96. siapa yang asli.

257 17 2
                                        

Di dalam sebuah tenda, tampak beberapa orang sedang berdiri sembari bersandar di ruang tenda.
Mata mereka hanya tertuju 2 orang yang ada di tengah tengah tenda.
Tampak seorang wanita sedang terbaring dengan alas tidur seadanya, dan seorang pria berpakaian pendeta yang terus mengeluarkan kekuatan sucinya untuk membantu wanita tersebut.

Heront tetap diam sembari melipat tangannya, matanya perlahan beralih melihat keara sisi kanannya.
Di sisi kanannya, tampak seorang wanita berambut ungu tua dengan pakaian maid yang melekat di tubuhnya.
Ia berdiri dengan wajah cemas, mulutnya tak berbicara namun Matanya tampak membengkak dengan air mata terus menerus merembes dari kelopak matanya

Srrrt
Heront mengulurkan selembar saputangan kepada wanita itu.
"Terima kasih tuan"jawab wanita itu sembari mengusap air matanya.
Namun berkali-kali di usap, air mata itu tetap jatuh dan terus membasahi pipinya.
"Apa kau perlu air?"tanya Riyen mendekat.
"Tidak perlu, terima kasih"jawab Maria menolak.
"Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memberitahu ku"ucap Riyen.
Maria hanya mengangguk.

Ketika Renete sedang sibuk menyembuhkan countes dan 2 orang lainya sedang sibuk menenangkan Maria.
Hanya satu pria yang tetap berdiri cukup jauh dari kesibukan yang memenuhi tenda.
Rambut merah mudahnya tampak menutupi sebagian matanya yang memiliki pupil berwarna abu abu gelap.

Setelah melirik sedikit keara wanita maid itu dia mengubah kembali pandangannya.
Tak lama kemudian, cahaya hijau mudah yang awalnya terang perlahan memudar.

"Baiklah, seperti nya cukup sampai sini"ucap Renete tampak menyeka keringat di dahinya dengan lengan pakaiannya.
"Bagaimana keadaan nyonya, tuan?"tanya Marie mendekat keara Renete.
"Anda tak perlu khawatir, beliau dalam kondisi stabil sekarang"ucap Renete menjawab sembari tersenyum tipis.
"Syukurlah"ucap Marie tiba tiba berlutut .
"Terimakasih tuan pendeta, terimakasih"ucap Marie terus menerus.

"Meskipun kondisinya sudah membaik, beliau masih perlu istirahat. Bisakah kau mengurus sisanya?"ucap Renete.
"Ya... Saya mengerti tuan pendeta"ucap Marie mengangguk yang masih dalam posisi duduk di tanah yang hanya di bersihkan tsb.
"Apa anda yakin bisa melakukannya sendiri?"tanya Heront membantu Marie berdiri.

Areen yang sedari awal hanya berdiri dari kejauhan perlahan mendekat.
"Tuan Heront, pendeta Renete. Bisakah kita bicara sebentar?"ucap areen menaruh kedua tangannya di samping.
Kedua pria itu saling berpandangan, lalu perlahan melontarkan pandangannya kepada pelayan wanita berambut merah itu.
Riyen yang mengerti segera mengangguk.
"Saya akan tinggal disini bersama dengan nona Marie"ucap Riyen angkat bicara.

"Baiklah, jika ada sesuatu yang terjadi. Segera laporkan kepadaku"ucap tn. Heront.
"Baik tuan"jawab Riyen mengangguk sembari merangkul Marie yang sedikit terhuyung.

Ketiga pria tsb keluar dari tenda pengobatan, lalu pergi ke tenda yang berjarak sekitar 5 meter dari tenda pengobatan.
Tampak 2 pria duduk di kursi kayu sedangkan pria berambut merah muda tsb hanya berdiri sembari melipatkan tangannya.

"Jadi, apa yang kau kau sampaikan. Areen?"tanya Renete sembari mengelap telapak tangannya dengan saputangan.
"Sebaiknya anda berhati-hati dengan wanita itu, tuan"ucap areen membuka mulutnya.
"Wanita itu?, siapa yang kau maksud?"tanya Heront menatap Areen.

"Tentu saja si—. Aghhkkkk"tiba tiba teriakan keras memotong kata kata areen.
Kedua orang itu langsung bangkit dari bangkunya dan keluar dari tenda meninggalkan areen yang masih berdiri.
"Haaaah" helaan nafas areen terdengar singkat lalu berjalan mengikuti Heront dan Renete.

Ketika mereka keluar tampak beberapa orang sedang mengerumuni tenda pengobatan.
"Apa yang terjadi disini?"tanya Heront berlari mendekat.
"Lepaskan aku, aku akan membunuh wanita itu. Lepaskan aku"teriakan itu semakin keras terdengar.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang