"Tuan apa yang sedang anda lakukan?"terdengar suara bersamaan suara pintu yang perlahan terbuka.
Aku mendongakkan kepalaku dan melihat si kembar yang masih dalam keadaan normal.
,"syukurlah"gumamku sembari berdiri.
"Ayah Areen, Ayah Aroon selamat datang. Saya sedang bermain"ucap Leamona yang tersenyum.
"Bermain?, sepertinya menyenangkan, aku juga ingin ikut serta"ucap Aroon tampak bersemangat.
Grap
Dengan cepat tangan kiriku memegang pundak Aroon.
"HENTIKAN"ucapku dengan suara lebih berat dari biasanya.
Aku mencengkram bahu itu dengan begitu keras sampai membuat Aroon terduduk.
"Tu-tuan anda menyakiti saya"ucap Aroon yang merasa kesakitan.
"Cuci wajah kalian sekarang, kita tidak bisa menunjukkan wajah yang tidak kompeten kepada para tamu"ucap ku menatap mereka dengan tajam.
Seketika ruangan itu terasa begitu sunyi.
Hanya terdengar suara jam dari saku pakaianku di ruangan tsb.
"Ba-baik"ucap mereka bersamaan.
"Padahal wajahku tampak begitu cantik, sayang sekali jika harus di hapus"ucap Rachael yang sedikit menggerutu.
"Haaah?"ucapku keras sembari melirik keara Rachael.
Bump
Tampak Laure yang menutup mulut Rachael dengan kedua tangan kanannya.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Rachael?"tanyaku tersenyum dengan lembut sembari menutup kedua mataku.
Aku bahkan sedikit memiringkan kepalaku agar bisa mendengarkan ucapan Rachael dengan jelas.
Srrk srrrk
Tak ada suara dari mulutnya hanya terdengar suara angin dari gelengan kepalanya yang cukup kencang.
"Anda bisa pergi terlebih dahulu tuan,Kami akan membersihkan wajah kami terlebih dahulu lalu menyusul anda menyambut tamu"ucap Laure tersenyum.
"Baiklah, aku akan pergi "ucapku mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.
Aku melangkah cukup cepat bersamaan dengan heront dan si kembar menuju pintu utama tempat dimana beberapa pelayan sudah berada.
Ketika aku menuruni tangga Megah yang terbuat dari beton yang dilapisi dengan indahnya porselin yang mengkilap.
Langkah cepat itu mulai melambat ketika sosok 3 orang yang tak asing tampak di mataku.
"Akan jadi milikku?, apa itu benar?"tanya Giselle
"Tentu saja, ketika kita sudah m nikah kau akan memakai marga Karish dan kediaman Karish juga akan menjadi milikmu"ucap trance yang tampak begitu tergila-gila dengan gadis berambut pirang sebahu itu.
Gadis itu tampak begitu cantik dengan gaun berwarna putih yang menunjukkan betisnya.
Dia memakai sepatu berwarna abu abu yang begitu indah mirip seperti sepatu yang ada di film Cinderella.
Yah benar, pakaian, sepatu serta aksesoris nya tampak begitu cantik.
Namun yang merusak keindahan itu tak lain adalah wajah gadis itu sendiri.
"Yang akan menjadi milikmu?, apa kau sudah menjadi gila setelah hidup setengah tahun di kekaisaran. Trance?"tanyaku dengan nada mengejek.
Aku menatap trance dari ketinggian seolah memperlihatkan kalau kedudukan trance itu tidak lebih tinggi dari anak tangga yang sedang ku pijak sekarang.
Aku memutar mataku melihat keara anakku yang lain, mereka memang memiliki wajah yang tampak sama persis.
Namun berbeda dengan trance yang memiliki mata lebar dengan bulu mata panjang.
Reeves memiliki mata yang sedikit tajam dan panjang tampak seperti seekor kucing. Matanya yang berwarna ungu tua begitu indah dipadukan dengan alisnya yang tebal dan tahu lalat di ujung bibir kanannya.
Ketika mata kami saling bertatapan.
Reeves membungkukkan sedikit kepalanya, ia menarik tangan kanannya tepat didadanya.
"Lama tidak bertemu ayah, bagaimana kabar anda akhir akhir ini?"suara Reeves juga terkesan lebih lembut dari pada suara Trance yang begitu bersemangat.
"HM?!, setidaknya kau tak melupakan tata kerama seperti kakakmu. Reeves"ujarku sembari berjalan menuruni anak tangga.
Aku perlahan mendekat keara anak anak itu, dan plak
Seketika tamparan dari punggung tanganku menyentuh wajah kiri Reeves.
"Tuan Reeves?"ucap Giselle yang kaget dan segera menghampiri Reeves yang terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
