Tuk
Kami akhirnya mendarat dengan selamat kedataran.
Dampak dari nyanyian keras milik Areen membuat sekitar 200 pohon besar itu tumbang.
Areen menurunkan ku dari dekapannya.
Srrrt srrrt
Barrier yang terbuat dari akar tebal itu mulai saling melepaskan pegangan mereka, dan kembali kedalam tanah lagi.
"Areen, apa maksudnya itu tadi."ucap Aroon mendekat dan menarik kerah pakaian Areen.
"Oh kakak, ternyata kau masih hidup"ucap Areen tersenyum.
"Kenapa kau tidak mengatakan lebih awal kalau kau akan menghancurkan setengah hutan, jika aku terlambat sedikit saja. Kami akan benar benar mati tadi"ucap Aroon marah.
"Emh?, tapi kau tidak mati kan kakak"ucap Areen tertawa.
"Kau das—"berhenti"ucapku berjalan lewat di Tengah tengah mereka.
"Laure, apa kalian menemukan pendeta Renete?"tanyaku kepada Laure yang masih terduduk bersama dengan Louise.
"Ya kami menemukannya tuan, tapi..."ucap Laure ragu.
"Ada apa?"tanyaku berjalan mendekat keara Laure.
Trrrt
Aku langsung menghentikan langkahku, saat melihat sebuah kepala yang yang sudah di kerubungi semut.
Aku menyentuh kepala itu, wajahnya sudah terbakar habis dan hampir tak bisa dikenali.
Darah yang mengalir di tanah tampak masih belum mengering, yang artinya dia belum lama mati
"Rachael apa kau yakin ini kepala pendeta itu?"ucap Emily yang mendarat dengan tubuh manusianya.
"Woof woof"ucap Rachael sembari mengangguk.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan"ucap Emily kebingungan.
Rachael tampak terdiam sebentar, lalu perlahan mengubah wujudnya menjadi wujud manusia.
"Emh tidak salah lagi, aku mengingat aroma pendeta itu dengan benar"ucap Rachael yang sudah berada dalam tubuh manusia.
"Meski hanya sedikit, aku sangat yakin kalau pria ini adalah pendeta itu"ucap Rachael yang menjelaskan dengan tubuh yang masih telanjang bulat.
Jiiiiit
Semua mata mulai memperhatikan Rachael yang terus menjelaskan dengan serius.
"Emh? Ada apa ?"tanya Rachael kebingungan.
"Emh, penisku lebih besar darinya"ucap Aroon yang langsung mengangguk.
"A? Apa?"ucap Rachael tambah kebingungan.
"Rachael jangan berkecil hati, benda itu pasti akan tubuh seiring dengan waktu berjalan"jawab Areen mengangguk.
"ha? Haaaahhhh kemana kalian melihat bajingan"teriak Rachael langsung menutupi area penisnya yang tampak begitu jelas sejak tadi.
"Rachael jangan khawatir, aku akan selalu menerima mu"ucapku menepuk pundak Rachael.
"Tuan anda jugaaa?!"ucap Rachael menunjukkan wajah kesal.
"setidaknya pakailah celana ini dulu"ucap Louise memberikan celana dasar panjang berwarna coklat tua kepada Rachel.
"Ah terima kasih"ucap Rachael mengambil celana itu.
"Tapi tuan, saya merasa kurang yakin tentang kepala ini"ucap Laure berbisik kepadaku
"Emh...."gumamku yang terus menatap kepala itu.
"Aku tak bisa mengenalinya sedikitpun, apa ini benar benar pendeta itu"gumamku kebingungan.
Cling
Tiba tiba ada pantulan cahaya mengenai mataku, cahaya itu berasal dari pantulan sebuah benda yang terkubur oleh dedaunan kering yang berada tepat di samping kepala itu.
"Apa itu?"ucapku mengambil benta tsb.
Benda itu tampak seperti kalung berwarna perak yang memiliki liontin cukup besar.
Clak
Aku membuka liontin yang berada di kalung tsb.
Mataku terbelalak seketika saat melihat seutas rambut berwarna hitam bergelombang di dalam liontin itu.
Rambut itu tampak cukup panjang.
"Ibu bukanlah kepala milik pendeta Renete, cepat cari lagi di sekitar sini"teriakku keras sembari menggenggam liontin itu.
"Baik..."jawab Emily,Louise, Rachael dan si kembar bersamaan sembari langsung berpencar.
Hanya tersisa Laure disana, dia tampak kebingungan.
"Tuan apa maksud anda, bagaimana anda bisa yakin ini bukanlah tubuh pendeta Renete?"tanya Laure yang bingung.
"Kepala in—"tuan Karllan, tolong kemari "tiba tiba Areen muncul tepat di belakangku.
"Ada apa?"tanyaku yang masih menggenggam kalung itu
"Kami menemukan tubuh yang tak memiliki kepala sekitar 100 meter dari sini"ucap Areen begitu tenang
"Bawa aku kesana"ucapku berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
