"Arshan, apa mereka mengancam mu?"tanya Renete bertanya sembari terus memegang dadanya.
"Pffft hahaha, apa sekarang anda berfikir aku melakukan ini karna keluargaku atau diriku terancam?"tanya Arshan tertawa keras.
"Lalu mengapa kau melakukan ini Arshan?, kau bukanlah orang yang akan melakukan seperti ini"teriak Renete keras.
"Hahaha sepertinya kemampuan berperan sebagai anak baik saya benar benar berhasil mengelabuhi anda"ucap arshan tertawa keras
Srrrt.
Dia menghentikan tawanya lalu memandang Renete dengan wajah datar.
"Akan ku katakan dengan jelas sekarang karna kau juga akan mati."ucap arshan tampak dengan wajah bosan.
" semua ekspresi, kepribadian serta tingkah laku yang selalu ku perlihatkan kepadamu selama 6 tahun ini hanyalah tipu dayaku hingga aku bisa menipumu, pendeta Renete "ucap Arshan tersenyum lalu menyingkapkan rambut berwarna hijau mudah itu.
Membuat poni yang menutupi jidatnya menjadi terangkat dan terlihat sebuah bekas luka bakar berbentuk salib yang begitu besar di dahi nya.
"Luka itu?, apa masih terasa sakit?. Bekas luka nya begitu besar"ucap Renete yang tampak khawatir.
"Pffft?, apa ini? Apa kau sedabg mengkhawatirkan ku dalam keadaan seperti ini?"tanya Arshan tertawa tak percaya.
"Aku harus berterima kasih padamu, karna berkat kekuatan sucimu tadi. Rasa sakit yang kutahan bertahun tahun karna luka ini benar benar menghilang"ucap Arshan tersenyum
"Bekas Lukanya masih sangat besar, jika aku memakai kekuatan suci ku sedikit lagi kemungkinan besar aku bisa menghilangkan bekas luka itu"ucap Renete yang tampak khawatir melihat Arshan.
Srrrt
Renete berdiri dengar tertatih dari posisi berjongkok itu.
"Arshan, biarkan aku menyembuhkan luka mu"ucap Renete yang berjalan sembari menunjukkan tangan kirinya.
Pria berkulit coklat itu berjalan dengan perlahan, meski darah terus mengalir dari dadanya.
Wajahnya terlihat begitu pedih saat melihat bekas luka milik Arshan.
Craaawt
Tiba tiba pedang bergerak dengan cepat, pergelangan tangan Renete langsung terputus.
"Aghkkk..."teriakan Renete terasa begitu sakit.
Darah terus mengalir dari pergelangan yang terpotong itu.
"Apa yang kau lakukan tuan pendeta, cepat gunakan kekuatan sucimu. Dengan luka kecil ini kau pasti bisa menghentikan darah yang keluar itu kan"ucap arshan tertawa sembari menendang telapak tangan Renete cukup keras sampai benda itu terlempar tak tahu kemana.
"Ughhkkk...."Renete meringkuk sembari memegang tangannya yang terus mengeluarkan darah.
Brak
Tendangan begitu keras mengenai wajah Renete.
Renete hanya terdiam sembari mencoba menghentikan darah yang terus mengalir dengan cara memegang bagian pergelangan tangannya.
"Emh?"arshan merasa kebingungan melihat pria di hadapannya yang tak melawan sedikitpun.
Renete memiliki tubuh yang lebih tegap dan besar dari arshan, namun pria itu sama sekali tak membalas tendangan Arshan yang bisa ia balas dengan mudah.
"Apa kau sudah mati?"ucap Arshan kebingungan lalu berjongkok di hadapan Renete yang terduduk di tanah.
"Ternyata kau belum mati"ucap arshan tertawa melihat Renete yang masih membuka matanya.
Renete perlahan menggerakkan tangan kanannya nya, ia menyentuh dahi Arshan dengan lembut.
"Rasanya pasti sakit kan, aku akan menyembuhkannya untukmu"ucap Renete yang menitikkan air matanya.
Cahaya berwarna hijau alpukat yang begitu terang muncul dari telapak tangan Renete.
Cahaya itu begitu terang dan hangat, dalam sekejap luka di dahi Arshan menghilang tanpa tersisa sedikitpun.
Renete memiliki kekuatan yang begitu besar, ia juga memiliki tubuh tinggi yang tegap, ia juga memiliki kemampuan bela diri dan berpedang yang terbilang lebih kuat dari Arshan.
Namun dia sama sekali tak membalas pengkhianatan yang dilakukan Arshan kepadanya, dia bahkan mengeluarkan kekuatan suci terakhirnya untuk menyembuhkan bekas luka Arshan daripada lukanya sendiri.
Dia tidak bodoh, dia hanyalah seorang pria yang penyayang.
Yang menyayangi ajudannya melebihi perasaan sayang nya kepada tubuhnya sendiri.
Layaknya seorang kakak, layaknya seorang ayah dan layaknya seorang guru.
"Sekarang ketika kau di angkat menjadi pendeta resmi, para wanita akan mulai bergosip tentang ketampanan mu"ucap Renete tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasía"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
