95. areeen

349 21 2
                                        

"areen telah gugur di Medan perang"
Kalimat yang tak perna kubayangkan selama ini, akhirnya muncul tanpa ku undang.

Beberapa hari yang lalu
Para rombongan yang dipimpin oleh Heront(karllan asli) tiba di wilayah barat.
Sontak mata mereka tampak terbelalak ketika melihat tembok setinggi 13 meter yang seharusnya kokoh tampak menjadi puing puing seolah-olah di grogoti oleh waktu.

gerbang setinggi 10 meter yang terbuat dari kayu setebal 10 cm itu tampak usang dan penuh goresan.
Heront perlahan turun dari kudanya dan mendekat keara gerbang.
Perlahan ia mengangkat tangannya dan menyentuh ujung pintu besar tsb

Braaak
Hanya dengan sentuhan kecil tanpa tenaga itu, pintu besar yang hanya tinggal separuh tsb jatuh dan membuat salju yang rapuh menjadi lebih padat.

Aroma darah kering dan bau bangkai perlahan tercium. Entah itu berasal dari bangkai para monster ataupun dari mayat mayat prajurit yang tampak setengah terkubur  salju.

Heront tampak berdiri di tengah hamparan putih yang penuh dengan bercak kecoklatan tsb.
"Tuan, saya sudah memeriksa kesekitar. Seperti nya para monster sudah pergi"ucap areen berdiri di samping Heront dengan pakaian hangat berbulunya.
"Tapi tetap waspada, kita tidak tahu kapan para monster itu akan datang kembali."ucap heront tampak memangku dagunya.

"Untuk sekarang perintahkan kepada para prajurit untuk mendirikan tenda-tenda, aku akan berjalan lebih jauh untuk memastikan korban yang selamat"ucap heront tampak memandang ke hamparan salju.
"Baik saya mengerti"ucap areen sedikit bersenandung lalu pergi meninggalkan Heront.

"Mengapa dia begitu bersemangat?"ucap heront tampak bingung.
"Dia mungkin tidak sabar untuk pulang"ucap Renete yang menyahut.
"Hmm?, apa karllan menjanjikan sesuatu padanya sampai sampai dia begitu bersemangat "ucap heront menatap Renete.

"Kalau tak salah, tuan akan menemani dia berkeliling Utara seharian penuh. setelah dia kembali dari wilayah barat "ucap Renete tertawa kecil.
"Tapi sebelum itu..."perlahan Renete menghentikan tawanya.
"Sepertinya wilayah barat, benar benar sudah di luluh-lantakan oleh monster. Mungkin karna sedang musim dingin, pembusukan mayat m njadi lebih lambat dan aroma busuk tidak terlalu tercium. Namun jika perang ini terjadi di musim panas, aku ragu hidungku akan bertahan dengan bau bau menyengat dari mayat mayat yang di kerumuni belatung belatung yang lapar"ucap Renete menatap gundukan-gundukan salju yang tak lain adalah tubuh-tubuh para prajurit yang telah gugur.

"Baiklah... Semuanya mari kita mulai bekerja"ucap areen sembari mengangkat tangannya dengan semangat.
"Yaaaa..."jawab para kesatria juga bersemangat.

Perlahan matahari yang terbit kembali terbenam.
Cahaya obor mulai menyalah merah di depan tenda yang berdiri tegak.
Hari pertama kedatangan mereka tampak begitu sampai tanpa sedikitpun monster.

Malam itu suasana begitu sepi, bahkan suara buruk ataupun jangkring tak terdengar sedikitpun seolah-olah para serangga tsb telah berpindah tempat.
Diluar tenda terdapat beberapa kesatria yang berjaga di dekat api unggun yang di gunakan sebagai alat untuk menghangatkan tubuh.

Tuk
Tuk
Tuk
Suara ketukan terus terdengar dari gerakan ujung jari Heront yang mengenai meja kayu didepannya.
"Bagaimana kondisi sekitar?"tanya Heront yang sedang duduk di kursi.
Matanya bergerak keara 3 orang yang ada bersamanya.

"Saya sudah mencari keara gerbang selatan, namun tak ditemukan satupun korban selamat"ucap Renete dengan wajah datar.
Matanya tampak redup seolah mengasihani keadaan yang menimpa wilayah barat.

"Untukku, aku sudah menyusuri beberapa desa yang berjarak 1-2 km dari gerbang utama. Namun yah begitulah... Kebanyakkan yang tersisa hanyalah sisa puing puing serta mayat yang tergeletak begitu saja"jawab areen menjawab

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang