"Jawab aku nenek"teriakku keras menatap wanita parubaya yang berdiri tak jauh dari hadapanku.
Namun yang hanya bisa wanita itu lakukan hanyalah memalingkan wajahnya keara lain untuk menghindari kesalahannya.
"Sial seharusnya aku tidak menghabiskan tenagaku untuk orang seperti mu"ucap ku berbalik.
Grrrt
Entah apa yang terjadi, tiba tiba perutku terasa begitu sakit dan panas.
"Apa ini?"ucapku kebingungan memegang perutku yang teramat sakit.
Rasa panas yang menjalar di tubuhku, perasaan yang begitu familiar untuk tubuh ini.
Sensasi panas ketika racun mulai berjalan melewati pembuluh darah.
Aku memandang Louise
"Apa ada sesuatu pada teh itu?, tapi teh ini di seduh langsung oleh Louise. Tidak mungkin Louise akan meracuniku"
"Tuan apa anda baik baik saja?"tanya Louise perlahan mendekat kearaku.
"Emh perutku hanya sedikit sakit "ucapku pelan
"Ketika aku meminum teh yang di tuangkan oleh Louise tubuhku masih baik baik saja, lalu kenapa tiba tiba?"
Lalu ingatan ketika nyonya Marlia yang menumpahkan teh keatas kepala ku langsung muncul.
"Tidak mungkin!"
Mataku bergerak dan melihat keara wanita yang memalingkan wajahnya.
Tampak senyuman yang cukup lebar dari sisi wajahnya.
"Wanita itu tertawa!"
Sesuatu mulai mengalir dari tubuh bawahku.
Cairan yang terasa panas mulai mengucur dengan pelan.
Dan rasanya sakit sekali.
"Tuan.... Anda berdarah"ucap Louise tiba tiba mengagetkan ku
Mataku sontak melihat keara kakiku, darah.
Aku mengeluarkan darah.
"Tidak mungkin, aku keguguran?"
"AGHHHKKKK"aku berteriak keras karna rasa sakit itu benar benar menohok perutku.
"Aku mendengar suara tuan "ucap Aroon yang tengah berada di rumah kaca bersama Areen dan Rachael.
Brak
Tiba-tiba Rachael berlari begitu tergesa
"Rachael ada apa denganmu?"tanya Areen mengikuti Rachael berlari.
"Aku mencium bau darah"ucap Rachael yang berlari semakin cepat.
Rachael keluar dari rumah kaca, matanya langsung tertuju kepada salah satu jendela yang berada di lantai 2 mansion.
Rachael terus berlari dan memanjat sebuah pohon yang berjarak 3 meter dari jendela tsb.
Dan
Grrrtak
Dia melompat dan menabrakkan tubuhnya ke jendela kaca yang memiliki ketebalan 4 cm tsb.
"Tuan...."Rachael berteriak begitu keras.
Ketika dia masuk kedalam ruangan itu, dia menemukan pria berambut perak yang terbaring tak sadarkan diri dengan darah terus keluar dari area celananya.
Tampak Laure yang tampak khawatir dengan keadaan Karllan, serta Louise yang berdiri dengan vas bunga yang sudah terbelalak di tangannya.
Lalu selain mereka bertiga terdapat seorang wanita parubaya dengan kepala yang dipenuhi darah dan seorang anak lelaki yang hanya diam tak menghentikan mereka.
Pria itu tampak tenang memperhatikan wanita parubaya itu yang menangis dipenuhi darah di hadapannya.
"Kau... Beraninya kau melukai tuanku"teriak Louise hendak menancapkan pecahan vas keramik itu ke wajah wanita parubaya itu.
Namun kali ini pria berambut hitam itu menangkap tangan Louise.
"Louise, ada apa ini?"teriak Aroon dan Areen yang muncul dari pintu.
"Tuan?"ucap Areen mendekat keara pria berambut perak yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kita harus membawa tuan ke kamarnya terlebih dulu untuk mengobatinya"ucap Areen mencoba memegang Karllan
Namun tiba tiba tangan Laure menipis tangan Areen begitu kencang.
"Jangan sentuh tuanku"ucap Laure yang tampak panik.
Dia mendekapa tubuh Karllan sangat erat dan tak mau melepaskannya sedikitpun.
"Maafkan aku tuan, aku salah"ucap Laure berbisik sembari terus mendekap Karllan.
"Laure"ucap Areen lembut.
"Tolong jangan mati tuan"ucap Laure membenamkan kepalanya ke dada Karllan.
Prak.
Tamparan keras dari tangan kanan Areen mengenai pipi Laure dengan tepat.
"Laure sadarlah, jika kau terus menahanku untuk membawa tuan ke ruang pengobatan. Kau akan benar benar melihat tuan mati sekarang"teriak Areen keras.
Tamparan keras itu langsung menyadarkan Laure dari semua khayalan buruknya.
"Aku mengerti"ucap Laure menggendong tubuh Karllan seolah menggendong seorang putri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Фэнтези"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
