65. Heront

1.3K 182 32
                                        

"Apa yang kau lakukan pada tanganku.... Aghhkkk"teriakan wanita itu memenuhi kereta kuda.
"Kusir hentikan keretanya, kusir"teriak wanita itu membuka jendela kecil yang berada di belakang kusir.
Pria berambut coklat tua yang merupakan kusir itu hanya diam dan tak menjawab kata kata wanita tua tsb.
Pria itu terus menjalankan kereta kuda seolah tak mendengar suara apapun.
"Hei kusir"teriaknya lagi.
Namun kusir itu terus saja mengabaikannya.

"Percuma saja, Nonya Marlia"ucap Heront yang masih duduk dengan rapih di kursi.
"Siapapun. Tolong aku"wanita itu berteriak keras.
Namun tidak ada satupun kereta yang tampak berpapasan dengan kereta yang mereka tumpangi.
Kereta terus berjalan dengan cepat menembus hutan dan jalan bebetaun.
Ketika kereta itu perlahan melambat, wanita itu langsung mengambil kesempatan dan melompat dari kereta kuda.

Tubuhnya yang ringkih harus bertabrakan dengan permukaan tanah yang kasar dan kotor.
Gaunnya yang indah juga harus tercampur dengan warna gelapnya lumpur.
Dengan rasa sakit yang masih menyelumitnya, wanita tsb mencoba bangkit.
Lalu matanya yang berwarna coklat tua itu mendapati dirinya sendiri sedang berada didepan pagar sebuah kapel tua yang tak terurus.

Kapel itu tampak seperti sudah lama di tinggalkan dengan lubang dibeberapa bagian kapel tsb.
"Dimana ini?"ucap wanita itu kebingungan.
Karna dia begitu yakin kalau saat perjalanan menuju Utara kereta mereka sama sekali tidak melintasi sebuah kapel.
Namun kenapa tiba tiba ada kapel disini?.

Prok
Prok
Terdengar suara tepukan tangan bersamaan langkah kaki yang mendekat dari belakang wanita tsb.
Tampak heront yang berjalan sembari bertepuk tangan.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau ini adalah tempat tujuan kita, nyonya Marlia?"tanya Heront bingung sembari membawa kantung Ghoni berwarna coklat yang cukup besar.

"Emh... Tapi itu memudahkan ku. Jadi terima kasih nenek"ucap Heront mengangkat sebuah palu besar yang terbuat dari baja.
Heront menghantamkan palu sebesar kepalan tangan orang dewasa tepat di kepala wanita tua itu.
Gerakan tangan Heront begitu cepat, sampai tanpa disadari tubuh wanita itu sudah terbaring di tanah yang lembab dengan darah yang mulai mencuat dari kepalanya.
"Aghhhhhhhh"teriakan wanita itu terdengar begitu indah seperti 3 bulan yang bersinar begitu terang di atas langit.

Rambut yang awalnya terikat dengan rapi menjadi berantakan, gaun yang tampak mewah dan elegan juga sudah tercemar oleh lumpur yang basah.
Wangi parfum yang mahal sudah bersatu dengan bau darah yang anyir.
Dan pria bernama Heront hanya berdiri disana melihat wanita parubaya itu mencoba kabur, wanita itu mencoba merangkak seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan.

Brak
Tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun, Heront langsung menghantamkan palu itu tepat di mata kaki kiri milik wanita itu.
Pukulan itu tepat mengenai tulang dan langsung mematahkan tulangnya.
"Agghhhhhhjkkkk"wanita itu berteriak keras..rasa sakit menjalar di tubuhnya.
"Tolong aku.... Siapa pun tolong aku"teriak wanita itu keras terus mencoba merangkak.
Tapi kali ini Heront tidak diam lagi.
Dia mengeluarkan seutas tali sepanjang 2 meter dari karung Ghoni yang berada di samping kakinya.
Dia mengikat kaki wanita itu dengan tali, dan mulai menyeret wanita itu keara kuda yang sedang terdiam tak jauh dari mereka.
Heront mengikatkan tali yang mengikat kaki wanita itu di kayu pengait yang ada di pelana kudanya.

"Apa yang ingin kau lakukan?"tanya wanita itu mencoba melepaskan ikatan pada kakinya.
Namun tali itu terikat begitu kencang ditambah dia dalam kondisi panik jadi entah mengapa tali itu menjadi mustahil di buka.
Heront menaiki kuda berwarna coklat tua itu, perlahan mengelus surai kuda tsb dengan lembut.
"Tidak tidak jangan"wanita itu mencoba mencabik tali tebak itu namun yang tercabik hanyalah kuku dan jari jari tangannya yanh mulai mengeluarkan darah.
"Mohon bantuannya, Leo"ucap pria itu tersenyum  lalu menepuk bolokng kuda itu.

Setelah hentakan itu dilakukan, kuda mulai berlari kencang.
Heromt dengan sengaja mengarahkan kudanya menuju Ara jalan yang penuhi banyak pohon dan akar.
Heront terus memandang kedepan sembari memegang tali kekang kuda.
Angin berhembus kencang melewati telinga Heront lalu disaat bersamaan suara benturan, teriakan, gesekan dan rasa sakit terus terdengar dari belakang punggungnya.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang