84. pertengkaran sebelum badai

669 69 1
                                        

Malam itu terasa begitu dingin.
Suara guntur dan kilat yang terus menyambar membuat jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.
Hujan deras dan angin yang melanda seolah-olah akan merobohkan mansion yang sedang aku tinggali.

Mataku hanya tertuju pada seorang remaja laki-laki yang masih tak sadarkan diri terbaring di kasur lebar itu.
Walaupun darah dari dadanya yang berlubang sudah dihentikan dan di obati, namun hal itu tak dapat menghilangkan rasa cemas ku.

Rasa cemas itu juga semakin menjadi ketika orang orang yang kukirim tak kunjung kembali .
"Kakak..."aku menyentuh pundak seorang pria berambut hitam yang terus duduk di kursi bersebelahan dengan kasur.
Pria itu memiliki mata yang memerah, dia tampak begitu kacau.
"Emh?"dia hanya menjawab singkat sembari terus menggenggam jemari remaja itu dengan kedua tangannya.

Dia juga tampak begitu khawatir. Wajah yang tak asing itu menunjukkan ekpresi seperti sedang merasa bersalah.
Aku terdiam sesaat sembari memperhatikan ujung matanya yang sedikit bergetar.
Puk
Aku menyentuh rambut pria itu dengan lembut.
"Itu bukan salahmu kak"ucapku dengan wajah datar.
"Karllan!"ucapnya sembari mengangkat wajahnya kearaku.
"Apa kau pikir aku akan mengatakan itu?"ujarku sembari meraih leher tipis yang seakan bisa patah dengan mudah itu

"Jangan buat ekpresi wajah menjijikan itu, dengan wajahku"ucapku yang masih menghiasi lehernya dengan jemariku.
"Ekpresi wajah menyesal, memang apa yang akan berubah kalau kau menyesal?.  Apa anakmu akan langsung sembuh dengan wajah penuh penyesalan itu"teriakku semakin mencekiknya keras.

"Bukankah kemarin kau mampu mengembalikan waktu ketika kau mengubah Emily menjadi cincangan daging?,lalu  mengapa kau tidak melakukannya disaat anakmu sekarat karna di tusuk anakmu yang lain?. Apa kau tipe orang tua yang pilih kasih dan hanya mencintai anakmu yang lain?"tanyaku dengan nada sarkas.
"Cukup karllan"ucap nya yang tampak kesal.
"Emh? Mengapa apa semua yang aku katakan benar. Tuan Karllan Vern Karish ?"ucapku semakin sarkas.
"Sudah kukatakan cukup"teriak nya keras sembari menjatuhkan ke lantai.
Dia menindih kh dengan tubuh yang berukuran lebih kecil dariku.

Dengan kedua tangannya yang mencengkram leherku.
"Kau sendiri bagaimana?, kau juga mendesah dengan tubuhku dan membiarkan tubuhku di jelajahi oleh para priamu bukan?"teriaknya keras kepadaku.
"Kau bahkan membuka kakimu selayaknya seorang pelacur kepada para pria itu. Dan kau melakukan semuanya dengan tubuhku. Apa kau lupa itu karllan?"teriaknya semakin keras.

Aku bisa merasakan amarahnya yang seakan sudah meledak.
"Bukankah aku lebih terkesan menjunjung tinggi martabat sebagai seorang bangsawan karna tak perna membiarkan orang orang mengotori tubuhku dengan sperma laki laki yang tak jelas seperti dirimu"teriak nya sembari mencekik ku lebih keras.
Air liur perlahan mulai banjir keluar dari mulutku, ketika kerongkongan jalur oksigen ke paru-paru terhalangi oleh cengkraman erat itu.

Grab
Aku menggerakkan tangan kananku dan mencengkram wajah pria itu.
"Kalau aku pelacur lalu kau itu apa?, kau hanyalah ayah payah yang selalu meninggalkan anak-anak mu dalam asuhan pengasuh"teriakku keras
"Kau sendiri bagaimana, apa kau pikir kau adalah anak yang baik. Padahal ibumu langsung bunuh diri setelah beberapa hari melahirkan mu "ucap nya yang ikut mencengkram wajahku.

"Hah... Bukankah kau juga anak yang hanya. Apa kau lupa ibuku mati setelah sesaat kau lahir"teriakku keras
Entah mengapa dadaku terasa begitu berdebar, dan aku terasa begitu bersemangat.
Seolah-olah aku mampu mengatakan apapun bahkan jika kata-kata itu adalah rasa sakit orang lain sekalipun.

"Kau bahkan dikurung di ruang bawah tanah dan hanya memakan seekor tikus yang begitu menjijikan"teriakku keras.
"Cobalah bercermin, setidaknya aku dikurung di tempat yang cukup bersih. Tidak seperti dirimu yang di kurung dikamar sempit yang di penuhi oleh bau sperma dan sampah yang menyebar"teriaknya keras.
"Lalu kenapa? Kau bahkan tak perna mandi dan rambutmu terus memanjang . Akan ku katakan dengan jelas yah rambut panjangmu itu tampak begitu jelek dan kusut. Apa kau sedang mencoba bermain peran sebagai putri yang di bermimpi di selamatkan oleh seorang pangeran?"teriakku keras.

Eh? Apa yang barusan ku katakan.
Mengapa aku mengatakan rambut panjang, seolah-olah aku perna melihat rambut panjangnya.

"Kau sendiri bagaimana?. Kau juga tampak kotor dan menjijikan dengan lebam dan darah yang memenuhi tubuhmu. Kau hanya menangis bahkan ketika pamanmu memperkosa mu. Apa kau begitu menikmati penis pria hingga kau terus saja membuka LUBANGMU pada pamanmu?"teriaknya keras.
"Ya benar.... Aku menyukai penis pria, tapi apa kau lupa. Kau adalah orang yang sudah membantuku keluar dari tempat itu "teriakku keras.
"Apa maksudmu, jelas jelas kaulah orang yang membantuku.  Kaulah orang yang muncul tiba tiba dan membantuku keluar dari penjara itu"ucapnya keras padaku

"Tidak... Aku tidak melakukan apa apa, jelas jelas kakak lah. orang yang membantuku mengirim pamanku ke neraka. Dan kakak juga memasukan penis pria itu tepat di mulutnya sendiri agar dia tahu bagaimana rasanya"ucapku keras.
Entah mengapa kata kata yang tak ku mengerti terus mengalir keluar dari mulutku layaknya aliran air.
"Kau juga.... Bukankah kau sudah bekerja keras. Kau menyelamatkan harga diri Leamona, kau juga menjadikan para pria itu sebagai kekasihmu demi menegakkan keadilan untuk Leamona bukan"ucap dia keras sembari melepaskan cengkeraman nya dari wajahku.

"Tidak , kakak lah orang yang paling bekerja keras disini"ucapku membantahnya.
"Itu kau..."ucap nya.
"Tidak, itu kakakk"jawabku.

Dari balik pintu yang tertutup.
Tampak 2 pria yang sedang berdiri sembari bersandar di dinding.
Salah satu pria memiliki rambut berwarna hitam panjang yang di kepang satu kebelakang. . Pria itu berdiri dengan kedua tangannya terlihat kebelakang.
Pria itu tampak sedikit melihat ke sisi kirinya tempat seorang pria berambut coklat tua yang mengenakan pakaian pelayan itu.
"Jadi  sebenarnya mereka sedang berkelahi apa sedang saling memuji?"tanya pria berambut hitam panjang itu
Pria berambut coklat itu hanya mengangkat kedua tangannya sembari menggeleng pelan.
"Entah lah... Namun kau sudah tahu bukan apa yang harus kita lakukan sekarang?"tanya Louise menatap Renete.
"Emh, kau tak perlu mengatakan nya "ucap Renete hanya menunjukkan senyuman lembut di wajahnya.

Pria berambut coklat itu perlahan mengetuk pintu kamar itu.
"Tuan... Ini Louise. Saya mendengar suara keras. Apa ada sesuatu yang terjadi "tanya Louise
Ketika pintu perlahan terbuka.
Tampak 2 pria yang saling tersenyum dan saling pandang.
Walaupun kedua wajah mereka tampak sedikit terluka.

"Aku sudah tahu kalian berdua telah mendengar percakapan kami. Tapi bisakah kalian merahasiakannya dari semua orang?"tanya Heront sembari tersenyum.
"Emh tentu..."ucap Louise hanya mengangguk
"Pfft kakak, kau tampak menjijikan dengan senyuman itu. Tolong cepat kembalikan wajahku kembali"ucapku menarik wajahnya.
"Kau sendiri juga tampak menjijikkan, bisakah kau berhenti menunjukan tawa itu dengan wajahku"ucap heront sembari ikut menarik wajahku.

......
Tap tap terdengar langkah kaki yang mulai bergerak hengan hati-hati.
Kakinya terus melangkah dengan tergesa-gesa menuju tempat tujuannya.
Perlahan tangan terlihat dari kegelapan.
Tangan itu tampak cukup kasar dsn penuh dengan kapalan.
Seolah-olah tangan orang yang sudah bekerja dalam waktu cukup lama.

Perlahan tampak kalau tangan itu menaburkan bubuk aneh berwarna putih kedalam semangkuk sup yang terbuat dari kentang tsb.
Tangan itu juga tidak lupa memasukan sisa bubuk kedalam sebuah wine yang berada di nampan yang sama dengan semangkuk sup.

Ketika tangannya itu perlahan beranjak , sembari membawa nampan itu tampak sosok seorang wanita.
Brak
Suara nampan berisi yang terjatuh menggema begitu keras.
Tangan wanita itu ditarik keras sampai membuat nampan yang ia pegang terlepas.
Semua sup dan wine itu jatuh berceceran di lantai.
"Astaga maafkan saya"ketika wanita itu bersuara. Terdengar suara lembut yang menenangkan hati.
Dengan tergesa wanita itu mencoba membersihkan kekacauan itu dengan tangannya sendiri
Ketika tangannya hendak mengambil pecahan mangkuk kaca, tampak sepatu kulit berwarna hitam berdiri tepat di samping telapak tangannya.
"Meskipun sudah banyak yang berubah, ternyata pengkhianatan mu di game masih oh tetap terjadi..."ucap pria yang berdiri tepat di hadapan pelayan

"Pada awalnya aku mengira scene ini akan Menghilang karna kami sudah masuk Kedalam game ini.  Tapi ternyata semua itu salah"ucap pria itu perlahan berjongkok.
"Jadi ingin kau berikan kepada siapa makanan beracun itu?. Tuan Karllan, tuan Heront atau mungkinkah tuan Trance?"tanya pria berambut merah mudah itu bertatapan dengan pelayan itu.
"Bisakah kau mengatakan nya padaku, nyonya bina?"
Bina itu kepala pelayan yang sudah berkerja di kediaman Karish bahkan sebelum karllan lahir.

....
Maaf yah, aku gak tau kenapa aplikasi note aku ngelag banget. Dari tadi ngetik hilang Mulu. Kadang terkeluar dan pas masuk lagi Uda ilang.
Dari jam 5 kagak selesai selesai 😭😭.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang