"Dan kalian berdua?"ucap Louise sembari melihat trance dan Reeves secara bergantian.
"Hanya demi gadis ini, kalian sampai melupakan orang tua kalian sendiri?"tanya Louise.
"Bukankah kata kata ' tempat ini akan menjadi milikmu nanti' itu terdengar begitu konyol"ucap Louise terkekeh mengejek.
"Diam, kau sama sekali tidak tahu apa apa"teriak trance keras sembari berdiri.
Dia menaikan nada suaranya kepada Louise, menatap Louise dengan tajam sembari memegang tenggorokan nya yang masih merasa terbakar.
"apa kau tahu penderitaan bagaimana yang perna di lakukan pria itu kepada kami"teriak trance menunjukku yang masih duduk.
"Apa kau tahu kalau dia sudah membunuh ibu kami di hadapan kami sendiri, dia memukul ibu kami sampai ibu kami mati. Apa kau tahu hal itu"teriak trance keras.
"Tidak tahu"ucap Louise menaikan alis kanannya.
"Karna yang ku tahu adalah kebenaran kalau sebenarnya ibu kalianlah yang sudah meninggalkan tuan demi mengejar pria lain yang akhirnya mencampakkan nya"ucap Louise dengan elegan tanpa sedikitpun berteriak.
Grub tangan trance menarik pakaian Louise dengan kencang.
"Apa yang kau katakan tentang ibu kami sialan padahal kau tidak tahu apa apa"teriak trance sampai air liurnya menyembur mengenai wajah Louise.
"YANG TIDAK TAHU APA APA ITU ADALAH KAU SIALAN"teriak Louise membanting tangan trance keras.
"Ap kau—"hentikan trance"teriak Reeves tiba tiba bersuara di tengah ketegangan itu.
"Reeves kenapa kau hanya diam saja mendengar bajingan ini terus mengoceh tentang ibu kita yang sama sekali tak benar"teriak trance menatap keara Reeves.
Reev s perlahan berdiri dari sofa lalu melihat kearaku.
"Maaf ayah, namun hari ini saya merasa begitu lelah. Bisakah kita melanjutkan percakapan kita besok?"tanya Reeves yang memang tampak begitu lelah.
Aku mengangguk.
Reeves melangkah keluar dari ruang tamu dan meninggalkan trance dan Giselle bersama kami.
"Kakak, pergilah dan temui Reeves"bisikku kepada heront yang sejak tadi melirik keara pintu.
Heront tersenyum lalu melangkah keluar dari tempat itu.
"Louise mari kita akhiri perbincangan kita hari ini, tolong antar kedua tamu kita ke kemarnyang sudah di siapkan"ucapku dengan lembut.
"Baik tuan saya mengerti"ucap Louise yang dengan wajah menggerutu.
Ketika ketiga orang itu pergi, orang didalam ruangan itu hanya tinggal kami berdua.
Kesunyian menghiasi ruangan yang tampak membosankan itu.
Aku mengambil cangkir teh dari meja, dan menyesap teh yang sudah dingin itu.
Lalu menaruh cangkir keatas tatakan yang terbuat dari keramik.
"Bagaimana menurutmu tentang wanita itu Aroon?"tanyaku dengan ekpresi datar menatap tembok .
Tampak bekas kekuningan bekas teh yang tertinggal pada dinding.
"Yah seperti yang saya dan areen duga, wanita itu memiliki kekuatan kami"ucap Aroon yang masih berdiri.
"Apa maksudmu dia juga siren?"tanyaku menoleh kearahnya.
"Tidak, saya ragu kalau dia seorang siren atau memiliki darah setengah siren"ucap Aroon duduk di sampingku.
"Lalu?"ucapku melirik Aroon.
"Gadis itu memiliki aroma hampir menyerupai ras siren, dan juga memiliki sihir bawaan dari ras siren"ucap Aroon merangkul pundakku.
"Tuan ,apa anda mengetahui kekuatan yang dimiliki ras siren?"tanya Aroon.
"Tentu"ujarku sedikit mengangguk.
"Kami memiliki kekuatan sihir yang bisa membuat ombak, mendatangkan badai bahkan membuat petir hanya dengan nyanyian kami. Tapi semua sihir itu bukanlah alasan utama mengapa ras siren di buruh secara merata"jelas Aroon mendekatkan wajah kami.
"Alasan utama kami menjadi ancaman tak lain karna kami bisa menciptakan halusinasi dan memanipulasi ingatan seseorang hanya dengan suara kami"bisik Aroon tepat di telinga ku.
Grauk
Aroon mendaratkan gigitan lembut tepat di daun telinga ku. (Di bagian bawah, yang biasanya di tindik).
"Kemungkinan tindakan para tuan mudah dan kata kata tuan trance teriak terjadi karna sihir manipulasi wanita itu. Dan menurut penuturan areen ketika mendengar penjelasan Rachael. Kemungkinan besar bau busuk itu berasal dari wanita itu dan meskipun belum bisa di pastikan wanita itu pasti bukanlah manusia"ucap Aroon mencium keningku.
____
Di sisi lain
Di lorong lantai 2 mansion.
Tampak seorang pria berambut hitam berjalan didepan seorang pria berambut pirang yang memiliki tinggi sama dengannya.
Mereka berjalan di lorong yang disinari begitu banyak lilin itu.
Terdapat juga beberapa zirah besi yang di susun seperti seorang manusia berdiri tegak berdekatan dengan dinding.
"Tuan Reeves, bagaimana kehidupan di ibu kota dan academy?"tanya heront yang menuntun jalan.
Reeves hanya diam sembari menatap punggung pria berambut hitam itu.
"Mungkin ini terkesan kurang sopan, namun anda tampak lebih kurus dari satu tahun yang lalu. Apa anda makan dengan benar di kekaisaran?. Anda memiliki tubuh yang cukup lemah dari saudara anda yang lain, jadi tolong lebih perhatian lah kepada tubuh anda"ucap heront berbalik keara Reeves.
Mata kedua pria itu bertemu, dan heront hanya menunjukkan senyuman tipis dengan tatapan lembut.
"Tuan, bagaimana pendapat anda tentang ayah saya?"tanya Reeves kepada heront.
Perlahan heront berhenti tersenyum lalu berbalik membelakangi Reeves.
"Menurut saya, dia adalah ayah yang buruk"ucap heront terus melangkah.
"Bisakah saya tahu alasannya?"tanya Reeves tampak sedikit terkejut.
"Jika harus di jelaskan, keburukannya akan terdengar begitu panjang. Namun saya akan menjelaskan dengan singkat mengapa dia adalah ayah buruk bagi saya"ucap heront.
"Yang pertama karna dia sama sekali tak bisa mendidik anak-anaknya dengan benar, dia menghabiskan waktu lebih banyak di perbatasan untuk membasmi monster dan hanya meninggalkan anak anaknya bersama dengan para pelayan. Lalu yang kedua dia tak bisa berkata lembut dan hanya bisa memaki-maki anak anaknya dan memperlihatkan kesan kalau dia adalah ayah yang pilih kasih terhadap anak anaknya"ucap heront tertawa kecil.
"Lalu yang ketiga, alasan dia menjadi ayah yang buruk. Karna dia tidak perna ada di sisi anak-anaknya ketika mereka berada dalam bahaya ataupun masalah. Bukankah 3 alasan itu bisa menjadi bukti jelas betapa buruknya Karllan vern Karish sebagai seorang ayah?"tanya heront yang terus melangkah.
"Tap—"kita sudah sampai di kamar anda"ucap heront memotong kata kata Reeves.
Ia berhenti di sebuah pintu kamar yang tertutup.
"Silahkan beristirahat, jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa membunyikan lonceng di samping tempat tidur anda."ucap heront.
Reeves perlahan mengangguk sembari memegang gagang pintu.
Ia tersenyum dengan tipis.
"Terima kasih"ucap Reeves perlahan masuk kedalam kamar.
Ketika ia masuk, tampak pemandangan yang familiar di ruangan itu.
Padahal kamar itu sudah ia tinggalkan lebih dari 4 tahun, namun semua interior nya. Susunan buku pada rak buku dan seprai kasurnya masih tampak sama persis seperti 4 tahun lalu.
(Penjelasan: ketika di academy para pelajar tidak di izinkan untuk kembali kerumah. Jadi sebagai gantinya para orang tua lah yang mengunjungi anak mereka di academy).
Tap tap
Reeves melangkahkan kakinya keara lemari tempat pakaiannya yang biasa tersimpan.
Ketika pintu terbuka, tak ada sedikitpun debu yang mengepul.
Semua pakaian tersusun rapih tak ada sedikitpun aroma lapuk kayu.
Dia memutar matanya lalu menemukan sebuah boneka kecil berbentuk landak yang terselip di antara kedua bantanya yang berwarna putih.
.
"Bukankah boneka ini sudah hancur karna tersangkut?"tanya Reeves meraih boneka yang terbuat dari kain dan kapas itu.
Matanya sedikit melebar ketika ia melihat bekas jahitan yang begitu acak-acakan melintang jelas di perut boneka landak itu.
"Pengasuh bina memiliki keterampilan yang bagus dalam menjahit, jadi tidak mungkin jahitan begitu jelek ini dilakukan olehnya"gumam Reeves.
Perlahan ia tersenyum, namun tetesan jernih terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Dasar ayah bodoh"ucap Reeves membenamkan kepalanya ke perut boneka landak yang hanya seukuran telapak tangan itu.
"Aku tidak perna sekalipun mendengar seorang Duke menjahit boneka anaknya dengan tangannya sendiri, selain itu jahitan tampak jelek dan acak-acakan seperti ini. Ayah kau benar benar bodoh "ucap Reeves memaki.
...
Di luar kamar.
Tampak seorang pria berambut hitam yang berdiri sembari bersandar pada dinding.
Mata hitamnya terpaku keara lantai yang ia pijak.
"Padahal usianya sudah 15 tahun, tapi anak itu masih saja cengeng seperti biasanya"gumam Heront menghela nafasnya.
Perlahan pria itu beranjak pergi dari tempat itu.
" bukankah mengatakan ayahnya bodoh adalah hal yang sangat tidak sopan?"ucap Heront menggerutu.
"Padahal aku sudah begitu berusaha paya menjahit boneka binatang itu dengan tanganku sendiri, namun yang dia malah mengatakan aku bodoh"ucap Heront terus menggerutu.
"Tapi..."perlahan Heront terhenti.
Matanya perlahan tertuju kepada 3 bulan yang bersinar indah diatas langit malam yang gelap.
"Aku harus mengakhiri hal menjijikan ini sesegera mungkin. Aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi"
"Aku tidak akan kehilangan keluargaku lagi kali ini, kau harus memegang janjimu kepadaku, Dewi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
