Beberapa jam sebelum Louise pergi ke ibukota.
Tampak seorang pria berambut perak berdiri di kamar sembari menatap langit yang gelap.
"Tuan, saya sudah menjebloskan tuan muda ke dalam penjara"ucap seorang pria berambut merah mudah yang tampak berdiri tak jauh dari pintu.
Pria itu tampak berjalan mendekat kearah ku.
"Tuan, bisakah saya bertanya 1 hal?"tanya Aroon berdiri 2 meter dariku.
"Tentang?"tanyaku yang masih menatap langit dari jendela kaca.
"Apa anda berasal dari dunia lain juga, sama seperti kami?. Jika itu benar bisakah anda memberitahu anda berasal dari negara mana?"tanya Aroon dengan suara sedikit meninggi.
"Bukankah itu lebih dari 1 pertanyaan Aroon"ucapku perlahan menoleh pria itu.
Aku hanya menunjukan senyuman kecut tanpa arti.
Tangan kanannya perlahan terangkat seolah meraihku,
"Kau, karllan-kan"ucap pria itu sedikit terbata.
Aku tetap diam tak mengubah ekpresi wajahku.
"Malam ini benar benar gelap, yah"ucapku mengalihkan pandanganku.
Tap
Tap
Langkah kakinya mendekat.
"Karllan, itu kau kan"ucap Aroon meraih pundakku.
Dia memegang kedua pundakku erat.
"Kau karllan kan"ucap Aroon kembali dengan nada tinggi.
"Enyah kan tanganmu dari ku, Aroon"ucap ku dengan suara ketus.
Ketika mendengar kata-kata ku, Aroon tampak terdiam lalu melepaskan pegangan tangannya dariku.
"Ya itu tidak mungkin"ucap Aroon menatapku.
"Anak itu tidak mungkin mengeluarkan kata-kata kasar seperti mu"ucap Aroon dengan ekspresi masan.
Aku membenarkan has yang ku kenakan yang tampak menjadi kusut.
"Jika kau sudah mengerti, sebaiknya kau kembali ke kamarmu "ucapku
"Besok Heront dan rombongan yang dikirim ke wilayah Barat akan kembali membawa mayat Areen, jadi istirahat lah"ucapku menepuk pelan pundak pria berambut merah mudah yang tampak seperti bunga sakura tsb.
Pria itu mengangguk kecil.
"Saya permisi tuan"ucap Aroon lalu pergi meninggalkanku di ruangan itu sendirian.
Sekitar 20 menit kemudian
Tuk
Tuk
Terdengar suara ketukan dari pintu yang berjarak 10 meter dari tempatku berdiri.
"Tuan, ini saya" terdengar suara seorang pria dari luar pintu.
Suara yang terasa familiar dengan hangat.
"Masuklah Louise"ucapku yang masih berdiri di tempat yang sama.
Pintu terbuka dan tampak seorang pria berambut coklat yang mirip seperti daun kering .
Ia melangkah mendekat sembari membawa nampan keramik dengan teko teh bersamaan dengan cangkir teh yang tersusun rapih.
"Apa terjadi sesuatu antara anda dan Aroon, tuan?"tanya Louise menaruh nampan diatas meja kerjaku.
Ia lalu menyajikan teh dari dalam teko ke sebuah cangkir berwarna putih Indah.
Aroma lada tercium cukup pekat dari uap teh tsb.
"Apa kau sudah melakukan apa yang ku perintahkan, Louise?"tanyaku tak menjawab kata-katanya.
Louise menghela nafas panjang.
"Saya sudah mengembalikan mayat mendiang countess dari kapel tsb ke kediamannya di selatan"ucap Louise
"Lalu saya juga sudah memberikan kartu bisnis Laure kepada pangeran pertama melalui mata-mata saya."ucap Louise.
Aku mengangguk singkat.
"Apa Emily masih belum bangun?"tanyaku perlahan duduk di meja kerjaku.
"Untuk sekarang masih belum, namun nona Leamona terus menerus mengalirkan kekuatan sucinya kepada Emily sepanjang hari meskipun saya sudah melarangnya"ucap Louise sembari memegang dagunya.
Aku meraih cangkir teh tsb lalu menyesapnya perlahan.
Rasa lada yang pekat seolah-olah membakar tenggorokanku.
"Katakan padanya untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri"ucapku menaruh gelas ke atas tatakan teh.
"Saya mengerti, namun tuan"ucap Louise bertanya lagi.
"Ada apa?"tanyaku melirik keara pria yang tampak kebingungan itu.
"Mengapa anda membantu pangeran pertama, dan mengapa anda mengembalikan mayat countess. Bukankah akan lebih mudah jika langsung menyingkirkan mereka secara langsung?"tanya Louise masih menunjukan ekpresi kebingungan.
Aku tertawa kecil sembari menatap pria berusia 19 tahun yang tampak mencoba memikirkan hal sulit itu dengan otak anak kecilnya.
"Apa kau ingin mendengar rahasia kecilku, Louise?"tanyaku menyesap teh sembari tersenyum.
"Jika anda tidak keberatan menceritakannya, akan saya dengarkan dengan teliti, tuan"jawab louise bicara dengan suara lembut.
"sebenarnya tubuh ini bukanlah tubuhku, melainkan tubuh pria yang kita panggil Heront sekarang"ucapku melirik keara Louise.
Tak
Sontak nampan yang awalnya Louise pegang langsung terjatuh menghantam lantai.
"Hah?, tunggu apa maksud anda?"tanya Louise tampak semakin kebingungan.
Ekspresinya tampak semakin menarik ketika dia semakin terlihat kebingungan.
"Apa kau melihat angkat di atas kepalaku Louise?"tanyaku sembari menunjuk angin diatas kepalaku.
Louise mengangguk
"Bisakah kau memberitahuku angka berapa yang kau lihat?"tanyaku tersenyum lembut.
"Itu -0000"ucap Louise
"Bahkan ada minusnya yah"ucapku melipat kaki kananku diatas kaki kiri ku.
"Hm... Ya kau pasti sudah tahu bukan artinya, singkatnya aku sudah mati. Lalu aku masuk kedalam tubuh karllan vern Karish ini dan kemudian menggantikan karllan yang asli untuk mengambil tugasnya."ucapku bicara sembari tertawa kecil.
"Sebenarnya aku tidak memiliki rambut perak indah, tidak memiliki mata hijau layaknya permata, bahkan aku tak memiliki kulit seputih ini. Bahkan wajahku juga tidak setampan karllan yang asli"ucapku tertawa kecil.
Louise hanya diam mendengarkan kata kataku.
"Lalu, tuan. Bagaimana anda bisa mati?"pertanyaan itu keluar dari bibir yang bergetar sembari sedikit terbata.
"Apa anda meninggal karna sakit?, atau mungkin anda di sakiti orang lain?"tanya Louise menunjukan ekpresi khawatir.
Aku tersenyum kecil.
"Hmm kau salah Louise, aku membunuh diriku sendiri "ucapku menatap langit langit ruang kerjaku.
"A pa?!"
"Aku mengikatkan sebuah tali ke langit-langit ruang keluarga yang sebesar 5x4 meter, lalu kemudian aku melilitkan tapi tsb ke leherku dan gubrak ketika aku menendang kursi yang kupijak seketika tali itu mengencang. Aku merasa tercekik dan tersiksa kemudian perasaan panas dingin menjulur dari area kakiku. Lalu kemudian aku mati"ucapku menjelaskan kepada Louise dengan senyuman yang terpampang di wajahku.
"Ba-bagaimana anda bis-gubrak "tuan, Emily sudah sadar"tiba tiba suara keras Rachael menggemah bersamaan dengan pintu yang terbanting keras.
Aku tersenyum lembut kepada pria berambut merah yang berlari mendekat kearaku.
Tampak telinga serta ekor merahnya bergoyang-goyang senang tak terarah.
"Rachael, kau harus mengetuk pintu dengan lembut"ucap Louise menegur Rachael yang nyelonong masuk ketempat kami berada.
"Ma-maafkan aku tuan"ucap Rachael menghentikan langkahnya.
Tampak telinga dan ekor yang awalnya bergoyang menjadi layu dengan ekspresi anak anjing yang seakan ingin menangis.
"Tak apa Louise"ucapku tersenyum sembari menggerakkan jari tangan kiriku kedalam, seolah menyuruh beastmen itu mendekat kearaku.
Ketika melihat tanda dari tanganku, anak anjingku itu langsung menggerakkan kakinya dan mendekat kearah ku dengan senyuman lebar.
Rachael mendekat lalu menaruh kepalanya di pangkuanku.
"Jadi bagaimana dengan kondisi Emily sekarang?"tanyaku menepuk rambut merah yang tampak seperti buah apel tsb.
"Kondisi nona Emily sangat baik"ucap Rachael terus menggosokkan kepalanya ke pahaku.
Aku tersenyum singkat lalu mengambil sebuah amplop dari laci meja kerjaku.
"Louise, bisakah kau berangkat ke ibukota sekarang, jika prediksiku benar kemungkinan besar putra mahkota sedang berada di kuil utama sekarang. Misimu hanya 1 temui paus Zalcia dan berikan surat ini kepadanya"ucap ku menatap pria yang sedari tadi menunjukan ekpresi lembut di wajahku.
Pria yang sedari tadi menunjukan ekpresi cemas perlahan menghela nafas berat.
"Saya mengerti tuan"ucap Louise mengambil amplop tsb.
"Katakan juga pada paus Zalcia untuk berhati-hati kepada istana kerajaan,lalu..."ucapku menggerakkan jariku.
Louise menunjukan ekspresi kebingungan namun tetap mengikuti gerakan tanganku yang menyuruhnya mendekat.
Ketika dia semakin mendekat, tetap dalam posisi duduk aku menarik kerah pakaian Butler itu dan kemudian mendaratkan kecupan ringan di keningnya.
"Hati-hati "ucapku tersenyum.
"Ba-baik"ucap Louise terbata, tubuhnya tampak sedikit gemetar bersamaan dengan senyuman sumringah di wajahnya
"Ka-kalau begitu saya pergi dulu. Tuan"ucap pria itu tiba tiba membuka pintu balkon.
Perlahan angin dingin menerpa masuk, membuat poni Louise yang tadi di tata rapih ke atas menjadi acak-acakan dah menutupi sedikit area alisnya.
"Setelah saya kembali, tolong berikan saya ciuman lagi"ucap Louise menatapku.
"Akan kulakukan"ucapku singkat sembari sedikit mengedipkan mata kananku keara pria yang berdiri di ujung balkon.
"Saya mencintai anda, tuanku" pria itu tiba tiba melompat dari balkon lantai 3 dan berlari meninggalkan kediaman Karish.
"Padahal aku menyuruhnya untuk pergi menunggang kuda, tapi ya sudahlah"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasia"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
