Pria berambut perak itu berdiri disana.
Dia memakai pakaian yang begitu Rapih.
"Tuan Pendeta..."ucap arshan kepada Renete yang terpaku melihat keara Karllan.
"Apa anda merasa sakit?"tanya Arshan dengan wajah khawatir.
Renete menggeleng dengan lembut.
"Aku hanya berfikir, ternyata orang yang di anggap sebagai seorang yang kejam di ibukota. Adalah seorang tuan tanah yang di cintai oleh para rakyatnya"ucap Renete tersenyum tipis.
"Saya juga terkejut, ternyata kita tidak boleh asal mempercayai rumor sebelum melihat orangnya dengan mata kita sendiri"ucap arshan.
Tup
Mata Renete dan mata Karllan saling bertatapan.
Renete tanpa aba aba menyilangkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka di atas dadanya lalu perlahan ia menundukkan kepalanya kepada pria berambut perak itu.
Melihat salam itu Karllan tersenyum tipis sembari sedikit menundukkan kepalanya untuk menjawab salam sopan yang diberikan oleh pria berkulit coklat itu.
Setelah membalas salam itu, Karllan kembali berbicara kepada para warga.
"Cepat kembalilah ke rumah kalian. Cuaca akan semakin dingin"ucap pria itu tanpa ekspresi lalu masuk kembali kedalam kereta cukup besar itu.
Pintu kereta tertutup dan kereta mulai melaju meninggalkan kerumunan itu.
Mata Renete terus mengikuti setiap langkah kereta, sampai kereta itu akhirnya benar benar hilang dari pandangan nya.
"Tuan pendeta?, tuan pendeta?"ucap arshan kebingungan.
Ssssrrtt
angin berdesir cukup kencang membuat rambut pajang Renete yang terlikat terombang ambing menutupi wajahnya.
Pita yang terbuat dari kain berwarna merah itu terlepas dan melayang mengikuti hembusan angin.
(Pita yang dimaksud disini bukan pita kupu kupu tapi kayak kain tipis ,kecil dan cukup panjang untuk mengikat rambut).
Membuat rambutnya yang awalnya terikat menjadi tergerai berantakan, rambut yang berwarna hitam dengan gelombang itu mulai ikut tertarik keara angin yang melaju tepat keara jalan tempat kereta kuda yang tak terlihat lagi itu.
"Tuan pendeta, apa anda terluka?"tanya Arshan yang masih kebingungan.
Pria berkulit coklat itu menyikap sedikit rambut yang menutupi wajahnya.
"mari kita lanjutkan perjalanan kita"ucap Renete mulai melangkah.
"Baik..., tuan pendeta"jawab arshan mengikuti langkah Renete sembari membawa sebuah koper kulit berwarna coklat.
_____
Di dalam kereta pria berambut perak itu memangku daguku sembari sedikit bersenandung kecil.
"Tuan, apa anda menemukan sesuatu yang menarik?"tanya Aroon tersenyum riang.
"Rahasia"ucapku yang tak bisa menyembunyikan ekspresi senangku.
"Ehhhhh... Apa maksudnya itu?"ucap Aroon heboh.
Aku mengarahkan mataku keara jendela kaca yang ada di kereta.
.....
Kereta perlahan masuk kedalam sebuah mansion bertingjat 3 yang memiliki campuran warna navy dan hitam.
"Woow.... Apa ini kediaman anda tuan?"Tanya Rachael dan Aroon bersamaan sembari menempelkan wajah mereka di kaca.
"Luas sekali..."ucap Louise yang terpukau.
"Aroon, Rachael berhenti. Kalian akan menghancurkan jendelanya jika kalian menekan terlalu keras"ucap Areen dengan tenang.
"Kau pasti sangat kesulitan karna memiliki kakak seperti Aroon"ucap Laure menyentuh pundak Areen.
"Haaah.... Saya juga bingung siapa yang sebenarnya kakak di sini"ucap Areen memegang kepalanya.
"Hei areen apa maksudnya itu?, bagaimana bisa kau mengejek kakakmu sendiri"ucap Aroon menggerutu.
"Pffft... Hahah. Aroon sepertinya kau harus bertukar peran dengan Areen. Karna kurasa Areen lebih menjadi seorang kakak daripada dirimu"ucap Emily tertawa
"Hei Emily apa maksudnya itu?, apa kau tidakk bisa melihat betapa dewasanya aku"ucap Aroon berpose dengan jari jempol dan jari telunjuknya terbuka sehingga membentuk tanda ✓ untuk menopang dagunya.
"Lihatlah ketampanan ku yang hakiki ini"ucap Aroon bangga
Zzinngg
Mata Emily menyipit dengan alisnya yang naik, lalu perlahan mengangkat jari telunjuknya keara Aroon.
"Areen, bolehkah aku membunuhnya?. Aku sudah muak dengan kepercayaan dirinya yang tak berdasar itu"ucap Emily menunjukkan wajah kesal.
"Silahkan saja..."ucap Areen tersenyum dengan mata tertutup.
Areen memiringkan wajahnya sedikit lalu membuka matanya tanpa menghilangkan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Aku bahkan tidak keberatan jika kau mau memotong-motong tubuhnya"ucap Areen begitu bahagia.
"Hei.. hei.. apa maksudnya itu Areen"teriak Aroon heboh.
"Hahaha... Kau pantas mendapatkan itu Aroon"ucap Rachael yang tertawa.
"Wow... Apa kita akan tinggal di mansion ini mulai sekarang?"ucap Louise menatap keluar jendela..
"Tuan, apa anda kebingungan?"tanya Laure padaku.
"Hei... Hentikan kau bajingan"teriak Aroon menjambak telinga serigala Rachael.
"Kau juga lepaskan telingaku"teriak Rachel yang menjambak rambut merah mudah milik Aroon.
"Hahah... Rachael ayo semangat"ucap Emily mengangkat kedua tangannya.
"Rachael tarik lebih keras"ucap Areen juga bersorak.
"Areen bajingan, kenapa kau malah mendukung Rachael daripada aku"teriak Aroon keras
"HM..... Benar benar hari yang ramai dan penuh keributan"aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
Prok
Aku menepuk kedua tanganku dengan keras.
Sontak keributan itu berhenti seketika.
"Apa kalian menikmati permainan sekarang?"tanyaku dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahku.
"Rachael yang mulai duluan tuan"ucap Aroon keras
"Hei apa maksudnya itu?, jelas jelas kau yang menarik telinga ku"
Perdebatan itu pun di mulai lagi.
"HM....."dengan senyuman yang begitu lembut.
Aku mengangkat kedua tanganku.
Lalu
Plak
Plak
Plak
Plak
Kereta berhenti.
Para anak anak mulai turun dari kereta yang terpisa dari orang dewasa.
"Woow... Mansionnya lebih besar dari yang ada di ibukota"ucap Rion yang berdiri sembari memegang adik adiknya.
"Rion..."ucapku
"Paman..."ucap Rion berbalik dan melihat keara kami.
Tapi mata Rion sedikit melebar.
"Paman kenapa ada bekas jari di tangan kakak kakak yang lain?"tanya Rion kebingungan.
"Hiks hiks kenapa aku juga kena?, padahal aku tidak melakukan apapun?"ucap Laure memegang pipi kanannya.
"Benar... Bukankah ini tidak adil?"ucap Louise yang memegang tanda merah di pipi kirinya.
"Tuan... Bukankah ini tidak adil"teriak Aroon keras kepadaku.
"Tidak adil?, apa maksudnya Aroon?"tanyaku melihat keara pria berambut merahh mudah yang memegang kedua pipinya yang sangat merah.
"Kenapa hanya aku Dan Rachael saja yang mendapatkan 2 tamparan"ucap Aroon menggerutu.
"Benar. Bukankah Areen dan Emily juga berisik tadi"ucap Rachael.
"Hmmm?, apa 2 tamparan tidak cukup?"tanyaku memperlihatkan senyuman yang begitu manis dan indah.
"bukankah 1 saja cukup?, kenapa aku harus mendapatkan suami tambahan dengan sifat sama kekanak-kanakan nya dengan Rachael?"Batinku berteriak keras
"Apa ini semacam hukuman karna tidak percaya kepada dewa?"
"kuharap author akan memberikanku suami yang normal untuk kali ini"
Author said: kamu itu spesialis para mahluk astral yang aneh dan random. Jadi permintaan soal suami normal lebih baik kita lupakan saja. Te hee~
___
Seorang wanita berambut pirang dengan pakaian pendeta berwarna putih dengan corak emas berlutut di hadapan sebuah patung besar sembari memegang kalung salib nya.
Wanita itu berdoa dengan begitu serius.
Trrrt
Mata wanita itu seketika terbuka dengan keringatan yang bercucuran.
"Pendeta agung?"tanya seorang pelayan yang berdiri cukup jauh darinya.
"Cepat kumpulkan para pendeta dari setiap kuil dewa"ucap wanita itu keras.
"Ba-baik"jawab pelayan itu segera berlari.
"Tuan Karllan, inikah yang anda maksud kalau kita akan berada di jalan yang berbeda?"ucap wanita itu terus memegang kalung salibnya
Wajah wajah yang sebelumnya tidak terlihat jelas karna kegelapan.
Mulai menunjukan wujud aslinya satu persatu.
Baru 2 wajah yang terlihat jelas.
Wajah pertama adalah pria berambut perak dengan mata zamrud yang tak lain adalah Karllan Vern karish.
Lalu wajah kedua. Adalah seorang pria dengan rambut hitam panjang bergelombang
"Tapi... Kenapa? Kenapa kau juga ada disana. Pendeta Renete?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasi"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
