78. Damai sekali

855 116 4
                                        

Srrrk
Srrk
Suara gesekan terus terdengar dari kedua jari jempolku yang saling bersinggungan.
Mataku terus terpaku pada pemandangan di luar jendela.
Malam itu tampak begitu sunyi dengan bulan yang bersinar redup.
Aku berdiri dengan pakaian kotor yang masih melekat di tubuhku.

Mataku hanya terpaku kepada langit malam yang sama sekali tak menunjukkan bintangnya.
Tuk
Tuk
Suara ketukan terdengar dari arah pintu.
Mataku segera bergerak dengan tubuh berbalik keara pintu.
"Masuklah"ucapku mencoba bersandar pada meja kerjaku.
Ketika pintu terbuka, tampak seorang pria berambut ungu gelap bergelombang itu berdiri disana.
Wajah pria itu tampak terus tertunduk, ia mulai melangkah masuk.

Trak
Pintu tertutup
"Tu—"Laure kembalilah ke selatan"ucapku memotong kata-katanya.
"Ap maksud anda tuan?"tanya Laure mengangkat wajahnya.
Aku memalingkan wajahku dan membelakanginya.
"Berkemaslah dan berangkatlah malam ini. Aku akan menyiapkan kereta kuda untukmu"ucapku
"Tidak~ tuan. Saya salah..."ucap Laure berjalan tertatih.

"Aku tidak membutuhkan pria yang begitu mudah tergoda kepada wanita lain Laure. Jadi lebih baik lupakanlah rencana tentang pernikahan yang kita sebutkan hari itu"ucapku terus membelakanginya.
Brak
Tiba tiba terasa kedua tangan yang memeluk pahaku begitu erat.
"Tuan... Saya salah... Saya salah... Tapi saya mohon tolong jangan buang saya"ucap Laure dengan suara bergetar.

"Lepaskan Laure..."ucapku yang terus berdiri.
"Tidak, tolong dengarkan penjelasan saya tuan. Saya benar benar tidak melakukan apapun dengan wanita itu. Saya bersumpah atas nama saya"ucap Laure.
Air matanya yang dingin mulai menetes membasahi betisku.

Aku sedikit melirik keara kakiku, tampak seorang pria dewasa yang menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
Seketika aku menutup mulutku dengan cepat.
Ketika aku mendapati bukan hanya matanya saja yang menangis namun hidung serta mulutnya juga ikut menangis bersamaan dengan air matanya terus mengalir deras.

Aku terus menahan diriku untuk tidak tertawa disana.
Tubuhku gemetar karna menahan suara tawa yang tertahankan itu.
"Lepaskan↗️(disini suara karllan naik dan kedengaran nyaring gitu) aku laure ↘️(disini suaranya balik seperti biasanya)"ucapku yang hampir tertawa
"Tidak... Saya tidak akan melepaskan kaki anda. Saya tidak akan melepaskannya "teriak Laure keras.

"PERGI DARI SINI LAURE"ucapku keras sembari mendorongnya keras sampai sedikit tersungkur.
"Tuan..."ucap Laure mendongak kearaku.
Matanya tampak berbinar dengan pupil mata yang sedikit membesar
Srrrng
Aku langsung berbalik dengan cepat.
"Gawat... Aku hampir tidak bisa menahan suara tawaku"
"LALU JANGAN PERNA LAGI MENAMPAKAN DIRIMU DI HADAPANKU, KARNA AKU SAMA SEKALI TAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI"ucapku keras sembari berjalan keara pintu.
"Tidak tuan"ucap Laure tiba tiba menarik kakiku.

Gubrak
Aku yang terkejut karna tarikan keras itu seketika tersungkur dengan wajah menghantam lantai lebih dulu.
"Tuan apa anda terluka?.."ucap Laure segera menghampiriku.
"Maafkan saya, saya sama sekali tidak sengaja"ucap Laure membantuku bangun.

"Tuan?"ucap Laure lagi karna merasa kebingungan kepadaku yang masih terdiam.
Mata Laure perlahan melebar ketika melihat hidungku yang tampak memerah karna terhantam lantai.
"Owh..."ucapku memegang kepalaku.
Grub
Tiba tiba Laure mendekapku erat dan memasukkan wajahku di dadanya.
"Tuan saya sangat mencintai anda"ucap Laure tiba tiba.
"Eh? Apa yang sed—pump" tiba tiba aku merasakan kelembutan yang hangat dari dada milik Laure.
"Tuan saya sangat mencintai anda"ucap Laure semakin memasukkan kepalaku di tengah-tengah gumpalan lemak itu.
"Laure?"ucapku kebingungan.
Perlahan mataku bergerak untuk mencoba mencari jalan keluar.
Namun tiba tiba mataku terhenti ketika aku melihat sebuah benda yang tampak berdiri tegak dan keras itu.

"Le—brak"
Aku memukul paha Laure dengan keras
"LEPASKAN AKU BAJINGAN MESUM"teriakku keras sembari memukul benda keras itu.
"Aaghkk "teriakan keras Laure terdengar begitu keras.
"Untuk sekarang kau harus kembali ke selatan. Lalu tunggu perintah ku selanjutnya. Kau mengerti"ucapku segera berlari keluar dari ruangan kerjaku.
Meninggalkan Pria berambut ungu yang terus berguling-guling sembari memegang alat kelaminnya yang terasa menyakitkan itu.

.....
Kamarku
"Haaah.... Akhirnya hari yang panjang selesai juga"ucapku melepaskan kemeja yang kupakai.
"Laure bajingan  bagaimana dia masih bisa tegang ketika kondisi segenting itu"ucapku mengambil kemeja dari lemari.
Srrk
Suara gesekan antara kain dan kulitku mulai terdengar di kamar sunyi itu.

Lalu melepaskan ikat pinggangku dan melepaskan celanaku.
"Seharusnya aku tadi menghajar nya lebih keras"ucapku kesal.
Klak
Terdengar suara pintu terbuka.
"Laure?, kenapa kau kemari apa pukulan ku tadi kurang?"tanyaku tak berbalik.
Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Terdengar suara langkah kaki yang mendekatiku.
"Laure? Apa kau sudah mulai berani mengabaikan ku sekarang?"tanyaku sembari mengancingkan kancing pakaianku.
Grub
Pelukan tiba tiba terasa dari belakangku.
Pelukan itu cukup hangat.
"Laure apa kau sedang memohon kepadaku sekarang?"tanyaku tertawa kecil.
Namun tak ada sedikitpun suara terdengar dari Laure.

Mataku sedikit melirik keara kedua tangan yang berada di perutku.
Tangan itu tampak begitu kecil dan kurus
Lalu
Aroma manis bercampur aroma anyir mulai keluar semerbak dari Ara punggungku.

Aku menarik tangan itu keras sembari melempar pemilik tangan sedikit menjauh dariku.
Ketika aku membalikan tubuhku, sontak aku langsung menggerakkan tanganku dan meraih leher yang terasa begitu tipis dan kurus itu.

Ketika tanganku berhasil mencengkeram leher orang tak ku ketahui itu, terasa sentuhan halus yang berasal dari rambutnya.

Ketika cahaya bulan mulai bersinar melewati jendela.
Tampak dengan jelas sosok seorang gadis muda berambut pirang yang tercekik karna tangan kiriku.
"Tuan Duke?"ucap gadis itu mencoba mencakar lenganku
Gadis itu tampak telanjang dada hanya memakai celana dalam transparan yang menampakan vaginanya dengan jelas

"Apa maksud dari prilaku anda ini, nona ?"ucapku bertanya sembari mengeryitkan mataku.
"Sa-saya hanya tersesat"ucap gadis itu dengan suara terbata.
"Tersesat?, dengan pakaian seperti ini?. Apa anda berfikir saya akan percaya?"tanyaku sedikit tertawa.
"Saya benar ben—kraaak"

Suara keras terdengar begitu jelas dari Ara gadis yang lehernya tampak bengkok itu.
Ketika suara keras itu muncul, mulut gadis itu tiba tiba berhenti berbicara dengan kepalanya yang langsung terlempar kebelakang dengan tulang leher yang mencuat keluar di tengah-tengah lehernya.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang