"Itu salahku karna bertanya padamu"ucap pria itu perlahan menghentikan tawanya.
"Tak masalah"jawabku singkat.
"Jadi mari kita kembali dengan penawaran ku, apa kau mau bermain game perang perangan denganku, tuan Karish?"ucap pria itu menatapku.
"Sebelum game dimulai, bukankah seharusnya kau menjelaskan peraturan dalam game ini, tuan?"ucapku menyentuh cangkir teh yang telah kosong.
Pria itu menjentikkan jarinya kembali.
Tampak teko berisi teh itu terangkat dan mengisi cangkir dengan teh panas yang masih beruap.
"Peraturannya sangat mudah, kau hanya perlu menang dalam permainan ini. Kau harus menggulingkan putra mahkota dari tahta dan memberikan ruang kosong itu kepada pangeran pertama"ucap pria itu.
Kami terus bertatapan tanpa sedikitpun berkedip, bahkan ketika uang asam dari teh itu melewati wajahku.
Tanganku perlahan meraih cangkir teh yang terisi lalu menyesap teh asam itu sampai setengah.
"Dengan kata lain, saya bisa menggunakan cara apapun. Bukan?"ucapku menurunkan cangkir itu.
"Tentu!"jawab pria itu tersenyum.
"Kalau begitu..."jawabku berdiri lalu menghantamkan cangkir teh yang terbuat dari keramik itu tepat keara pria tsb.
Namun tanganku berhasil dengan mudah di tangkap olehnya tanpa berkedip sedikitpun.
Meskipun cangkir teh tak mengenainya, tampak tumpahan teh panas itu sedikit mengenai paha serta punggung tanganku.
"Apa yang sedang anda lakukan, tuan karsih?"tanya pria itu melirikku dengan tajam.
"Hm... Testimoni?"ucapku tersenyum sembari menyipitkan mataku.
"Jadi ?"tanya pria itu yang masih mencengkram pergelangan tangan kananku.
Pupil matanya bergerak dan melirik kearaku.
"Hm entahlah, namun bisakah aku menambahkan 1 syarat pada taruhan yang akan kita mainkan?"tanya ku sembari tersenyum dengan mata menyipit.
"Apa itu?"tanya pria itu perlahan melepaskan cengkeraman nya.
Srrrt
Aku kembali mengambil posisi duduk seperti semula.
"Syaratnya adalah jika suatu hari nanti karllan Vern Karish menang maupun kalah. Anda harus xxxxxxxxx"ucapku mulai berbicara dengan panjang lebar dan jelas.
"Pfffht, hei bukankah itu sangat licik"ucap pria itu tertawa.
"Saya tidak ingin mendengarkan kata-kata itu dari pria seperti anda"ucapku dengan wajah datar.
"Baiklah aku setuju dengan syarat yang kau berikan. Meskipun kau akan menang ataupun lenyap suatu saat nanti, 1 syarat tsb tidak akan merubah tatanan dunia ini"ucap pria itu perlahan mengeluarkan secarik kertas berwarna hitam entah dari mana.
Di kertas itu tertulis penjelasan tentang game yang akan kami permainkan yang di tuliskan dengan tinta berwarna merah.
Dan syarat yang telah ku ajukan sebelumnya, lalu dibawah tulisan panjang tsb terdapat 2 nama yang bertuliskan pihak 1 dan pihak 2.
Pria itu perlahan menggores ujung jari telunjuknya dengan kuku lalu meneteskan setetes darah di atas tulisan pihak 1.
"Silahkan tuan Karish"ucap pria itu menyodorkan kertas serta sebilah pisau kecil.
Aku menancapkan jari jempolku ke pada ujung pisau tsb lalu meneteskan darah di atas tulisan pihak 2.
Setelah tetesan darah itu mengenai kertas
Perlahan muncul nama di bawah jejak darah tsb.
Karllan Karish, yah karllan Karish bukan karllan Vern Karish.
Tik
pria itu menghentikan jarinya, lalu perlahan muncul sebuah pintu berwarna putih terbuat dari kayu dengan tinggi 3 x1,5 meter.
"Anda bisa kembali sekarang"ucap pria itu memiringkan wajahnya sedikit sembari melebarkan telapak tangan kirinya seolah menunjuk pintu yang tiba tiba terbuka dengan sendirinya.
Aku melangkah keara pintu.
"Ah benar, jika selanjutnya anda ingin mengundang saya ke tempat ini lagi. Tolong siapkan teh dengan garam untuk saya"ucapku
"Bisakah saya tahu alasannya?"tanya pria itu
"Karna asam cuka tidak terlalu baik untuk janin yang sedang berkembang"jawabku tersenyum lalu masuk kedalam pintu dan meninggalkan pria itu sendirian di tempat aneh tsb.
"Hahahah, pria itu benar benar menarik. Aku jadi benar benar ingin membunuhnya"ucap pria itu tertawa.
....
Ketika mataku terbuka,tampak langit langit kamar yang begitu familiar.
Saat itu aku menyadari kalau aku sudah bangun dari mimpi aneh sebelumnya.
"Hmmm..."gumaman kecil terdengar dari sisi kasur bagian kanan.
Bersamaan dengan pelukan erat yang memeluk tubuhku
"Aku sama sekali tak bisa bergerak"ucapku mencoba melepaskan diri dari selimut.
Namun semuanya sia-sia, karna tubuh Renete tak bergerak sedikitpun.
Aku memutar pupil mataku melirik keara sebuah cermin besar yang cuma berjarak 3 meter dari tempat tidur.
Dari pantulan cermin besar itu, aku bisa melihat diriku yang sedang tergulung selimut tebal seperti sebuah kempompong.
Lalu dari pantulan cermin itu pula aku mampu melihat seorang pria berkulit coklat yang tengah tertidur dengan kedua tangannya yang mendekap tubuhku.
Rambut hitamnya yang panjang tampak tergerai hampir menutupi wajah tampannya.
Perlahan aku melirik keara jendela yang di tutupi oleh gorden tipis berwarna putih dengan rajutan bunga mawar yang menutupi setiap jendela kaca.
Samar samar , matahari yang perlahan menunjukan dirinya dari ufuk timur.
Dengan cahaya orange yang hangat, mentari bangkit dari tidur singkatnya dan kembali menyinari dunia dengan kehangatannya.
"Renete, bangunlah. Sudah saatnya kau berangkat"ucapku dengan suara lembut.
"Hm... Apa sudah pagi"ucap Renete membuka matanya.
Mata biru langit itu tampak begitu indah dari pantulan cermin.
Perlahan ia bangun melepaskan pelukannya.
Cup
Kecupan lembut mendarat di pipi kananku.
"Selamat pagi tuan"ucap Renete tersenyum.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya.
"Hm, selamat pagi Renete"ucapku menepuk pria itu dengan tangan kiriku.
"Kembalilah ke kamar mu dan bersiaplah untuk berangkat ke wilayah barat"ucapku
"Baik."jawab Renete beranjak dari kasur.
Dia memakai pakainya kembali setelah membiarkan semua pakaian itu berserakan di lantai selama semalaman.
"Apa anda yakin tidak butuh bantuan?"tanya Renete berbalik.
"Tidak apa apa, kau bisa pergi"jawabku tersenyum lembut
Pria itu hanya mengangguk lalu perlahan keluar dari pintu.
Perlahan aku mengangkat tangan kananku yang sedari tadi berada di dalam selimut.
"Hmmm..."aku hanya sedikit bergumam ketika melihat sebuah luka bakar yang tiba tiba muncul di punggung tanganku.
Luka bakar tsb tampak memerah sampai memenuhi punggung tangan sertai sela-sela jariku.
Tempat yang sama dimana aku terkenah teh panas di mimpiku.
Selain itu tampak juga sebuah goresan kecil di ujung jari telunjukku yang tampak belum kering
....
Ketika mentari sudah semakin tinggi, tepatnya jam 10 pagi .
Aku berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan pintu mansion.
Memandangi para ksatria dan pelayan yang sedang berlalu-lalang sembari membawa kotak kotak kayu yang berisi bantuan makanan kedalam sebuah gerobak.
"Jika memikirkan dari sikap dewa itu semalam. Pria itu pasti tidak akan segan mengorbankan siapapun untuk menang dalam game"
"Tuan"suara pria dengan nada lembut terdengar
Perlahan langkah kecil terdengar.
"Tuan apa anda baik-baik saja?"tanya Renete dengan wajah cemas.
Tangannya yang hangat menyentuh kedua pipiku dengan lembut.
"Apa semalam saya melakukanya terlalu kasar?"tanya Renete dengan intonasi yang begitu lembut.
Aku mengangkat kedua tanganku dan menggenggam kedua punggung tangan Renete.
"Tidak apa apa, jangan cemas. Aku baik baik saja"ucapku tersenyum sembari mencoba menenangkan pria yang hampir ingin menangis tsb.
Entah mengapa sejak tinggal di mansion ini, sifat Renete menjadi lebih cengeng dari sebelumnya.
"Hati hati di jalan "ucapku tersenyum lembut.
"Tuan..." Suara lain terdengar dari Ara kiriku.
Disana tampak seorang lelaki berambut merah mudah seperti buah persik.
Dia tampak cemberut dengan pipinya yang menggembung.
"Saya dengar anda semalaman bersama dengan tuan pendeta. Bukankah itu tidak adil. Padahal saya juga akan pergi berperang sebentar lagi"ucap areen yang protes.
Aku menjulurkan kedua tanganku menyentuh pipi menggembung itu.
"Baik baik, mari lain kali kita berkeliling kota sebagai ganti rugi. Karna sudah memperlakukan mu secara tak adil"ucapku tertawa kecil sembari meremas-remas kedua pipi areen..
"Anda harus berjanji akan meluangkan 1 Minggu waktu Anda untuk saya"ucap areen masih merajuk.
"Baiklah aku mengerti"ucapku tersenyum sembari membelai rambut indahnya.
"Hehe, baiklah... Saya pergi dulu tuan"areen memelukku.
Setelah pelukan singkat, Perlahan kereta mulai berangkat meninggalkan mansionku.
500 pasukan ksatria serta 35 penyihir di kerahkan menuju wilayah barat yang berjarak 2 hari dari Utara.
"Kuharap mereka kembali dengan selamat"ucapku memandang kereta yang terus melangkah maju.
Beberapa hari kemudian.
"Tuan..."ucap Aroon yang tiba tiba masuk kedalam ruangan.
Wajah Aroon tampak tertekan, dengan suaranya yang juga terdengar sedikit bergetar.
"Ada apa Aroon?"tanyaku yang sedang membaca dokumen dokumen ku.
"Areen..."ucap Aroon berhenti sejenak.
"Ada apa?"tanyaku bingung.
"Areen telah gugur"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasía"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
