banyak dari ini.

"Hahah... Apa kau benar benar ingin membayar ku dengan uang receh milikmu, apa kau kira harga ku serendah itu. Nyonya Marlia?"ucapku terhenti tertawa dan menatap wanita itu dengan tajam.

"Lalu soal melatih, aku ragu anak ini akan bertahan dengan prosedur latihan milik wilayah Utara"ucapku melihat pria itu.
"Saya akan melakukan yang terbaik, anda tidak perlu khawatir dengan saya"ucap anak itu.
"Khawatir?, aku pfffttt hahahah"tawaku benar benar tak tertahan lagi.
Saat anak lelaki itu berbicara seolah-olah aku akan khawatir dengan kondisinya.

"Khawatir?, apa aku terlihat tampak khawatir denganmu tuan Heront?. Jangan terlalu percaya diri tuan Heront karna kau itu hanyalah salah satu sampah yang perna ku lihat dalam hidupku"ucapku memangku daguku.
"Karllan..."teriak wanita itu berdiri.
"Lalu, jika kau ingin berlatih di bawah bimbinganku artinya kau akan menyerahkan hidupmu padaku. Dan artinya aku akan dengan sukarela mengurungmu di penjara tanpa memberimu makan membuatmu kelaparan dan hampir mati.... Apa kau siap?"tanyaku tersenyum.
Aku menggebrak meja.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang