"dia bukanlah Marie" perlahan kata kata itu muncul dari bibir yang tampak pucat itu.
Pupil abu abu areen bergerak lalu melirik sesaat, kemudian kembali lagi menatap kearah tembok setengah runtuh yang berada di hadapannya.
Setelah itu tak ada kata kata lain yang terucap dari 2 orang yang berdiri itu.
Malam itu terasa begitu sunyi, bahkan suara serangga pun tak terdengar.
Hanya suara angin dingin yang berhembus lalu menerpa tubuh mereka.
Cit...
Areen yang awalnya hanya menatap tembok secara tiba tiba langsung menoleh keara countes.
"Ada apa?"tanya wanita itu tampak bingung.
Areen tetap bungkam lalu melangkah perlahan meninggalkan countess tetap disana.
Cit..
Entah dari mana suara decitan itu muncul kembali.
Suara decitan yang terdengar begitu kecil sampai sampai tidak ada yang menyadarinya.
Cit...
Areen yang awalnya hanya berjalan santai perlahan menambah kecepatan (bukan lari).
"Dimana suara itu berasal?"gumam areen melihat sekelilingnya.
Setiap dia melangkah suara decitan itu semakin terdengar keras di telinganya.
Lalu langkah itu terhenti ketika ia tepat berada di sebuah tenda yang tak lain adalah tenda tempat Heront, Renete, Rayen serta pelayan itu berada.
Tangan areen bergerak sedikit untuk menyingkap tirai yang menutupi pintu masuk.
"Tu—Gubrak"
Tiba tiba suara keras terdengar bersamaan dengan angin dingin yang menyebar dan menerpa punggung areen.
Tubuh areen langsung bergerak dan berbalik arah. Dari Ara tsb, tampak kabut yang begitu tebal dari Ara tembok yang berjarak 20 meter dari tempat ya berdiri, sangking tebalnya areen sampai tak bisa melihat benda ataupun mahluk yang ada di dalam kabut.
Di saat bersamaan suara decitan itu terus menerus bergema di telinga areen.
Karna Suara keras tsb sontak membuat para ksatria yang awalnya sedang sibuk memindahkan mayat mayat korban langsung terhenti.
Dan mulai melihat keara suara itu berasal.
"Suara apa itu?"tanya kesatria berambut biru tua yang bernama Hans.
Pria itu berdiri tak jauh dariku, dengan ekpresi bingung dia perlahan mendekat keara kabut tsb.
"Kabut apa ini?, mengapa tiba tiba ada kabut?"tanya Hans sambil terus mendekat.
Cit..
Cit-cit
"Hei menjauh dari sana"teriakku keras kepada Hans yang berjarak 15 meter dari kabut tsb.
"Apa yang anda katakan tuan, ini hanya kabut biasa"ucap Hans tertawa sembari semakin mendekat.
Cit...
"Pergi dari sana"ucapku sekali lagi
Pria itu hanya menunjukan tawa tengilnya sembari menghadap keara areen yang berada di belakangnya.
"Hahah anda tidak perlu —bruk"
Tiba tiba kata kata pria itu terpotong bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk keara areen.
Caarrrttt
Salju yang awalnya putih seketika langsung di penuhi dengan cairan merah yang keluar dari leher Hans yang telah kehilangan kepalanya.
Cit
Suara decitan itu terdengar lagi kali ini dan terdengar lebih jelas.
cit
Suara decitan itu terdengar dari kabut, lalu bersamaan dengan suara tsb suara langkah kaki yang menginjak salju terdengar juga.
Lalu pelan pelan keluar seekor tikus berbulu hitam dengan mata merah pekat seperti mata milik Rachael, para tikus itu juga memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari seorang bayi.
Semua orang tetap terpaku sesaat termasuk areen.
Mereka terpaku bukan karna karna ukuran tikus yang tak normal, melainkan dengan apa yang sedang di gigit si tikus.
Sebuah kepala dengan rambut biru tua yang masih mengeluarkan darah segar.
Areen yang awalnya terpaku dengan secepat mungkin menyadarkan dirinya sendiri.
Dia berbalik hendak masuk kedalam tenda tuan Heront yang tepat ada dibelakangnya.
Karna sejak suara keributan tadi sampai teriakan kesatria muncul.
Salah satu dari 4 orang yang ada di tenda ini sama sekali tak menunjukan dirinya.
"Tuan Heront"teriak areen melangkah masuk.
Namun sebelum kakinya menginjakkan langkah pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
