Malam itu tampak begitu terang dengan api yang membara.
Sorang wanita berambut merah berdiri sembari menghadap jendela kaca.
Wanita itu tampak berdiri dengan setelan pakaian bercelana yang sangat jarang di kenakan oleh seorang wanita bangsawan.
Teriakan keras serta suara Auman kian mendekat.
Brak
Pintu dibuka secara kasar.
"Nyonya, tolong anda segera melarikan diri"teriakan keras itu muncul dari seorang pelayan wanita.
Wanita itu memiliki rambut berwarna ungu tua dengan mata berwarna merah terang. Sembari memeluk gulungan kain pelayan itu mendekat keara wanita yang berdiri itu.
"Mariah, temuilah Duke Karish "ucap wanita itu tanpa menatap perlahan tersebut.
"Apa maksud anda nyonya, anda harus segera pergi sebelum gerombolan monster itu benar benar menghancurkan gerbang. Saya sudah menyiapkan perbekalan an—"tidak Mariah"ucap wanita itu memotong kata kata pelayan.
"Kaulah yang akan pergi, aku harus tetap disini untuk mempertahankan wilayah kita"ucap wanita itu berpegang teguh.
"Mengapa?"tanya pelayan itu dengan nada tinggi
"karna itu adalah tugasku untuk menggantikan suamiku yang telah wafat . Dia terus mempertahankan wilayah ini sampai nafas terakhirnya. Jadi jika aku menyerah disini sama saja seperti aku menginjak mayat suamiku dengan kakiku sendiri"ucap wanita itu berbalik.
Pupil merahnya tampak memandang pelayan itu dengan mantap.
"Sudah 12 hari sejak surat permohonan itu dikirimkan ke istana. Sudah 12 hari juga para kesatria kita bertarung melawan para monster tanpa istirahat. Jika menunggu lebih lama lagi, korban korban akan terus berjatuhan dari pihak kita."ucap wanita itu memberikan sepucuk surat kepada pelayan tsb.
Surat itu terbungkus dengan amplop berwarna putih dan di segel dengan lilin berwarna hitam pekat.
"Nyonya"ucap pelayan itu dengan suara bergetar.
"Pergilah Maria, kau adalah satu-satunya harapanku saat ini "ucap wanita itu.
Pelayan itu meraih surat tsb dengan tangan gemetar karna menahan air matanya
"Aku sudah menyiapkan kuda, pergilah ke Utara melalui gerbang belakang, katakanlah kepada Duke Karish kalau sudah saatnya dia membalas Budi..."ucap wanita itu tersenyum sembari menepuk kepala pelayan tsb.
"Baik... Nyonya peonia"ucap pelayan tsb mengangguk.
"Tolong tetap hidup sampai saya kembali"ucap pelayan itu berlari keluar dari ruangan tsb.
"Aku akan berusaha..."jawab wanita itu
Tak tak tak
Kuda itu terus melaju melewati tanah berlumpur.
Dengan seorang gadis pelayan yang memeluk gulungan kain di dadanya.
Gadis berambut ungu tua itu tetap menatap jalan tanpa sedikitpun melihat kebelakang.
Suasana yang panas perlahan berubah menjadi dingin yang menembus tubuhnya.
Butiran demi butiran salju yang tampak putih mulai berjatuhan dari langit.
Namun sayangannya keindahan itu segera hancur karna noda darah yang kian memenuhi daratan.
Wanita berambut merah itu tampak berdiri dengan tubuh yang dipenuhi darah.
Sebilah pedang tergenggam erat di tangan kirinya.
Kau bisa melihat jelas betapa banyak potongan potongan tubuh manusia yang tersebar di sekitarnya.
"Aaghhkkkkkkkkkkk..."teriakan kerasnya bergema. Dengan air mata berlinang wanita itu menggerakkan pedangnya membabi buta.
.......
2 hari kemudian di kediaman Karish.
"hei apa kau dengar?, katanya tuan orkan dan nyonya bina mengundurkan diri sebagai kepala pelayan" seorang pelayan wanita berambut hijau membuka pembicaraan sembari memegang kain lap nya.
"Heh benarkah?, mengapa begitu tiba tiba?"sahut wanita berambut coklat muda yang menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap zirah yang di pajang di dinding.
"Entahlah, namun ada beberapa rumor berkata kalau sebenarnya tidak mengundurkan diri secara sukarela"ucap pelayan berambut hijau tadi berbisik.
Pelayan berambut coklat muda itu tampak terdiam lalu menggerakkan mulutnya.
"Hei apa mungkin mer—Ekhem" tiba tiba terdengar suara cukup keras dari arah belakang mereka.
Tampak seorang pelayan wanita berambut merah pekat berjalan keara mereka.
Wanita itu memiliki mata keemasan yang menatap mereka cukup tajam.
"Apa kalian begitu senggang, sampai sampai memiliki waktu untuk membicarakan orang lain?"tanya wanita itu bicara dengan wajah datar.
"Hah sia—"maafkan kami nyonya Emily"pelayan berambut coklat muda itu segera memotong kata kata pelayan berwarna hijau tua tsb.
Gadis berambut coklat muda itu segera menundukkan kepala sembari menarik leher temannya agar ikut menunduk.
"Untuk sekarang, saya akan menganggap percakapan kalian hanyalah karna kebosanan. Namun untuk selanjutnya saya harap kalian menjaga lisan kalian selama berkerja di kediaman ini"ucap Emily menatap kedua gadis yang masih menunduk.
"Kami mengerti, Terim kasih nyonya Emily"ucap gadis berambut coklat tsb.
"Emh..."jawab Emily singkat lalu beranjak pergi dari lorong.
"Hei.. sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa kau bersikap seperti itu?"tanya gadis berambut hijau tua masih bingung.
"Beliau adalah kepala pelayan baru"ucap gadis berambut coklat.
"Hah kepala pelayan baru?, mengapa aku tidak tahu?"tanya pelayan berambut hijau.
"itu kesalahanmu sendiri karna bangun kesiangan hari ini. Bukankah sudah ku bilang kalau kita di perintahkan untuk berkumpul di aula pesta pagi ini."ucap mereka saling berbisik.
"Lalu... Jika nyonya bina sudah di gantikan oleh nyonya Emily. Siapa yang akan menggantikan posisi tuan orkan?"tanya pelayan berambut hijau tua.
"Untuk pengganti tuan orkan kau pasti sudah mengenalnya. Dia adalah pelayan pribadi tuan Duke sendiri"ucap gadis berambut coklat.
"Hah... Pelayan pribadinya tuan Duke?"ucap pelayan berambut hijau terkejut.
"Haaah sebenarnya apa yang ada di pikiran tuan Duke sampai sampai beliau mengganti posisi tuan orkan dan nyonya bina dengan pelayan baru yang belum memiliki banyak pengalaman seperti mereka?"ujar gadis berambut hijau itu tampak tak percaya.
"Entahlah..."
....
Seorang pria berambut perak berdiri di depan jendela kaca.
Ia memakai sebuah jas formal berwarna navy dengan kemeja bone white yang tampak hangat.
Sebuah bross berbentuk persegi panjang berwarna navy juga ikut menghiasi dada bagian kanan pria itu.
Karllan berdiri dengan tangan kiri yang terangkat menyentuh jendela kaca.
Matanya tampak terpaku pada salju salju yang tampak indah seperti hamparang bunga yang terbentang luas itu.
2 hari telah berlalu sejak hari kematian bina.
"Karna orang itu"ujar karllan bergumam.
"Apa yang ingin bina katakan saat itu?, dan siapa orang itu..."karllan bergumam pelan sembari terus melihat keluar jendela.
"Dilain sisi pengkhianatan orkan juga begitu mengejutkan. Mungkinkah kedua orang itu bersekongkol di belakangku?. Namun mengapa?"tanya karllan yang semakin kebingungan.
Tuk tuk
Suara ketukan perlahan terdengar dari luar.
"Masuklah..."ucap karllan sedikit melirik.
Pintu perlahan terbuka lalu seorang pria berpakaian pelayan masuk.
Pria itu memiliki rambut coklat tua dengan bekas luka di area wajahnya.
Pria itu melangkahkan kakinya untuk mendekati karllan.
"Louise bagaimana kondisi trance?"tanya karllan masih dalam posisi yang sama.
"Untuk sekarang tuan trance masih belum sadar. Namun kondisi fisiknya sudah berangsur-angsur membaik. Jadi sangat kecil kemungkinan beliau akan mati "ucap Louise menjawab dengan nada sopan.
"Hmm.. aku mengerti"ucap karllan sembari terus melihat ke luar jendela.
"Aaaaaghkk..."teriakan kecil terdengar.
"Ada apa?, penyusup?"tanya Louise dengan cepat mengeluarkan belati yang ia sembunyikan di sepatunya.
"Tidak..."ucap karllan perlahan.
Mata karllan segera beralih keara jendela ke lima yang berada di sudut.
Karllan melangkah lalu berhenti disana.
Dari jendela kaca itu ia bisa melihat seorang gadis sedang berdiri di hamparan salju.
Gadis itu memakai sebuah gaun berwarna merah mudah yang cukup tebal.
Wanita itu membelakangi karllan lalu perlahan gadis itu melepaskan sarung tangan tebalnya lalu mulai membuat bola salju seukuran genggaman tangannya.
tampak rambut berwarna peraknya sedikit tersingkap keluar Dari tudung yang menutup kepalanya.
Hidung gadis itu tampak sedikit memerah dan hawa dingin juga muncul setiap ia berbicara.
...___...
Terimakasih kepada para pembaca yang selalu menunggu cerita ini. Akhirnya setelah hampir 2 bulan saya bisa melanjutkan cerita ini.
Untuk jadwal up akan dilakukan seperti biasa 1 Minggu 1 chapter.
Sampai jumpa di Minggu depan, jangan lupa vote dan komen yah
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
