105. Sisi kami

68 11 0
                                        

baiklah, saya mengerti. Jadi tolong bangunlah dari sana"ucap Laure tampak memegang kepalanya.
"Terima kasih, tuan Laure"ucap pangeran Rosseh tersenyum.
Lalu perlahan dia bangkit dari lantai.
"Tak perlu berterima kasih padaku, saya juga akan mematok harga yang sesuai dalam kasus ini"ucap Laure tertawa licik.
"Tak masalah, saya takkan komplain dengan harga yang akan anda lontarkan"ucap pangeran Rosseh.

Laure tampak tertawa, namun seketika tawanya hilang.
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
lalu memangku dagunya dengan tangan kanannya.
"Namun... Mengapa anda baru mulai mencari obatnya sekarang, bukankah gejalanya sudah terlihat sejak lama?"tanya Laure menatap pangeran Rosseh.

"Sebelumnya saya memiliki obat untuk menekan gejalanya, namun beberapa waktu terakhir obat tersebut mulai tak menunjukan perbedaan"ucap pangeran Rosseh.
"Obat?, dari mana anda mendapatkannya?."tanya Laure.
"Aku mendapatkannya dari kuil"jawab pangeran Rosseh singkat.

Laure terdiam sejenak sembari berfikir.
"Apa anda masih memiliki obat tersebut tuan?"tanya Laure.
"Aku tak memilikinya sekarang, tapi..."pangeran Rosseh terdiam.
Lalu kemudian dia mulai meronggo kantung jasnya.

"Sepertinya aku belum membuang botol obat yang kemarin, dapat!"ucap pangeran Rosseh lalu mengeluarkan botol kaca seukuran ibu jari.
Laure mengambil botol kaca tsb lalu mulai menggoyang-goyangkan nya sedikit keara lampu.
Tampak bekas warna biru yang samar berada didalam botol kaca tsb.

Dia membuka tutup kayu dari botol tsb lalu aroma manis perlahan keluar dan mulai bercampur dengan udara.
Aroma itu di dominasi oleh aroma susu sapi segar, tapi ada campuran aroma lain yang sedikit amis yang tercium dari sana.

Tangan Laure bergerak keara meja lalu mulai mengacak-acak kertas yang berada di atas meja.
Dia memilah lembaran lembaran itu dengan teliti.
Lalu
Tangannya berhenti bergerak.
"Ternyata benar"ucap Laure bergumam.
"Ada apa?"tanya pangeran Rosseh.
"Aku hanya menemukan jawaban dari pertanyaan di kepalaku sendiri"ucap Laure menatap pengeran Rosseh.

Pangeran Rosseh tak berbicara sedikitpun, ia hanya menatap Laure dengan tatapan bingung.
"Awalnya aku sempat tak percaya kalau racun Albania mampu membuat kondisi adik anda separah itu, tapi setelah melihat botol ini aku akhirnya mengerti"ucap Laure menjelaskan.

"Racun Albania memang termasuk racun lemah dan gejala paling parah hanya akan membuat gatal-gatal dalam waktu beberapa jam saja. Namun kasus itu akan berbeda jika ada racun lain yang menyerang tubuh korban dari dalam"ucap Laure menaruh botol kaca transparan itu di atas meja.

"Maksud anda!"ucap pangeran Rosseh tersentak
Laure mengangguk singkat.
"Ya bisa di bilang adik anda sudah di racuni"jawab Laure singkat.

"Siapa bajingan itu!"pangeran Rosseh tampak mulai mencengkram kedua lututnya dengan keras.
Wajahnya memerah karna di penuhi Amarah.
"Jika di hitung dari waktu yanga anda sebutkan sebelumnya, hmmm... Lebih baik anda segera menyiapkan peti mati. Karna dia bisa saja mati dalam waktu kurang dari sebulan "ucap Laure sembari menatap pria yang ada dihadapannya.

"Apa tak ada penawar untuk 2 racun itu tuan Laure?"tanya pangeran Rosseh menatap Laure dengan wajah yang begitu putus asa.
"Haaah... Bukan tidak ada, tapi memang sulit untuk didapatkan. Buah berri putih yang merupakan penawar racun Albania saja begitu sulit didapatkan, apalagi dengan penawar dari racun Kelabang merah "ucap Laure sembari memegang kepalanya.

" jika itu racun dari Kelabang merah, memang mustahil. Dimana kita bisa mendapatkan susuk naga di kekaisaran ini"ucap pangeran Rosseh menggenggam kedua tangannya lalu perlahan menutupi wajahnya dengan tangannya.

"Yang ku maksud mustahil tsb bukan sisik naganya, tapi bahan baku lainnya"ucap Laure sedikit memijat dahinya.
"Bahan baku lainnya?, bahan apa yang anda maksud?"tanya pangeran Rosseh masih dengan wajah tegang.
"Darah dari beastmen ular hitam, setelah kejadian pembantaian terhadap bangsa beastmen ular, meskipun masih ada yang lolos dari pembantaian mereka pasti bersembunyi di suatu tempat yang tak bisa di temukan"ucap Laure

"Soal itu seharusnya tidak masalah tuan Laure, anda bisa menggunakan darah saya sendiri"ucap pangeran Rosseh tiba tiba.
"Hmm... Apa maksud anda?"tanya Laure menoleh keara pria berambut merah itu.
Wajah yang tadinya hanya menunjukan keputusasaan tiba tiba menjadi bersinar.

"Karna aku memiliki darah ras beastmen ular hitam yang mengalir dalam tubuhku ini. Aku memang tak mampu mengubah wujudku menjadi seekor ular, tapi aku yakin darahku masih berguna"ucap pangeran Rosseh

"Saya akan memberikan sebanyak apapun yang anda inginkan"ucap pangeran Rosseh menjulurkan telapak tangannya.
Lalu dia menggores telapak tangannya dengan belati yang ia miliki.

Crss
Darah berwarna merah pekat mulai mengalir keluar dan jatuh kedalam cangkir teh yang sudah kosong tsb.
Darah itu hampir mencapai setengah gelas lalu perlahan berhenti mengalir, luka gores yang awalnya berada disana juga seketika menghilang.
"Jika ini masih kurang saya akan memberi anda lagi"ucap pangeran Rosseh mengangkat bila belatinya lagi.

"Untuk sekarang,itu sudah cukup"ucap Laure.
"Saya akan mencoba mendapatkan berri putih itu, jadi mungkin obat itu akan selesai dalam seminggu"ucap Laure
"Benarkah?!, kalau begitu berapa harga yang anda inginkan untuk bayarannya?"tanya pangeran Rosseh terlihat sumringah.

"Alih alih dengan uang, saya ingin memilih opsi lain sebagai bayaran"ucap Laure
"Lalu apa yang anda inginkan?"tanya pangeran Rosseh.

Laure yang awalnya mencondongkan tubuhnya kedepan merubah posisi tubuhnya menjadi tegap.
Kakinya yang sebelumnya terlipat diturunkan dan menjadi posisi sejajar.
Lalu menatap mata pangeran Rosseh dengan seksama.

"Saya ingin anda berdiri di sisi kami, pangeran pertama kekaisaran, Rosseh Von lilithe. "ucap laure dengan suara lantang.
Mata yang awalnya menatap biasa saja tiba tiba menajam, pangeran Rosseh mengeluarkan tatapan seolah-olah akan membunuh orang di hadapannya.
"Jika aku menolak, apa kau tidak akan memberikan obat itu padaku?"tanya pangeran Rosseh.

"Hahah, tenang saja yang muliah... Sekalipun anda menolak, saya tetap akan memberikan obat tsb dalam waktu seminggu."ucap Laure tertawa
"Aku mengerti"ucap pangeran Rosseh lalu berdiri

"jika suatu hari nanti anda ingin menjauhkan adik anda dari hiruk-pikuk kekaisaran. Serikat dagang Laukar' siap menampung adik anda untuk masa pemulihan. Lalu nama Laukar' sendiri adalah singkatan dari Laure karllan yang artinya serikat dagang ini adalah serikat dagang milik kediaman Duke Karish yang sedang anda coba runtuhkan tsb"ucap Laure sembari tertawa kecil.

Pangeran Rosseh tetap bungkam dan hanya melangkah keara pintu.
"Lalu.. ini hanya sekedar saran dari saya, anda harus segera memutuskan untuk memilih pihak yang mana yang mulia. Karna anda pasti tahu kalau permaisuri serta pangeran kedua sedang merencanakan pembunuhan adik anda. "Ucap Laure
Langkah pria itu terhenti.

"Jika anda berfikir untuk memintah perlindungan dari raja anda hanya akan membuang waktu saja, karna raja sudah mengetahui hal ini dari lama.
lalu ini adalah hadiah untuk anda karna telah berbelanja kepada kami."ucap Laure berdiri.
Dia melangkah mendekat keara pangeran Rosseh.

Tubuh Laure tampak sedikit lebih tinggi dari pangeran Rosseh.
Laure mendekat lalu berbisik singkat di telinga pangeran Rosseh.
"Yang mulia Ratu tidak mati karna kebetulan"

Mata merah pria itu seketika melebar lalu menoleh keara Laure dengan cepat.
"Hati-hati di jalan yang mulia, semoga anda bisa memahami kemurahan hati kami"ucap Laure tersenyum lebar.
Tanpa banyak bicara pangeran Rosseh langsung pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Laure disana sendirian.

Tak lama setelah pangeran Rosseh keluar, suara langkah cepat terdengar dari luar.
"Tuan..."ucap ziva yang menerobos ruangan tanpa pintu itu lagi.
"Ada apa ziva?"tanya Laure melihat ziva yang tampak terengah-engah.
"Anda mendapatkan surat dari beliau"ucap ziva menunjukan amplop putih dengan d gel lilin berwarna Lilac, tampak lambang bunga lavender berada di tengah lilin.

"Pengirim surat berpesan anda harus segera membacanya ketika surat itu sampai, bahkan jika ada seorang tamu sekalipun"ucap ziva bicara cepat
"Terima kasih ziva"ucap Laure meraih amplop tsb dari tangan ziva.
Laure tampak membuka segel surat dengan cepat dan membaca selembar kertas yang berada didalamnya.

Lalu matanya tampak melebar.
"Jadi begitu!"ucap Laure
"Ada apa tuan?"jawab ziva yang masih berada di samping Laure.
"Areen telah wafat!"

___
Kok WP akhir akhir ini ngeselin sie?, draf aku 5 kali ilang Mulu padahal Uda di simpan Mulu. Jadi gak mood aku aaghhhhkk, di update Uda mau di apain lagi ini

Btw makasih semuanya yang selalu setia nunggu

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang