side story 3. Anne (Tamat)

787 90 7
                                        

Tampak seorang wanita dengan gaun coklat tanpa renda berdiri menggunakan kain di atas kepalanya.
Wanita itu juga memakai celemek berwarna kecoklatan di area pinggang ke bawanya..
Wanita berambut coklat tua itu tampak sedikit tersenyum sembari terus mengumpulkan piring kotor yang terbuat dari ukiran kayu yang berserakan diatas meja.

"Ibu"terdengar suara lembut dari Ara kakinya.
Wanita itu sedikit menoleh, tampak seorang anak lelaki berusia 7 tahun sedang memeluk kakinya.
Anak itu memiliki rambut coklat pekat seperti dirinya.
"Ya ada apa sayang?"tanya wanita itu menepuk kepala anak tsb.
"Ibu, apa kita benar benar akan pindah kerumah tuan?"tanya anak itu bingung.
Wanita itu menarik nafasnya lalu perlahan berjongkok didepan anaknya.
"Apa Rezen tidak menyukai tuan duke?"tanya Anne dengan wajah khawatir.

Rezen menggeleng.
"Tidak, aku sangat menyukai tuan duke."ucap Rezen keras perlahan Rezen menggenggam kedua tangannya.
"Tuan duke memang terlihat sedikit mengerikan, namun tuan duke sangat baik. Dia memberiku yang sangat enak kemarin"ucap Rezen menjelaskan.
"Seperti nya Rezen kita sangat menyukai tuan duke yah"ucap Anne tertawa kecil.
Rezen mengangguk cukup kencang dan membuat Anne tertawa.

'Selain baik tuan duke terkesan aneh untuk diriku sendiri.'
Aku perlahan bergerak keara langit langit rumah yang tampak suram habis termakan rayap tsb.
'akhirnya kita bisa mendapatkan tempat tinggal dan hidup yang layak'

"Semuanya terasa seperti mimpi, jika ini benar benar mimpi. Aku berharap aku tak perlu bangun lagi"
"Anne apa kau ingin bekerja sebagai pelayan di kediamanku?"ujar karllan sembari menegak teh di cangkir indah dengan ukiran daun semanggi.
Suara beliau terkesan di gin, dengan bahasa yang sopan beliau bertanya kepadaku.
ya benar dia 'bertanya' bukan 'memaksa' layaknya para bangsawan lainya.
"Pelayan, tapi tuan Duke. Saya berasal dari rakyat biasa tanpa ada marga. Anda pasti akan menjadi pembicaraan banyak bangsawan jika anda menjadikan saya sebagai pelayan di rumah ini"ucapku mencoba menolak.

Aku sama sekali tak mampu mengangkat wajahku untuk menatap tuan Duke, dan selalu memposisikan mataku hanya untuk menunduk dan melihat keara kakiku yang tak mengenakan apapun.
Kedua telapak kakiku tampak memar dengan bagian lain kulitnya sedikit mengelupas.
Mungkin karna selalu berjalan tanpa alas kaki, aku merasakan kulitku menjadi sedikit lebih tebal dari orang pada umunya.
Aku tidak menggunakan alas kaki karna aku ingin, namun dengan uang dari pekerjaanku di kedai makan dan penjualan racun milikku  hanya bisa membeli pakaian dan sepatu untuk Rezen seorang.
Selama Rezen bisa mendapatkannya aku tak masalah dengan diriku sendiri.

"Bahan pembicaraan para bangsawan, bangsawan mana yang berani membicarakan keluarga Karish di belakangku?"ucap tuan Duke tiba tiba membuatku kaget.
"Ma-maaf maaf tuan Duke, saya saya "suara tuan Duke terdengar begitu keras dan membuat tubuhku menjadi lemas.
Sontak aku langsung berangkat dari kursi yang mewah itu lalu sujud tepat di lantai.
"Ma-maafkan saya tuan Duke, saya salah"
Disaat itu aku berfikir, bagaimana bisa aku begitu bodoh sampai sampai dengan kesadaran penuh aku malah menyampaikan hal kurang ajar kepada orang yang telah membantuku untuk membalaskan dendamku.

"Anne, apa yang sedang kau lakukan?"tanya pria itu dengan datar.
"Sa-saya sudah melakukan kesalahan, saya tidak masalah harus mendapatkan hukuman apapun. Namun saya harap jangan bunuh saya, karna Rezen hanya memiliki saya seorang di dunia ini"ucapku lantang dan keras.
"Hei apa yang kau lakukan kenapa kau berteriak, kau akan membangunkannya "ucap tuan Duke.
"Membangunkannya?"saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut tuan Duke.
Aku sedikit mendongak.
Lalu kedua mata kami akhirnya bertemu.
Disana aku melihat wajah lembut seorang ayah yang sedang mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis.

"Maafk—"teh"tiba tiba tuan Duke memotong perkataanku.
"Apa?"ucapku sontak menjawab.
"Teh nya akan menjadi dingin"ucap pria itu menatapku.
"Ah baik"ucapku yang dengan reflek malah duduk kembali di bangku yang membuatku berhadapan tepat dengan seorang bangsawan berpangkat tinggi tsb.
Lalu selain itu ada seorang anak kecil dengan rambut berwarna coklat yang tertidur  di atas pangkuannya.
Anak itu duduk di pangkuan tuan Duke dengan wajah yang terbenam di dada pria itu.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang