34. Renete

2.7K 356 14
                                        

...
Tak memakan waktu lama perjalanan pun berakhir.
Pendeta itu turun di depan sebuah gerbang kuil yang terlihat berwarna keemasan dengan tinggi 4 meter itu.
Ia melangkahkan kakinya di jalan setapak dengan di iringi arshan.
Sudah terlihat 4 kereta kuda yang memiliki lambang nama setiap kuil yang sudah terparkir di luar kuil, bersamaan dengan 2 pendeta lain yang sudah menunggu.
Mereka  memakai pakaian pendeta berwarna putih dengan corak keemasan yang indah dan terbuat dari sutra.

Pria itu melangkahkan kakinya untuk menaiki 5 anak tangga menuju ke empat orang itu.
"Ku dengar kau masih mengabdikan diri di kuil yang bobrok itu ya, Renete..."ucap seorang pria berambut merah pekat yang memiliki tinggi 2 meter.
Pria itu memandang Renete dengan wajah seperti mencemoh dengan sedikit nada tawa ejekan.
"Pendeta Hatton, kata kata anda sangat tidak pantas"ucap arshan kesal.
"Hentikan Arshan, biarkan saja"ucap Renete merentangkan tangan kanannya untuk menghentikan arshan yang merasa kesal.

"Hentikan Hatton"ucap seorang pria berambut biru tua yang mendekat.
" menyebut kuil itu bobrok terlalu kejam. Dari pada bobrok bukankah itu lebih cocok di sebut sebagai kandang anjing"ucap pria itu tiba tiba terkekeh dengan wajah mengejeknya.
"Ya itu masuk akan, Pendeta Areola"ucap Hatton ikut tertawa.
"Kudengar jemaat yang datang ke kuil lampion hanyalah orang orang miskin dan gelandangan yang jarang sekali memberikan persembahan, apa kau mau ku kenalkan dengan bangsawan yang kukenal?"ucap Areola tertawa.
"Sialan 2 pendeta menjijikan in—"terima kasih, namun dengan sopan saya akan menolak ketulusan anda, pendeta Areola. Sebuah kuil seharusnya di gunakan untuk tempat berdoa dan tempat para jemaat untuk mencari ketenangan abadi setiap manusia tanpa perbedaan,bukan sebuah tempat yang mendiskriminasi seseorang berdasarkan persembahan yang mereka berikan"ucap Renete angkat bicara.

"Tch, kau masih sangat membosankan. Karna inilah kuil lampion tidak perna beruba sejak dulu"ucap Areola mencaci
"Hentikan Hatton, Areola. mengapa kalian selalu ingin memulai keributan saat bertemu dengan pendeta Renete. Apa kalian lupa siapa kalian?"ucap seorang pria berambut hijau mudah yang memiliki rambut panjang sepinggang.
Dia memakai kacamata yang cukup tebal.
"Kalian berdua itu adalah seorang pendeta, bagaimana bisa kalian mengeluarkan kata kata mencemooh sebuah kuil yang di iimani oleh sesama pendeta, sebagai pendeta seharusnya kalian adalah orang yang paling memahami kalau kuil adalah tempat berdoaa bukan tempat investasi"ucap Aruna dengan mata kata yang tersusun rapih , dia tak menggunakan kosakata yang kasar namun suaranya terdengar begitu tegas sampai membuat kedua pendeta dari tak bisa berkata-kata.

Perlahan pria itu melangkah keara Renete.
"Semoga dewa Keadilan selalu memberkati anda, Pendeta Renete"ucap pria itu menyilangkan tangan kanannya di depan dadanya..
"Terima kasih, dan semoga anda selalu di beri kesehatan oleh Dewi lampion, pendeta Aruna"ucap Renete menyilangkan tangan kanannya didepan dadanya.

"Astaga, apa kalian memulai keributan lagi?"ucap seorang pendeta wanita yang berjalan.
Wanita itu memiliki rambut berwarna merah tua, pakaiannya terlihat halus.
Wanita itu memiliki tinggi 165 berjalan dengan sepatu hak setinggi 5 cm, melangkah dengan berani dan cepat.
"Pendeta Diarena, tolong tunggu saya..."ucap seorang wanita berambut hitam yang mengikutinya dengan tergesa.
"Pendeta Diarena, anda harus sedikit memperhatikan pelayan anda. Karna langkah anda yang lebar dan cepat pelayan anda terlihat begitu kelelahan "ucap pendeta Aruna.
"Astaga, aku lupa lagi"ucap Diarena memegang kepalanya.

"Maafkan aku Luna, aku lupa"ucap pendeta itu meminta maaf kepada pelayannya.
"Tidak, Saya lah yang harus minta maaf karna tak bisa mengikuti langkah anda. Nona pendeta"ucap pelayan itu.

Penjelasan : setiap pendeta memiliki 1 pelayan yangdi sebut dengan calon pendeta mudah, pelayan pelayan ini dipilih atas kelayakan mereka oleh pendeta itu sendiri, setiap calon pendeta mudah akan menjadi pelayan untuk pendeta sebelum menjadi pendeta mudah. Tugas mereka adalah menyiapkan keperluan berkaitan dengan do'a dan kegiatan keagamaan.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang