setiap manusia pasti memiliki rahasia mereka masing masing.
Entah itu rahasia yang kecil maupun rahasia yang besar.
Semua hal yang di sembunyikan dan hanya terkunci didalam hati setiap orang akan selalu di sebut dengan rahasia.
Rahasia kelam, rahasia yang membahagiakan bahkan rahasia yang kejam dan aib sekalipun.
tak perlu mengungkapkan rahasia kelam yang hanya akan membawa memori menyedikan dalam hidupmu itu lagi.
Siapapun bisa menyimpannya jika hal itu bisa membuat perasaanmu lebih baik.
Karna terkadang....
Mengungkapkan rahasia mu kepada manusia lain hanya akan membawamu ke arah jalan yang buntu.
Akan ada 2 tipe reaksi berbeda.
Pertama adalah orang itu akan merasakan empati padamu, berharap kau tak akan perna mengalaminya lagi.
Lalu tipe kedua adalah orang yang akan menyalahkanmu, menyalahkan keluargamu dan malah lebih mewajarkan jika hal seperti itu terjadi padamu.
Jadi....
Tutup telingamu dan ikuti jalan itu dengan pasti karna jejak kaki yang tercipta saat kau melangkah berasal dari kakimu sendiri.
Seorang anak laki laki berusia 8 tahun berambut perak duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu.
Tempat itu terlihat seperti rumah kaca yang di penuhi dengan tanaman.
"Apa yang kau lakukan...?"suara terdengar.
Anak berambut perak itu menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berambut hitam yang terlihat seusia dengannya.
"Aku sedang melukis"ucap anak itu.
"Emh... Melukis apa?"anak berambut hitam itu mendekat dan akhirnya sampai di samping anak berambut perak.
Mata anak berambut hitam itu menatap lukisan yang terbentuk di kertas itu.
"Lukisanmu sangat bagus"ucap anak berambut hitam itu tersenyum tipis.
"Begitu kah..."ucap anak berambut perak itu tersenyum tipis.
"Apa kau mau melukis bersama?"tanya anak berambut hitam itu tersenyum.
Anak berambut perak itu mengangguk.
Kedua anak itu menghabiskan waktu bersama cukup lama.
Mereka melukis dengan riang, melukis banyak hal dalam 1 buku.
"Tuan mudah..."perlahan terdengar suara seorang wanita dari luar rumah kaca.
"Aku harus pergi sekarang..."ucap anak berambut hitam itu berdiri dari kursinya.
"Hei apakah kita akan bermain lagi?"tanya anak berambut perak.
Anak berambut hitam itu sedikit tersenyum.
"Maarii kita buat janji..."ucap anak berambut hitam itu menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji?"tanya anak berambut perak.
"Ya janji kalau saat dewasa nanti kita akan bertemu lagi, dan di saat itu mari kita bermain lagi bersama..."ucap anak berambut hitam itu tersenyum.
Anak berambut perak mengangguk dan merangkul jari kelingking anak itu dengan jari kelingkingnya.
"Ya mari berjanji"ucap anak berambut perak itu tersenyum ceria.
"Oh... Aku harus pergi sekarang"ucap anak berambut hitam itu tiba tiba berlari
"Hei bolehkah aku tahu siapa namamu?"tanya anak berambut perak.
Tapi karna jarak mereka sudah menjauh, anak berambut perak sampai akhirnya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Zrrr
Seorang pria berambut perak membuka matanya
"Apa itu ingatan Karllan"pria itu menggerutu sembari memegang kepalanya yang pusing,
"Tapi apa itu tadi, aku tidak bisa mengingat nya dengan jelas?"gumamnya yang merasa pusing.
Lalu ia mulai menyadari kalau ia sudah berada di sebuah kamar yang begitu asing untuknya.
"Dimana ini ?"
Kamar itu tampak sederhana dengan langit langit yang memiliki plafon coklat tua, ruangan itu juga terbilang kecil dan hanya terlihat beberapa lemari kecil dan tempat tidur single yang menghiasi kamar itu.
Kamar itu hanya sebesar 3 x 3 meter.
Aku mulai memutar mataku dan menjelajahi seisi ruangan dengan pandangan.
Tak tak
Perlahan terdengar langka dari luar pintu yang tak jauh dariku.
Aku berdiri dari tempat tidur, tanganku merambat kesebuah pulpen yang berada dalam botol tinta.
Srrak
Pintu terbuka...
"Tuan Karllan, saya membawakan sarapan untuk anda"ucap seseorang yang perlahan masuk.
"Eh?, dimana tuan Karllan?"tanya pria berambut merah mudah yang sedang membawa nampan berisi mangkuk.
Crak
Sesuatu menancap tepat di pelipis kanan pria itu..
"Eh?"ucap pria itu memutar matanya keara sebuah pulpen yang menancap di pelipis kanannya, terlihat sebuah tangan yang tampak kasar sedang memegang pulpen itu.
Tangan itu mendorong mata pulpen yang runcing dan tajam masuk semakin dalam.
Tangan itu terus mendorong pulpen Sampai pulpen itu tidak terlihat lagi dan terjabak kuat di dalam kepala pria berambut merah mudah.
Darah mulai mengalir deras membasahi leher pria berambut merah mudah.
Brak
Pria itu jatuh menimpah seluru isi mangkok yang masih panas itu keara wajahnya
Pria itu tewas dengan mata terbuka serta luka bakar yang memenuhi wajahnya.
Darahnya terus keluar dan membanjiri lantai yang berwarna abu abu.
"Membiarkan tubuh musuh dalam keadaan utuh tanpa di ikat, tindakan yang sangat sembrono"ucapku mengambil sebuah sendok yang tak jauh dari pria itu.
Sendok itu terbuat dari tembaga yang di poles dan memiliki sedikit bagian melengkung di ujung gagang sendok.
"Ternyata begitu...".tiba tiba terdengar suara tepat di belakangku.
"Dia tidak sendiri..."
Srrrt
Sontak aku menggerakkan sendok sebagai senjata dan mengincar bagian yang lembut di tubuh manusia.
Aku mengarahkan gagang sendok keara leher pria yang ada di belakangku.
Tis tis darah mengalir perlahan.
aku menancapkan gagang sendok ke leher pria itu, membuat gagang sendok menembus dari sisi kanan ke sisi kiri lehernya.
"Menggunakan sendok tumpul sebagai senjata bukanlah hal yang mustahil namun itu akan sulit jika tidak memiliki tenaga dan kecakapan dalam menggunakan senjata. Sesuai yang diharapkan dari tuan karish"ucap pria itu membuka mulutnya.
Dia berbicara dengan wajah datar tanpa menunjukkan rasa sakit.
"Sepertinya saya perlu banyak belajar dari anda"ucap pria itu tiba tiba tersenyum tipis.
Pria itu juga memiliki rambut merah mudah dengan pupil mata berwarna putih serta sclera (bagian putih di bola mata) berwarna hitam gelap.
Dia bahkan memiliki wajah yang sangat mirip dengan pria yang sudah ku habisi.
"Katakan padaku siapa yang mengirim mu menculikku?"tanyaku dengan wajah tak beruba sembari terus menekan sendok yang masih tertancap di leher pria di hadapanku ini.
"Tidak ada siapapun yang mengirim kami, ini murni keinginan kami"ucap pria itu dengan tenang.
"Keinginan kalian?, apa yang kalian inginkan dariku. Apa kalian ingin membunuhku ?"tanyaku dengan wajah curiga.
Pria itu sedikit melirik keara belakangku.
"Aroon bisakah kau berhenti berpura-pura mati dan jelaskan kebenarannya pada tuan karish?"ucap pria di hadapanku tiba tiba tersenyum.
"Ah aku lupa"tiba tiba suara terdengar dari belakangku.
Aku menoleh dengan cepat dan menyadari kalau pria yang sebelumnya sudah tewas dengan wajah yang di penuhi luka bakar sudah menghilang dari sisa darah yang masih bercorakk di lantai.
"Sial..."ucapku mengarahkan wajahku keara pria kedua yang kulihat tadi.
Aku mengangkat tinjuku dengan cepat hendak melontarkan pukulan keras ke wajah pria itu.
"Dimana dia..."
____
Akhirnya setelah 1 bulan lebih, season kedua akhirnya di mulai. Selamat membaca dan selamat tahun baru semuanya 😄
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
