Beberapa jam sebelum kejadian.
di sebuah kamar di lantai 1.
Tampak seorang pria berambut ungu tua duduk di sebuah kursi sembari menatap pria berambut merah yang terbaring dengan lemas.
Tampak lingkaran hitam begitu tebal terpampang lebar di area matanya.
Dengan mata yang memerah pria itu sedikit menggosok matanya yang tampak berat dengan lengan pakaiannya.
Tap
Tap
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Bagaimana kondisi Rachael?, apa dia baik baik saja?"tanya Louise yang membawa sebuah nampan berisi bubur.
"Aku ragu hal ini bisa di katakan baik baik saja"ucap Laure sembari meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Apa maksudnya itu?"tanya Louise menaruh bubur di atas meja di samping Laure.
"Sejak semalam dia muntah dan selalu mengeluhkan bau busuk yang menyengat, walaupun aku sudah meminta Anne membawa lilin aromaterapi, namun aroma busuk itu masih tetap mengelilingi nya"ucap Laure bicara tenang.
"Aroma busuk apa sebenarnya itu?"ucap Louise berfikir.
"Entahlah, bagiamana dengan kondisi Emily?. Apa dia sudah bangun?"tanya Laure menoleh sedikit keara Louise yang berdiri tepat di sampingnya.
"Keadaan tubuhnya normal, namun beliau sama sekali belum menunjukan tanda tanda akan bangun"ucap Louise.
"Mhhnn, begituka"ucap Laure memegang keningnya.
Alisnya tampak berkerut dengan kulit yang berwarna agak kepucatan
"Laure, sebaiknya anda beristirahat terlebih dahulu"ucap Louise
"Emh, mengapa?"tanya Laure bertanya.
"Anda tampak begitu lelah, serta respon anda juga menjadi lebih lambat dari biasanya. Anda belum tidur sejak tuan pingsan, bahkan. Dan hal itu pasti akan membuat tubuh anda hancur perlahan"ucap Louise dengan nada datar.
"Emh, benar juga. Aku belum tidur sejak hari itu"ucap Laure berfikir.
"Bisakah Aku menyerahkan Rachael padamu?"tanya Laure sedikit tertawa.
Louise mengangguk pelan.
Laure berdiri sembari menunjukan senyuman.
Sraak
Tiba tiba Laure mengajak ngajak rambut di kepala Louise sampai semua rambut Louise berdiri.
"Jangan terlalu memaksakan diri, adik kecil"ucap Laure tertawa mengejek.
"Tolong singkirkan tangan anda sebelum saya menghancurkannya"ucap Louise bicara dengan begitu datar.
"Baik baik"ucap Laure meninggalkan kamar itu.
Laure berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
"Ayah Laure?"perlahan terdengar suara Leamona dari belakangnya.
Ketika matanya berbalik tampak seorang gadis berambut perak yang tampak begitu cantik berdiri disana dengan gaun elegan.
"Leamona?, ada apa?"tanya Laure menanggapi kata kata Leamona.
"Ayah Laure, apa anda baik baik saja?"tanya Leamona perlahan mendekat.
Wajahnya tampak begitu khawatir saat melihat wajah Laure yang cukup pucat.
"Wajah anda tampak begitu pucat, apa anda sakit. Apa saya perlu memanggil dokter?"tanya Leamona menunjukan wajah khawatirnya.
"Mhhm, ini bukanlah masalah. Aku hanya perlu tidur"ucap Laure tersenyum manis.
"Namun wajah anda tampak begitu buruk, ayah. Sebenarnya sudah berapa lama anda tidak tidur?"tanya Leamona.
"Itu...."ucap Laure memalingkan wajahnya keara lain.
"⁵ hari" disini Laure bilang 5 nya itu kecil banget dan kata harinya baru suara normal.
"Apa yang anda katakan, saya tak bisa mendengarnya. Jadi berapa lama anda tidak tidur?"ucap Leamona kebingungan.
"Li—ma hari"ucap Laure memalingkan wajahnya.
"5 hari?!, HAH APA AYAH GILA?"tanya Laure berteriak keras sampai membuat beberapa pelayan melihat.
"Tolong jangan teriak, kepalaku pusing"ucap Laure memegang kepalanya.
"Ekhem, maaf... Tapi bagaimana bisa ayah tidak tidur selama 5 hari. Apa ayah Laure ingin mati dan membuat ayah menjadi duda?"tanya Leamona tampak kesal.
"Jangan khawatir nak, sekalipun ayah Laure mu ini menjadi hantu. Aku hanya akan terus mencintai ayahmu. Karna hanya kaki ayahmu yang bisa membuatku terangsang"ucap Laure tiba tiba menunjukkan jari jempolnya.
"Aku sangat ingin menamparmu sekarang, ayah Laure"ucap Leamona tampak sangat kesal sembari mengangkat tangan kanannya.
"Kalau kau menampar ayahmu ini, aku akan mengadu kepada tuan"ucap Laure mengejek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
