"Tuan Duke, apa niat anda sebenarnya?"ucap pria berambut hitam itu perlahanmenaruh gelas teh yang ia pegang keatas tatakan yang terbuat dari keramik..
"Hmm?, apa maksud anda. Tuan pendeta?"tanyaku mengambil gelas teh yang sudah dingin.
"Alih-alih melaporkan kejahatan ini kepada pendeta agung atau pihak berwajib. Mengapa anda malah mengatakan hal ini kepada kami yang merupakan pendeta dari kuil kecil yang tak memiliki pengaruh sedikitpun?"ucap pendeta berambut hitam itu perlahan tersenyum tipis sembari menatapku dengan kedua matanya.
Mata nya yang berwarna deef blue sky terlihat begitu tenang
"Dalam perjalan ke sini, kalian pasti sudah menyadari kan kalau tak ada 1 pun kuil yang berdiri di kota Nornem ini"ucapku meminum teh yang sudah dingin itu.
"Jika di pikir pikir, kami memang tidak melihat 1 pun kuil saat melewati kota ini"ucap arshan menatap pendeta berambut hitam.
"Saya sama sekali tak mengerti maksud anda, tuan duke. Bukankah anda adalah seorang bangsawan yang tak percaya akan kehadiran dewa/Dewi di dunia ini?"ucap pendeta berambut hitam itu tak sedikitpun menghilangkan senyuman diwajahnya.
"Sepertinya ibukota benar benar kehabisan bahan gosip sehingga mereka malah menyebarkan berita yang tidak penting tentang keyakinan seorang bangsawan"ucapku menaruh gelas teh yang sudah kosong.
"Seperti yang anda tahu, saya Karllan Vern karish sama sekali TIDAK PERCAYA dengan dewa ataupun Dewi, bahkan ketidakpercayaan ini sudah berubah menjadi kebencian yang mendalam terhadap mereka"Ucapku tersenyum tipis.
"Tuan Duke bagaimana bisa anda mengatakan hal yang begitu tidak sopan didepan seorang pendeta"ucap arshan yang marah.
Srrrt
Pria itu merentangkan tangan kanannya didepan arshan untuk membuat arshan tenang.
"Saya benar benar tidak tahu alasan apa yang sudah membuat anda begitu membenci Dewi/dewa. Namun Dewi dan dewa telah menciptakan manusia dari gambaran diri mereka sendiri. Setiap manusia diciptakan dengan adil bahkan dari segi apapun "ucap pendeta berambut hitam itu bicara begitu tenang.
"Adil?, fffttthhhhh hahahaah"
"Tuan Duke, anda sudah berlaku benar benar tidak sopan. Bahkan jika anda tidak menyakini suatu keyakinan anda tidak berhak untuk menertawakan keyakinan orang lain"ucap arsha.
"Astaga maafkan saya, tuan pendeta. Namun yang di katakan oleh tuan pendeta itu sedikit membuat perut saya tergelitik "ucapku mencoba menghentikan tawaku.
"Tapi saya tidak mengatakannya tanpa asalan tuan pendeta. Karna dewa terkadang bukanlah mahluk yang menegakan keadilan seperti yang anda jabarkan tadi. Bukankah anda sudah melihat bukti nyatanya di ibu kota "ucapku mengarahkan pandanganku keara jendela.
Langit yang merah mulai menggelar bersamaan dengan matahari yang sudah berubah menjadi bulan.
"Orang miskin selalu menjadi miskin dan orang kaya terus bertambah kaya. Orang kaya mengambil hak milik orang miskin tanpa belas kasihan dan orang miskin hanya bisa menangisi haknya yang di rampas tanpa bisa melakukan apapun . Seorang pelacur yang hidup dengan menjual tubuhnya dianggap sebagai manusia kotor, dan para bangsawan yang sering berdonasi di kuil dengan jumlah besar dengan uang penggelapan di anggap sebagai jemaat yang taat. Padahal mereka berdua sama sama mendapatkan uang dengan cara yang hina namun mengapa hanya pelacur itu saja yang di anggap kotor?"tanyaku menatap pria itu kembali.
Kedua pria itu terdiam tak mampu menjawab pertanyaanku.
Ketika pria berambut hijau itu hanya mengarahkan pandangannya ke lantai,pria berambut hitam tetap menatapku dengan lekat matanya terlihat berbinar seakan dia ingin menyangkal kata kataku.
Tapi yang kukatakan tadi adalah kebenaran, dengan demikian jika dia terus tetap menyangkal pernyataan ku dia akan melanggar salah satu peraturan sebagai pendeta 'jangan perna menyangkal kebenaran walaupun kebenaran itu sangat menyakitkan '.
Aku mengambil sebuah lomcengan yang berada di atas meja tak jauh dariku.
Teng teng lonceng itu berbunyi, dan perlahan seorang pria parubaya masuk kedalam ruangan itu sembari membawa nampan berisi teko keramik yang berukuran lebih kecil dari teko bundar yang sudah ada di meja serta sebuah kotak yang terbuat dari besi tipis.
"Tolong buatkan teh baru untuk tamu kita"ucapku kepada pria parubaya itu.
Pria itu mengangguk.
Lalu mulai membuka kotak berisi daun teh itu, ia menyentuh teh dengan perlahan membiarkan aroma dari daun teh itu terangkat keudara.
Lalu menyajikan segelas teh yang hangat kepada kami bertiga.
"Saya permisi"ucap Orkan memegang nampan berisi teko kecil yang kosong.
"Tolong katakan kepada dapur kalau kita akan menjamu tamu kita malam ini, jadi tolong jangan ada sedikitpun daging babi dan daging sapi di meja malam ini"ucapku
"Baik saya mengerti tuan Duke. Kalau begitu saya permisi"ucap Orkan membungkuk
Aku hanya mengangguk.
Clak pintu tertutup bersamaan Orkan yang pergi dari ruangan itu.
Aku menyodorkan gelas teh itu dihadpan kedua pendeta yang masih diam seribu bahasa.
"Silahkan dinikmati, teh akan lebih enak jika di nikmati dalam keadaan hangat"ucapku yang menyesap teh berwarna keemasan itu.
"sepertinya Orkan mengetahui kalau anda berdua kurang bisa menikmati teh yang rasanya begitu kuat. sehingga dia memilih menyeduh teh chamomile yang memiliki rasa lembut dan ringan"ucapku tersenyum tipis sembari sedikit menikmati aroma bunga chamomile yang begitu khas.
"Apa anda tahu tuan pendeta, teh chamomile biasanya juga digunakan sebagai obat untuk orang yang mengalami insomnia karna memiliki khasiat untuk menenangkan saraf yang tegang sehingga membuat kualitas tidur kita akan menjadi lebih baik. Namun kita tidak sedang membahas tentang teh sekarang "ucapku lalu perlahan menegak teh lagi.
"Meskipun saya membenci dewa/Dewi, saya tidak memaksakan para warga yang ada di kota ini untuk membenci dewa sama seperti yang saya lakukan. Setiap orang memiliki hak untuk menyakini hal yang meraka yakini asal hal itu tidak merugikan orang lain"ucapku perlahan meletakangelas teh yang sudah tinggal setengah.
Saat mendengar kata kata itu, pria berambut hitam itu perlahan bergerak dan meraih segelas teh di hadapannya.
"Bahkan, hampir dari 70% warga kota Nornem adalah seorang jemaat Dewi xeyana yang sering juga disebut sebagai—" dewi lampion"ucap arshan perlahan mengangkat wajahnya.
"Benar, dewi itu juga disebut sebagai Dewi lampion"ucapku tersenyum sembari mengangguk.
"Tapi Dewi lampion hanya ada berada di ibukota yang jaraknya begitu jauh, jadi kebanyakan warga desa menahan sendiri patung Dewi xeyana dan berdoa dirumah mereka masing masing"ucapku mengeluarkan sesuatu dari dalam jas ku.
Sebuah patung yang hanya seukuran telapak tangan.
"Ini adalah bukti betapa cintanya warga kota Nornem dengan Dewi lampion"ucapku mensru patung itu di atas meja.
"Patung ini terlihat begitu indah, dari pahatan yang tergambar di patung ini. Bisa dilihat jelas kalau pembuat patung ini begitu berhati hati terhadap setiap detailnya"ucap arshan begitu kagum melihat patung Dewi dihadapannya.
"Patung ini memang luar biasa, tuan Duke. Namun soal pembangunan kuil, saya merasa tidak bisa melakukan itu"ucap pria berambut hitam itu.
"Boleh kutahu apa alasannya?"tanya ku kepada pria berambut hitam itu.
"Saya membutuhkan waktu untuk berfikir lalu selain itu kami tidak bisa meninggalkan 5 jemaat yang sering berdoa di kuil kami begitu saja"jawab pendeta itu begitu tenang.
"Begitukah. Jika itu jawaban anda. Saya tidak akan memaksakan kehendak saya"ucapku menatap pria itu tersenyum.
"Perjalanan pasti begitu melelahkan,bukan. Saya sudah menyiapkan kamar untuk anda berdua. Jadi beristirahatlaj disini untuk semalam sebelum anda kembali ke ibukota esok hari. Anggap saja ini sebagai sogokan saya agar anda berfikir untuk pindah ke kota Nornem "ucapku berdiri dari kursi
"Saya akan berpura-pura tidak mendengar ucapan anda yang anda katakan barusan"ucap pria itu begitu gigih.
Tuk tuk
Suara ketukan terdengar dari luar
"Sepertinya pelayan sudah datang"ucapku tersenyum.
"Ada apa arshan?"tanya pendeta berambut hitam.
"Sa-saya sep
"Begitukah, silahkan pergi kekamar anda untuk bersih-bersih,sebelum makan malam siap"ucapku menjulurkan tangan kananku.
"Terima kasih tuan Duke, saya akan menerima kebaikan anda"ucap pendeta itu meraih tanganku.
"Sepertinya kita sudah terlalu lama mengobrol "ucapku mengalihkan pandanganku ke langit yang benar benar sudah gelap.
"Jadi mari kita akhi—Tis Tis " tiba tiba terasa sesuatu yang begitu hangat mengenai punggung tanganku.
Tetesan air terus berjatuhan mengenai punggung tanganku.
Pria berambut hitam itu menatapku, memegang kedua tanganku dengan erat. Bersamaan dengan air matanya yang terus jatuh.
"Pendeta?"ucapku bingung.
Wajah pria itu terlihat begitu khawatir dengan campuran rasa putus asa.
"Tuan pendeta, ada apa?. Apa dan terluka?"tanya Arshan kebingungan.
Pria itu menatapku dengan lekat lalu mulai bergumam.
'maafkan aku....'
"Ap—"Tuan pendeta?"tanya Arshan yang setengah berteriak.
"Emh?, apa yang terjadi padaku?. Mengapa air mataku keluar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
