Di sebuah kasur lebar itu, tampak seorang pria berambut perak terbaring dengan kondisi normal, namun anehnya entah mengapa pria itu masih belum membuka matanya.
Perlahan dari kegelapan terdengar langkah kecil mendekat keara kasur, muncul seseorang yang memakai tudung sampai menutupi kepalanya.
Pria itu melangkah sampai ia persis di samping kasur.
Perlahan pria itu menurunkan tudung yang sejak tadi menutupi wajahnya, dan tampak rambut pirang yang indah serta wajah rupawan yang terlihat sama persis dengan pria yang sedang terbaring.
"Bagaimana kabarmu kak?"ucap pria itu dengan ekpresi datar.
Lalu tangannya mulai merogoh kantung yang ada di balik tudungnya dan perlahan mengeluarkan sebilah belati dari sana.
Pria itu mengangkat belati itu dengan kedua tangannya.
"Selamat tinggal, kakak!"ucap pria itu sembari mengarahkan belati tsb tepat di dada pria yang sedang terbaring.
Namun belum sempat belati itu mengenai tubuh pria yang terbaring, pria itu langsung terdorong oleh seseorang yang menerobos masuk.
Pria itu sedikit terdorong dan menjatuhkan belatinya sampai mengenai sepatu hak tinggi yang dipakai seorang gadis yang baru saja menerobos masuk.
"Apa yang kau lakukan, Reeves"teriakan wanita berambut perak itu keras.
Air mata tampak membasahi piyama merah mudah yang sedang ia kenakan.
"Jangan menghalangi ku, Leamona"ucap Reeves menatap dengan ekpresi datar.
"Menghalangi?, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu. Akan ku tanyakan sekali lagi. Apa yang sedang kau lakukan dengan belati itu"teriak Mona semakin keras.
Leamona menguatkan tekatnya dan mencoba melangkah perlahan.
Reeves diam sesaat lalu menunjuk Trance yang masih tak sadarkan diri.
"Dia hanya akan menghalangi rencanaku, lebih baik dia mati saja"ucap Reeves menatap Trance dengan ekspresi datar.
"Rencana, aku sama sekali tak mengerti. Memang apa hubungan kematian Trance dan rencanamu?"ucap Leamona
Revees tak bicara lagi dia hanya diam sembari menatap Mona yang semakin mendekat.
Lalu ketika Mona sudah berada di hadapannya.
"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?"ucap Mona sembari menggenggam tangan Reeves yang sedang memegang belati.
"Mona..."ucap Reeves sembari menatap Mona dalam dalam.
"Ikutlah denganku, mari pergi dari sini. Tempat ini bukanlah rumah kita"ucap Revees
"Kakak, mengapa kau mengatakan hal tak masuk akal itu. Ini adalah kediaman Karish yang tentu saja ini rumah kita"ucap Mona melirik kakaknya.
"Memang benar tempat ini dulunya adalah rumah kita, tapi sekarang sudah bukan lagi Mona. Sejak pria itu tiba tiba muncul, kita sudah kehilangan rumah beserta ayah kita, Leamona"ucap Reeves menyentuh pundak Leamona dengan tangan kirinya.
"Apa maksudmu kakak, siapa pria itu?. Serta apa maksudmu kita telah kehilangan ayah kita"ucap Leamona kebingungan.
"Mengapa kau bicara seolah-olah ayah bukanlah ayah kita"ucap Mona sembari menatap Reeves.
"Karna pria itu memang bukan ayah kita "ucap Reeves meyakinkan Leamona
Reeves menepuk pundak Leamona lembut lalu bicara dengan suara seolah berbisik
"Ada jiwa asing yang masuk kedalam tubuh ayah, jiwa asing itu bukanlah manusia Leamona. Melainkan seekor iblis yang sedang menyamar dan memakai wajah ayah"ucap Reeves.
"Tidak mungkin"ucap Leamona melepaskan genggaman tangannya dari lengan kanan Reeves.
"Kau pasti sedang menipuku, jiwa asing masuk kedalam tubuh ayah?, Itu sangat tidak masuk akal. Jika di tubuh ayah adalah jiwa orang lain, lalu bagaimana jiwa ayah yang sebenarnya"ucap Mona mencoba menepis dengan tawa.
"Ayah sudah mati, Mona"ucap Reeves keras sembari memegang kedua pundak Leamona.
"Karna hal itulah"ucap Reeves mengangkat kedua tangannya dari pundak Leamona.
Lalu perlahan ia menjulurkan tangan kanannya pada Leamona.
"Mari kita kembalikan jiwa ayah kita"ucap Reeves tersenyum tipis.
"Hah?"ucap Leamona tampak bingung.
"Ceritaa nya panjang, namun kau hanya perlu tahu kalau aku sudah bertemu dengan seseorang yang mampu menemukan serta mengembalikan jiwa ayah ketubuhnya kembali"ucap Reeves tampak sumringah.
"Reeves sadarlah, orang itu pasti menipumu. Meskipun dia bisa melakukannya kemungkinan besar orang itu berasal dari sekte sesat.
Bukankah kau tahu jika kau bermain dengan sihir hitam kau akan berakhir di alat pancung"ucap Leamona
"Tenang saja Leamona, orang itu bukan berasal dari sekte sesat ataupun pengguna ilmu hitam. Beliau adalah salah satu Pendeta magang yang begitu beriman kepada dewa takdir. Jadi semua ini murni bantuan dari dewa"ucap Reeves menatap Leamona dengan yakin.
Leamona terdiam lalu perlahan ia melirik keara kasur.
"Apa anda sudah mendengarnya, tuan"perlahan suara Leamona terdengar seperti suara lelaki yang cukup berat.
"Hmmm dan jelas sekali"ucap suara pria dari Ara kasur.
"Apa?"ucap Reeves langsung menoleh keara kasur.
Tampak seorang pria berambut perak terbaring disana dengan mata terbuka, kemudian pria itu bangkit dan mengambil posisi duduk.
"Sial "ucap Reeves mencoba untuk kabur lagi.
Namun kali ini tangannya di genggam erat oleh Leamona yang ada di hadapannya.
Lalu perlahan sosok Leamona yang tampak cantik d Ngan piyama cerahnya berubah menjadi seorang pria berambut merah mudah yang rambutnya di ikat sehingga menunjukan pupil abu-abu nya yang gelap itu.
Aroon memegang pria itu begitu kuat sampai sampai Reeves tak mampu bergerak.
Lalu brak
Aroon dengan paksa menundukkan reeves ke lantai sampai akhirnya dia berlutut tepat di hadapan karllan.
Pria berambut perak itu duduk di ujung kasur sembari melipat kaki kanannya di atas kaki kiri.
"Lepaskan aku, dasar iblis"teriak Reeves tepat di wajah karllan.
"Jujur saja, sebenarnya aku sangat ingin membunuhmu saat ini juga. Namun aku tak bisa karna aku masih menghormati ayahmu"ucap karllan bicara dengan wajah datar.
"Tap-"jangan bicara seolah-olah kau mengenal ayahku, dasar iblis menjijikan"ucap Revees memotong kata kata karllan.
Tangan karllan yang awalnya hanya terlipat di atas pahanya mulai bergerak dan brak.
Ia meraup wajah Reeves.
"Aku sedang berbicara, jangan potong kata-kata ku"ucap karllan menarik wajah Reeves mendekat.
"Seperti kau sudah di ajari sopan santun oleh karllan sejak kau masih menyusu, tapi sifat kurang ajar ini berasal darimana?. Apa dari ibumu yang hina itu?"ucap karllan dengan wajah kesal.
"Kau bisa saja memotong kata-kata teman ataupun pelayanmu sesukamu. Tapi kau tidak bisa melakukan itu denganku. Meskipun aku bukan ayahmu, usiaku lebih tua darimu. Dan sudah sewajarnya kau bicara sopan kepadaku. bahkan anjing yang ku pelihara saja mampu mengerti sopan santun dengan benar, apa aku perlu membuka kepalamu dan mengganti otakmu dengan otak aniingku agar kau mengerti?"ucap karllan meraup wajah Revees semakin keras.
Perlahan darah mulai menetes dari arah kuku karllan sedikit menancap di area wajah Revees.
"Tapi untuk kali ini aku akan memaafkanku"ucap karllan tersenyum sembari melepaskan tangannya.
Tampak beberapa luka kecil berasal dari tempat karllan menyadarkan jari-jarinya.
"Kau.. benar benar iblis"ucap Revees sembari menatap karllan dengan tajam.
"Hei menyebut seseorang sebagai iblis.... bukankah itu keterlaluan"ucap karllan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Hmmmm.... Tapi..."ucap karllan perlahan melirik keara langit yang begitu gelap.
"Panggilan iblis itu terdengar cukup hebat. Hei Aroon menurutmu jika aku menjadi seorang raja iblis , apa aku akan menjadi raja iblis yang kuT atau mungkin malah sebaliknya?"tanya karllan tiba tiba melihat keara Aroon sembari tersenyum.
Aroon perlahan mengangguk.
"Saya yakin, anda akan menjadi raja iblis terkuat. Tuan"ucap Aroon tampak tersenyum.
"Aku tak peduli kau mau jadi raja iblis atau apapun. Tapi kembalikan tubuh ayahku. Tubuh ayahku tak pantas di isi oleh jiwa gila seperti mu"ucap Revees menatap tajam keara karllan.
Karllan menatap Reeves lalu perlahan tersenyum.
"Sebenarnya jika di pikir-pikir mungkin aku memang gila... Karna sekarang aku sedang berfikir apa yang harus ku lakukan dengan orang orang yang telah menghina Leamona. Aku berfikir setiap malam cara membunuh dan menyiksa mereka, bahkan aku berfikir untuk menghancurkan seluruh kuil yang ada di kekaisaran karna menganggap para dewa sama sekali tak berguna, sebab jika mereka berguna bukankah seharunya mereka memberikan kebahagiaan kepada Leamona. Namun para dewa seolah menghina Leamona, Leamona harusnya memiliki ending yang bahagia menjadi seorang ratu dan dicintai oleh putra mahkota. Tapi dewa takdir itu malah mendatangkan seorang gadis menjijikan dan membuat Leamona menangis"ucap karllan berbicara smbari menatap Revees.
"ketika aku yang bukan ayah kalian sedang memikirkan bagaimana membuat Leamona bahagia. Kalian berdua yang merupakan kakak kandungnya berada dimana saja selama ini?"ucap karllan merubah senyumannya menjadi wajah penuh Amara.
"Aku sangat ingat apa yang kalian lakukan di pesta itu, dan aku sangat ingin membunuh kalian. Mengapa kalian melakukan itu kepada anakku?. Jawab aku Revees vern Karish"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
