Kecupan sesaat itu begitu lembut.
"Aku mengerti..."jawabaku singkat lalu perlahan membelai rambut panjang Renete yang dikepang rapi tsb.
"Tuan maafkan saya..."ucap Renete tiba tiba berbisik di telinga ku.
"Hm... Ada apa?"tanyaku heran.
Srrrt
Pria itu mengangkat tubuhnya dan duduk tepat di antara kedua kakiku.
"Renete apa maksud—srrrawwk"
Tiba tiba suara robekan terdengar dari Ara dadaku bersamaan dengan udara dingin yang perlahan masuk.
"Eh?"ucapku bingung mengalihkan mataku kesana.
Tampak disana 2 tangan kecoklatan yang perlahan mulai merayap menyentuh dadaku yang terbuka.
"Renete apa yang kau lakukan?"tanyaku kaget.
"Saya tidak bisa menahannya lagi... Tuan"ucap Renete dengan wajah memerah.
Wajahnya sangat merah seperti buah tomat yang matang.
Tis
Tis
Tis
"Renete hidungmu...
Mengapa mimisan mu kembali lagi"ucapku mencoba menutup hidung Renete dengan telapak tangannya ku.
Disaat bersamaan suara tetesan dan darah yang perlahan mulai mengalir dan perlahan membasahi telapak tanganku.
Matanya tampak menatapku dari balik jemariku yang terbuka.
"Hei, bukankah kau seorang pendeta yang mampu menyembuhkan segala penyakit dengan kekuatanmu. Mengapa kau tidak mencoba melakukannya untuk dirimu sendiri?"tanyaku yang terus mencoba menghentikan mimisannya.
"Sepertinya sekarang, saya tidak pantas lagi menyandang gelar' itu. Tuan"ucap Renete bicara dengan suara yang sedikit terbungkam.
"Hei apa yang kau katakan disaat seperti ini?"ucapku semakin bingung.
"Pendeta adalah satu dari ratusan manusia yang dipilih dewa, untuk menjadi utusan dewa dan wakil bagi para dewa untuk membantu manusia lemah.
Mereka tidak di izinkan menikah, tidak diizinkan untuk memiliki nafsu duniawi dan Mereka adalah insan yang diwajibkan untuk mencintai dan melayani dewa yang mereka imani dengan menyerahkan seluruh tubuh dan raganya untuk mengabdi para kuil"ucap Renete dengan suara lembutnya.
"Namun saya sudah tidak layak menjadi salah satu pendeta "ucap Renete thump
Disaat ia berbicara tiba tiba hentakan cukup keras terasa menabrak selangkangan ku.
""Apa itu?"ucapku kaget sontak melihat keara selangkanganku
Dari ujung mataku, aku bisa melihat sesuatu yang keras mulai menonjol dari pakaian yang Renete kenakan.
(Renete sehari hari memakai pakaian pendeta terusan berwarna hitam melebihi lutut, terdapat banyak kancing berwarna navy yang berbaris sejajar dari kerah sampai ujung pakaian)
"Renete, kau-kau?"ucapku yang kaget melihat benda menonjol itu.
Hiks
Hiks
Air mata perlahan terjatuh dari pelupuk matanya
"Saya adalah manusia hina, saya sudah tidak berhak lagi melayani dewa. Saya sudah termakan dengan nafsu duniawi yang di sebut cinta ini"ucap Renete yang tiba tiba menangis.
"Renete... Kenapa kau tiba tiba menangis"ucapku yang semakin kebingungan.
Aku yang awalnya terbaring mencoba untuk bangun, setidaknya aku ingin berusaha menghapus air matanya itu.
Ketika tubuhku sedikit terangkat, jarak antara selangkanganku dan miliknya kian menyempit.
"Ngh..."tiba tiba Renete mengeluarkan suara yang tak asing untukku.
"Renete, ada apa lagi?"tanyaku
"Tolong jangan bergerak tuan, jika anda terus bergerak saya khawatir kalau senjanta tajam saya bisa menembus tubuh anda"ucap Renete bicara dengan suara terbata
"Senjata tajam?..."gumamku sembari melihat keara selangkangan ku yang merasakan tekanan.
Dan yasp benda itu semakin berdiri, dan terasa lebih besar dari sebelumnya.
"Senjanta yang kau maksud itu penis?"tanyaku mengulangi kata katanya.
"JANGAN SEBUT SENJANTA TAJAM ITU DENGAN KATA KATA VULGAR SEPERTI ITU"teriaknya tiba tiba dengan suara tinggi.
"VULGAR?, hei apa maksudmu. Benda itu memang disebut penis"ucapku memiringkan kepalaku.
"AGKHHH, SUDAH SAYA BILANG JANGAN MENYEBUTKANNYA LAGI. AKU HARUS BERTOBAT. AKU HARUS MEMOTONG TELINGA YANG SUDAH TERCEMAR INI"ucap Renete mulai bicara tak jelas.
"Hah?...."ucapku semakin bingung.
Aku memutar mataku sembari menghela nafas cukup dalam.
"Jika aku bilang aku menyukai telingamu, apa kau akan benar benar memotongnya?"tanyaku melihatnya lekat.
"Hmmpp?"dia mengeluarkan suara lucu itu lagi bersamaan dengan wajah nya yang memerah.
Sontak dengan cepat dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.
Tampak darah dari hidungnya terus menetes perlahan berhenti.
"Anda benar benar gila,Dasar mesum"ucap Renete dengan suara kecil.
Sebulan canggung yang terlukis di wajahnya tiba tiba seolah menyusup.
Dug
Suara aneh tiba tiba muncul di dadaku
"Apa itu tadi?"gumamku kecil.
Sekarang tidak hanya wajah namun telinganya juga tampak memerah, bahkan lebih merah dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasía"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
