"Aku harus membunuhnya..."
Lalu tiba tiba...
"Tuan Karllan, tolong beri kami tanda tanganmu" suara keras mengagetkan ku tiba tiba datang dari Ara kananku.
disana aku melihat pria yang tergeletak tadi sedang berdiri sembari memegang sebuah kaos berwarna putih polos dengan wajah yang sangat serius.
Dengan darah yang masih mengalir dari lubang yang ada di pelipisnya.
"Heh... Ap?"
Ruangan itu tiba tiba menjadi sangat senyap tanpa suara.
Hanya ada suara tetesan darah yang terus mengalir dari pelipis pria itu.
"Haaaaah?!
Bruk
"Hei bodoh..."ucap pria itu menepuk kepala Aroon keras.
"Areen mengapa kau memukulku dengan keras"ucap pria bernama Aroon itu.
"Bagaimana tuan karish bisa menandatangani nya kalau kau bahkan tak memberikan nya pulpen"ucap pria bernama Areen itu tampak serius.
" Ah benar juga" ucap pria bernama Aroon itu mengangguk.
Srrrrt
perlahan Aroon mengangkat tangan kanannya lalu craaak.
Dia memasukan 3 jari kedalam pelipisnya yang telah berlubang.
Ia mengorek ngorek pelipisnya seakan ingin mengambil sesuatu.
"Ah dapat ..."ucap pria itu tersenyum lalu perlahan menarik pulpen yang sudah bersarang cukup dalam di kepalanya keluar.
Csssst
Darah muncrat keluar begitu kencang bersamaan dengan pulpen itu.
Percikan darah itu sangat kencang seperti air.
Crrrt
Beberapa tetes darah memercik tepat keara pipi kananku.
"Aroon bodoh, apa yang kau lakukan"teriak pria bernama Areen itu memukul Aroon dengan keras.
Sampai aroon tersungkur ke lantai.
"Aduh.... Areeen"ucap Aroon mengangkat wajahnya.
Lalu
Tiba tiba matannya melebar.
"Aaaghhkk tidak.... Darahku sudah mengotori sosok tuan Karllan"teriak Aroon keras sembari mengambil posisi duduk dengan cepat.
"Matila sekarang.... Kau dasar binatang"ucap Areen menginjak kepala Aroon.
"Tidak.... Aku sudah melecehkan tuan Karllan yang suci."teriak Aroon histeris.
"Apa ini?, melecehkan apa yang mereka maksudkan?"aku hanya terpaku memandang 2 anak kembar yang beradu mulut itu.
"Apa yang mereka katakan tadi?, tanda tangan?. Tubuh yang suci? Haah apa maksudnya itu?"
mataku sampai tak sempat berkedip karna sangking terkejutnya saat mendengar kata kata konyol yang keluar dari mulut mereka....
Karna 3 anak kembarku tidak perna bertingkah seperti ini?.
Bahkan dalam ingatan Karllan saja ketiga anak itu adalah anak yang begitu baik dan pendiam, lalu mengapa kedua anak kembar ini Mala tantrum seperti ini?.
Apa ini hal yang normal.
"Lalu aku juga mencium bau garam, dimana ini?" Aku memutar wajahku keara jendela yang berada di ujung tempat tidur.
Sinar mentari bersinar indah dari sana, dan terlihat seperti sangat hangat.
"Hiks hiks padahal akhirnya kita bertemu secara langsung... tidak melihat dari PC lagi namun hiks saya sudah mengotori wajah dingin dan tampan dari tuan Karllan"ucap pria Aroon keras.
Zrrrt
Dengan cepat mataku kembali tertuju keara anak kembar yang masih berkelahi di hadapanku itu.
"Haah?, apa yang baru dia katakan?"
" kau terlalu berisik. Kau akan merusakk telinga tuan karish dengan suara kerasmu"ucap Areen yang
"Padahal akhirnya kita bisa bertemu tuan karish secara langsung bukan hanya sebagai pemain karakter dalam game.... Tapi kau sudah menularkan bakteri padanya"teriak Areen keras histeris.
Dengan darah yang masih mengalir, kedua anak kembar itu terus tantrum dan saling berkelahi.
"Hei... Apa kalian benar benar mahluk hidup?"
"Lalu Apa maksunya dengan PC, game,... hei bisakah kalian menjelaskannya dulu baru berkelahi?"
Aku hanya bisa memegang kepalaku yang ikut berdenyut denyut melihat perkelahian kekanak-kanakan mereka.
Atu setidaknya tolong tutup dulu luka kalian, karna darah kalian sejak tadi sudah terlempar kemana mana termasuk ke pakaian ku.
Apa kalian berdua ingin membanjiri ku dengan darah darah kalian yang muncrat tak karuan itu.
Apa ini? Tunggu? Aku tidak mengerti!.
"Henti—Crrrt
Tiba tiba darah Aroon terlempar karna dia terus bergeleng geleng.
Dan darah itu mendarat tepat keara mulutku yang sedang terbuka.
"Tcuih" aku meludahkan darah yang hampir tertelan itu.
"Areen kau bajingan..."
"Sialan Aroon kau..."
"Haaah" aku menghela nafasku dan mengangkat kedua tanganku.
Aku mendaratkan pukulan keras di kepala 2 anak kembar itu secara bersamaan.
"Hentikan perkelahian kalian, bajingan"teriakan keras keluar dari mulutku.
Kedua pria itu tiba tiba terhenti beradu mulut dan memutar mata mereka kearaku.
"Berhenti berkelahi dan berikan aku penjelasan dengan benar?"ucapku menaikan nada suaraku.
aku menyikap bagian poniku yang berantakan dan menunjukan sebagain kecil keningku.
"Sebenarnya kalian ini umur berapa?"ucapku dengan wajah jengkel.
Mataku bergerak dan melihat keara anak kembar itu.
Mereka mematung dengan mata terbuka lebar.
"Apa?"tanyaku sarkas.
"Areen, tuan Karllan baru saja memukul ku... Dan rasanya sakit. Artinya ini bukan mimpi"ucap Aroon bersemangat
"Aku tidakk akan mencuci rambutku selamanya, agar aroma tangan karish tetap melekat di wajahku"ucap Areen
"Apa apaan anak kembar ini?, apa mereka.... Sinting!"
"Diam...."ucapku menatap kedua pria itu dengan tajam.
Ssrrrk
Tiba tiba mereka duduk di lantai, dan hal mulai terasa Dejavu...
"Ma-maafkan kami"teriak anak kembar itu tiba tiba bersujud.
"Benar benar Dejavu.... Kira kira sudah berapa orang yang bersujud di depan kakiku?"
Aku bahkan enggan memikirkannya lagi karna sudah terlalu sering.
Mataku seakan tak bisa mengerti lagi dengan tingkah 2 orang di hadapanku ini, tiba tiba mereka bersemangat lalu tiba tiba mereka berlutut.
"Mengapa sifat manusia bisa begitu rumit?"
"Namun aku harus memastikan hal yang paling penting sekarang!"
"Haah..."
"Ah sial... Aku kehilangan ketenangan karna 2 pria ini..."
Srrrt
Aku menarik sebuah kursi kayu yang tak jauh dariku lalu duduk sambil menyilangkan kakiku
Mataku terpaku pada mereka berdua, menatap lekat tanpa berkedip sedikitpun.
" jelaskan secara singkat maksud dari perkataan kalian tentang PC, karakter dan game apalah itu?"ucapku yang terus memegang kepala ku yang seakan ingin meledak.
"Untuk sekarang mari kita dengar cerita mereka"
Kedua anak kembar itu saling bertatapan...
Lalu
"Sebenarnya kami berdua—
_____
Di sisi lain dalam ruangan yang terlihat mewah.
terdapat beberapa 5 kepala keluarga bangsawan dari berbagai gelar yang duduk di kursi kursi dengan wajah serius.
"Bagaimana ini, tuan Olwen.... Semuanya sudah sampai ke telinga para bangsawan lain"ucap seorang pria tua berambut putih yang sudah berkeriput.
"Iya itu benar.... Jika terus begini keterlibatan kita dalam kasus panti asuhan ini akan terbongkar"ucap pria parubaya berambut coklat tua.
"Keterlibatan apa maksudmu Tn. Eileen. Aku mensponsori panti itu atas rekomendasi darimu. Kaulah yang seharusnya menanggung semua masalah ini"teriak pria berambut hijau tua parubaya.
"Tn. Seken tolong tenang dulu. Kita harus memikirkan solusinya dengan matang dan mengatur rencana. Agar kaisar tidak mengetahui kalau kita juga terlibat dengan kasus penjualan organ organ ini"ucap seorang pria berambut pirang yang begitu tenang.
Ketika 4 orang itu mulai saling beradu mulut, hanya 1 pria yang terdiam disana.
Dia duduk sembari terus berfikir, dia menatap 4 rekannya dengan hati hati.
Dia memakai sebuah Bros berwarna ungu mudah yang terdekat di dasinya. Pakaiannya juga terlihat sangat mewah dibandingkan 4 orang lainnya.
"Tuan Olwen, bagaimana menurut anda?"tanya pria berambut pirang
"Kita tidak punya pilihan lain, kita harus membunuh si brengsek itu"ucap Tn Olwen yang terlihat tenang.
"saya ragu kita akan mampu melakukan itu "ucap pria berambut pirang.
"Apa maksudmu Tn. Rengas. Memang siapa identitas nya?"tanya Tn Eileen bingung
"Orang itu adalah Grand Duke Utara, Karllan Vern karish"jawab rengas.
Brak
Tiba tiba tn. Olwen memukul meja keras.
"Sialan.... Duke karish.... Kenapa kau selalu saja menghalangi jalanku.... Kali ini aku pasti membunuh mu"teriak Olwen keras.
Pukulan itu cukup keras sampai membuat lubang di atas meja yang terbuat dari kayu itu..
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
