...
Saat membuka mata, terlihat sebuah langit langit kamar yang terbuat dari kayu.
"Emh dimana ini?"
" pagi tuan Karllan"
"Selamat pagi tuan karish" ucap 2 anak kembar itu bersamaan.
"Ah aku ingat sekarang, tempat ini..."ucapku perlahan bangun dan mengambil posisi duduk
"Bagaimana kondisi anda?"tanya Areen dengan wajah yang khawatir.
Ah benar aku ingat sekarang.
"Aku akan membawa mereka berdua kembali keutara bersama kita"
Setelah menyakinkan mereka, tiba tiba tubuhku terasa seperti kehilangan keseimbangan.
Kepalaku terasa berat dengan mata menghadap keara langit.
"Astaga langit terlihat sangat indah..."
"Tuan Karllan..."
"Tuan?"
Ketika tiba tiba hari yang cerah mulai menggelap disana aku melihat mereka berlari menghampiri ku dengan wajah khawatir.
"Sepertinya aku sudah pingsan cukup lama yah?"tanyaku yang memegang kepalaku
"Ya benar tuan, anda sudah pingsan selama 1 hari 1 malam"jawab Aroon.
"Maafkan kami tuan karish, kami terlalu ceroboh karna tidak memikirkan sedikitpun tentang kondisi tubuh anda"ucap Areen membungkuk padaku
"Dimana yang lainnya?"tanyaku melihat keara pintu kayu yang terdapat lingkaran kaca kecil di bagian atasnya.
"Rachael, Emily dan Louise sedang pergi berburu ikan sedangkan Laure dia berada di kamar lain"ucap Aroon yang menghitung jarinya.
"Aku akan pergi menemui Laure"ucapku berdiri.
"Kami akan mengantar anda"ucap Areen dengan suara lembut.
"Baiklah"ucapku berjalan keluar dari pintu kamar.
Saat pintu terbuka
Terlihat lautan terbentang luas.
Suara ombak dengan hembusan angin menerpa tubuhku.
Kami berada di sebuah kapal yang sangat besar.
Namun meskipun kapan itu sangat besar dan luas, kapal itu terasa kosong karna begitu sepi.
Srrnnkkk
Tiba tiba angin berhembus sangat kencang bersamaan dengan sosok naga berwarna merah yang terbang tepat di atas kapal yang ku tumpangi.
"Naga itu...?"
Brak
Tiba tiba terdengar sesuatu yang menghantam air dengan begitu keras
"Emily sialan... Kau menjatuhkan ku..."terdengar juga suara keras yang tak asing.
Aku berjalan sedikit menuju tepi kapal dan mengarahkan mataku ke sumber suara tadi.
Disana aku melihat Rachael yang sudah basah kuyup berenang di tengah laut.
"Hahah, tuan Rachael bukankah sudah saya katakan anda harus berpegangan"suara Louise entah dari mana.
Naga yang awalnya terbang melewati kapal mulai mendekat keara Rachael yang masih berada di laut.
Lalu aku bisa melihat jelas sosok Louise dari dekat
Tepatnya di atas tubuh naga itu, Louise duduk tepat di kepala naga yang memiliki tanduk berwarna merah tua.
"Hahah Rachael kau sangat paya..."suara tawa Emily terdengar begitu riang bermain bersama Rachael dan Louise.
Aku memangku daguku sembarii melihat mereka bertiga yang bersenda gurau.
"Ku harap hari seperti ini akan berlangsung selamanya"ucapku tersenyum tipis melihat ketiga orang itu.
"Tuan karish?"ucap Areen yang masih berdiri di belakangku.
"Baiklah... Mari kita kunjungi suami pertamaku yang nakal itu sekarang"ucapku tersenyum lalu berbalik dari tempatku berdiri.
Kami berjalan kembali keara pintu kecil yang berada tak jauh dari ruangan ku sebelumnya.
Tepatnya sebuah pintu yang terdapat pada lantai kapal.
Saat pintu itu di buka terlihat beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu berwarna kecoklatan.
"Katakan kamar yang mana milik Laure..., aku akan pergi sendirian mulai sekarang"ucapku pada Areen.
"Laure berada di kamar paling ujung, jadi anda bisa pergi saja keujung lorong itu"ucap Areen tersenyum tipis.
"Aku mengerti "ucapku mengangguk.
Lalu menuruni tangga.
Setelah menuruni semua anak tangga itu aku di sugukan sebuah pintu yang terbuat dari baja dengan kaca transparan yang berada di tengah pintu.
Aku membuka pintu baja itu lalu masuk kedalam lorong yang cukup panjang.
Aku terus melangkahkan kakiku Dann menghitung pintu kamar yang kulewati.
Terdapat 5 pintu kamar dengan pintu yang saling berhadapan dengan jarak penyusunan yang berbeda
Karna pintu pintu tidakk benar saling berhadapan, setiap pintu sisi kanan akan berjarak 1 meter dengan pintu kamar sisi kiri.
Lalu aku sampai di pintu paling ujung, yaitu kamar keenam.
"Laure.. apa kau bangun?" Aku mengantuk pintu itu dengan lembut sebanyak 2 kali.
Namun tidakk ada suara yang terdengar.
Aku memegang gagang pintu dan pintu tidak terkunci.
Saat membuka pintu itu terlihat seorang pria berambut ungu tua yang terbaring di kasur dengan selimut yang menutupi sekujur badan kecuali wajahnya.
Pria itu terlelap begitu nyenyak, kantung mata yang di wajahnya juga terlihat begitu buruk dan nampak lebih gelap dari kulitnya yang sudah coklat.
Aku berjalan perlahan keara pria yang terbaring di kasur tanpa kewaspadaan itu.
"Tuan Karllan..."perlahan pria itu mengigau sembari membuka matanya sedikit.
"Ya.. aku disini, Laure"ucapku menjawab kata katanya .
"Tolong jangan perna tinggalkan saya lagi"ucap Laure yang tiba tiba duduk.
Tangannya memegang tangan kananku dengan cukup erat
Mata merahnya tampak begitu kalut, seolah dia masih terjebak dalam keadaan setengah sadar.
"Bagaimana jika aku meninggalkanmu?"tanyaku
Pria itu terdiam sembari mengarahkan wajahnya keara langit langit kamar lalu kembali memutar matanya kearaku.
"Jika anda meninggalkan saya lagi.."ucap Laure mulai bicara lalu berhenti di tengah tengah.
"Ya, apa yang akan kau lakukan?"tanyaku sembari menatapnya dengan lekat.
Perlahan tangan
"Saya akan membunuh anda, saya akan mengawetkan mayat anda didalam peti mati lalu saya akan menggorok leher saya tepat di samping mayat anda. Mencipratkan darah merah itu ke sekujur tubuh anda yang memakai kemeja putih mempertontonkan kalau anda hanyalah milik saya seutuhnya"ucap Laure menaruh wajahnya di telapak tanganku
"Itu terdengar seperti tindakan yang sangat tercela. Kau akan di anggap musuh oleh yang lainya jika kau melakukan itu"ucapku
"Saya tidak peduli"ucap Laure perlahan menjilat telapak tanganku.
"Karna saya adalah suami pertama anda...zzzz"
Setelah mengucapkan kata kata itu Laure kembali terlelap dalam tidur nyenyak nya,dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelangan tanganku.
Aku terdiam di ruangan yang senyap itu, lalu.
"Pffft hahahah" tawa lepas pun keluar dari mulutku.
"Membunuhku lalu bunuh diri disamping mayatku..."ucapku perlahan menyentuh rambut ikal Laure dengan tangan kiriku.
"Kau bisa melakukan itu jika aku meninggalkanmu Laure..."ucapku tersenyum tipis sembari terus membelai rambut ikal berwarna ungu tua itu.
"Tapi ya Laure, aku juga orang yang serakah sekali aku ingin memiliki sesuatu aku akan terus berusaha untuk mengambilnya bahkan dari siapapun. Namun jika suatu hari nanti kau berfikir untuk meninggalkan ku"ucapku mendekatkan wajahku ke wajah Laure.
"Sebelum kau membunuhku, aku akan bunuh diri tepat di matamu. Membuatmu merasa bersalah dan menghantui didalam mimpimu sampai kau benar benar putus asa lalu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri untuk menyusul kematianku"ucapku tersenyum.
"Jadi Laure... Jangan perna tinggalkan aku, karena aku adalah orang yang sangat serakah"ucapku mendaratkan kecupan di kening Laure.
"Emhh..."suara Laure terdengar seperti sedang menyaut dalam tidurnya.
"Haha... Kau sangat lucu bahkan saat kau sedang tidur"ucapku membuka selimutnya lalu masuk kedalam selimut itu.
Membuat diriku jatuh ke pelukan Nya yang hangat,
aku mencium pipi kanan Laure lalu berbisik dengan lembut tepat di telinga nya
"Mimpi yang indah suamiku..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
