"begitukah, areen sudah wafat"ucap Laure sembari melipat kembali surat di tangannya.
"Ziva, segera kirimkan bunga pemakaman ke Utara. Walaupun kita tak bisa datang setidaknya kita masih harus berkabung"ucap Laure kepada wanita berambut merah itu.
"Okie"jawab ziva sembari menunjukan tanda oke dengan jarinya kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Haaah"suara desahan nafas Laure terasa lebih berat dari biasanya.
Dia menyandarkan tubuhnya di sofa lalu mencubit pangkal hidungnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, tuan?!"
......
Di tempat lain,
Didalam sebuah ruangan, tampak banyak rak rak berisi buku buku tebal nan berdebu.
Tampak seorang pria parubaya yang tampak sudah beruban duduk di sebuah kursi dengan tumpukan kertas di meja kerjanya. Jemarinya terus bergerak menulis di atas kertas yang tampak penuh dengan kalimat.
Sebuah mahkota berwarna emas terlihat berkilau di atas kepalanya.
Kumis serta Janggut berwarna abu-abu menghiasi setengah bagian wajahnya.
Bibirnya tetap rapat, matanya bergerak kesana kemari membaca tumpukan kertas di hadapannya dengan cermat.
Di sisi kanannya berdiri juga seorang Butler tua yang memegang sebuah nampan berisi teko, Butler itu tampak rapih dengan tuksedo hitam yang mengkilap.
Ia mengenakan sebuah monokel yang bergagang perak dengan tali yang menggantung di telinganya.
Suasana diruangan itu begitu senyap, hanya ada suara goresan ujung pulpen bulu yang bergesekan dengan kertas kasar tsb.
"Ayahanda tolong izinkan saya menggunakan pasukan!"ucap seorang pria yang tiba tiba menerobos masuk.
Jemari raja terhenti, matanya perlahan mendongak melihat seorang pria yang tadi berteriak.
Pria itu memiliki rambut berwarna emas bak matahari itu, warna matanya juga tampak indah mirip seperti warna laut yang biru.
Sang raja perlahan mengangkat jari telunjuknya sedatar dengan bahunya.
Tak lama kemudian Butler tua yang tadi terus berada disisi raja perlahan beranjak pergi keara pintu.
"Jika anda membutuhkan bantuan, tolong panggil saya kembali. Yang mulia"ucap Butler itu lalu keluar dari pintu.
Suara guratan ujung pulpen terdengar kembali bersamaan dengan jemari raja yang kembali bergerak lincah.
"Apa yang kau pikirkan, Dargon?. Pasukan kesatria bukanlah mainanmu"ucap raja kembali sibuk dengan dokumennya.
"Ayahanda tolong tegakan keadilan untuk saintess Giselle"ucap Dargon.
"Apa yang terjadi pada beliau?"tanya raja
"Dia terluka karna penyihir gelap"ucap Dargon keras.
Tangan raja kembali berhenti.
"itu mustahil Dargon, penyihir gelap sudah lama menghilang dari kekaisaran. Selain itu mereka sudah dimusnahkan sejak kepemimpinan kakek moyangmu jadi tidak mungkin penyihir gelap akan muncul kembali"ucap raja menatap pria setinggi 175 cm itu.
"Tapi ayahanda, tubuh saintess Giselle memantulkan kekuatan suci dari paus zalcia. Bahkan paus sendiri berkata kalau saintess terkena dampak karna diserang oleh orang yang mendalami sihir hitam"ucap Dargon mendekat keara meja kerja raja.
Raja tampak mencelupkan pulpennya kembali dalam botol tinta.
"Aku yakin ini pasti karna ulah Duke Karish ayahanda "ucap Dargon menggebrak meja dihadapan ayahnya.
"Apa yang membuatku begitu yakin akan hal itu, Dargon?"tanya raja menatap Dargon dengan lekat
"Bukankah anda mendengar sendiri ramalan paus setengah tahun lalu tentang iblis berambut perak, bukankah anda tahu sendiri orang orang yang memiliki rambut perak hanyalah keturunan Duke Karish yang hanya ada di Utara. Selain itu sebelum kejadian penyerangan tsb Trance,Reeves beserta saintess Giselle melakukan perjalan ke Utara."ucap Dargon mulai menjelaskan.
Raja hanya bungkam sembari mendengarkan setiap kata-kata yang di ungkapan oleh Dargon.
"Trance dan Reeves sama sekali tak ada kabarnya sedangkan saintess Giselle kembali dengan kondisi tak sadarkan diri dan penuh luka. Bukankah semua ini terasa sangat janggal seolah-olah ada seseorang yang menginginkan 3 orang itu mati"ucap Dargon dengan wajah serius.
"Kalau dia ingin membunuh saintess aku masih bisa menerimanya tapi apa kau lupa Trance dan Reeves adalah tuan muda keluarga Karish. Tidak mungkin dia akan melukai anak anaknya sendiri"ucap raja sembari mencubit pangkal hidungnya.
"Tidak, kau salah ayahanda. Saya perna mendengar cerita dari tuan muda Trance kalau Duke Karish sejak awal ingin menjadikan anak bungsunya sebagai kepala keluarga selanjutnya. Dan anda tahu sendiri bukan kalau seorang wanita tidak bisa menjadi kepala keluarga kecuali memang tidak ada saudara laki-laki ataupun kerabat lainnya. Dan anda tahu sendiri garis keturunan keluarga Karish berakhir di anak bungsunya"ucap Dargon.
Raja terdiam sesaat, dia menghela nafas berat.
"Aku mengerti, tapi aku tak bisa memberikanmu pasukan, Dargon"ucap raja
"Mengapa ayah?, bukankah melukai saintess termasuk dosa besar?"tanya Dargo.
"Aku mengerti maksudmu Dargo, tapi kau tak memiliki bukti. Aku tidak bisa asal memberikan pasukan padamu tanpa ada bukti jelas"ucap raja memegangi kepalanya.
Mendengar hal itu, wajah Dargon tampak memerah karna Amarahnya yang memuncak.
"Saya akan mengumpulkan buktinya dan segera kembali kepada anda, yang mulia"ucap Dargon berbalik lalu melangkah keara pintu.
"Dargon"suara raja muncul kembali.
Tangan Dargon yang sedang memegangi gagang pintu tampak terhenti.
"Tambahkan dosis racun untuk abel, aku hanya ingin mengatakan itu"ucap raja kembali menatap dokumen.
"Saya mengerti"jawab Dargon membuka pintu.
Seketika pintu terbanting keras.
"Haah anak egois itu benar-benar "ucap raja meremas keningnya yang berkerut.
"Anda tampak begitu lelah yang mulia, apa perlu saya ambilkan teh?"suara wanita yang terdengar lembut muncul dari bawah meja.
Raja yang tadinya datar perlahan tersenyum.
Tangannya bergerak lalu menyentuh seseorang yang sedari tadi sedang bersembunyi di bawah meja itu.
Tampak seorang wanita berambut pirang bergelombang, matanya tampak berwarna emas indah.
Wanita itu tampak begitu menikmati kegiatannya.
Cairan mani tampak memenuhi area bibirnya yang berwarna merah.
"Bagaimana menurutmu, zalcia?"tanya raja kepada paus zalcia yang sedang sibuk memainkan alat vital raja.
Perlahan jemari zalcia bergerak keatas, lalu ia naik keatas tubuh pria berusia 58 tahun tsb.
"Jika anda ingin saya menghancurkan wilayah Utara saya akan melakukannya dengan senang hati tuan"ucap zalcia tersenyum sembari mengangkat rok panjangnya.
Dia lalu mengarahkan penis berwarna gelap itu masuk kedalam vaginanya.
"Hmm... Bukankah ada adikmu disana?, kalau tidak salah namanya Emily kan?"tanya raja menekan tubuh paus zalcia.
"Anghhh... Hahah, dia bukan adikku yang mulia"ucap paus zalcia mulai bergerak diatas raja.
"Hm benar"raja tersenyum tipis.
"Dia hanyalah adik yang memiliki setengah darah dari klan mu. Kau bahkan membunuh seluruh klan mu demi diriku, tapi akhirnya kau malah menyelamatkan seorang naga kecil dan menjadi kakaknya?"ucap raja.
"Aku membenci para tetua kolot itu, mereka teru s mencoba memisahkan kita hanya karna kita memiliki ras berbeda. Jadi karna angh hal itulah aku mmh membunuh mereka. Anghh"wanita itu terus bicara sembari mendesah disaat bersamaan.
"Tapi tuan, saya sudah melihat anda sejak kelahiran anda. Kita sudah saling mencintai sejak anda berusia 15 tahun. Tapi mengapa anda akhirnya malah menikahi seorang wanita lain. Bukankah itu sangat jahat?"ucap zalcia menarik kerah baju raja.
Pria itu tersenyum lalu mengangkat tubuh zalcia dan meletakkan nya diatas meja.
Tumpukan kertas yang berdiri koko jatuh memenuhi lantai.
"Tapi kaulah wanita yang satu-satunya kucintai, Zalcia"ucap raja saling berdekap.
Desahan demi desahan, hentakan, dan deret meja terdengar cukup kencang.
....
"Apa kau mendengarnya dengan jelas?, Emily?"seorang pria berambut perak tampak duduk di sofa sembari membelakangi 2 orang.
Salah satunya adalah pria berambut merah muda dan yang satunya adalah wanita berambut merah Ruby sebahu.
Suara desahan terus terdengar dari arah gelas wine berisi air putih tsb.
(Kekuatan siren: bisa memata-matai suara musuh dari jauh selama di tempat musuh memiliki air walau hanya setetes).
"Saya mendengar semuanya, tuan"ucap Emily dengan wajah tegap.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"tanya karllan berdiri dari sofa dan berbalik menatap kedua orang di hadapannya.
Mata emas wanita itu menatap mata karllan dengan tegap, meskipun bibirnya tampak bergetar dengan jemari yang tampak gusar.
Wanita itu Akhirnya mengungkap kan kata-katanya setelah berselang 2 menit terdiam.
"Saya akan melakukan apapun, yang anda perintahkan tuan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasía"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
