Beberapa jam sebelum kejadian.
Renete dan Arshan meninggalkan kediaman karish dengan kereta sewaan.
Mereka berdua duduk berhadapan didalam kereta dimana Renete sedang memangku keranjang berisi bekal yang diberikan Karllan.
"Tuan apa yang sedang anda pegang?"tanya Arshan.
"Ini bekal yang diberikan tuan Duke untuk perjalanan kita"ucap Renete dengan wajah datar.
"Begitukah..."jawab Arshan mengakhiri percakapan lalu melihat ke langit.
Pembicaraan mereka berhenti sampai disana dan tidak ada percakapan lebih lanjut.
Hanya terdengar suara roda kereta yang sesekali menghantam bebatuan di jalan yang buruk.
Renete menatap ke luar jendela yang hanya dipenuhi hutan yang lebat.
"Pfft" perlahan Renete tertawa kecil.
Arshan yang melihat Renete tersenyum ikut tersenyum tipis.
"Sepertinya suasana hati anda sedang baik, sehingga anda menunjukan senyuman yang begitu ceria"ucap Arshan.
"Apa aku tersenyum selebar itu?"tanya Renete menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya
"Ya, sepertinya Perjalanan ke Utara memang pilihan yang tepat di suasana saat ini"ucap arshan tersenyum ceria.
Renete mengangguk kecil sembari menatap pendeta magang di depan nya itu.
"Arshan sudah berapa lama kau mengabdi di kuil Dewi lampion?"tanya Renete.
"Kurang lebih 5 tahun tuan pendeta, memang ada apa?"tanya Arshan bingung.
"5 tahun yah, sebentar lagi kau akan terlepas dari gelar pendeta magang dan benar benar menjadi pendeta resmi kuil Dewi lampion"ucap Renete.
"Saya benar benar lupa akan hal itu,sebentar lagi saya akan menginjak usia 18 tahun dimana para pendeta magang akan mengadakan acara kedewasaan di kuil pusat. "ucap arshan menepuk keningnya.
"Tapi tuan pendeta, saya sangat khawatir bagaimana jika saya sama sekali tidak pantas dengan gelar pendeta resmi. Apalagi dengan kekuatan suci saya yang sangat sedikit"ucap arshan terlihat ragu.
Puk sebuah tepukan kecil dari Renete mendarat di bahu arshan.
"Arshan, seorang pendeta tidak hanya di pandang dari kekuatan suci yang mereka miliki tapi sikap, kemurnian hati serta kebaikan adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang pendeta"ucap Renete.
"Jika kau merasa gelisah, putus asa dan gundah, berdoa lah kepada Dewi lampion. Karna beliau lah yang akan membawa kita ketempat yang terang bahkan ketika kita berada di tergelap sekalipun"ucap Renete menyakinkan Arshan.
"Saya mengerti tuan pendeta"ucap Arshan tersenyum
Srrrt
Kereta kuda perlahan berhenti.
"Emh? Apa kita sudah sampai di penginapan?"tanya Arshan kebingungan.
"Aku tidak melihat satupun penginapan disini"ucap Renete melihat ke luar jendela.
Dan hanya melihat hutan dan langit yang mulai memerah
"Apa mungkin kusirnya mengambil jalan yang salah?"ucap Arshan kebingungan.
"Tuan saya akan turun dan berbicara dengan kusir terlebih dahulu"ucap arshan
Renete mengangguk pelan.
Clak
Arshan membuka pintu lalu keluar.
"Pak kusir, apa ada sesuatu yang terjadi?"ucap Arshan keluar dari kereta dan meninggalkan Renete berada didalam kereta sendirian
Pintu kereta tertutup cukup rapet jadi dia tidak bisa mendengar percakapan yang arshan lakukan.
Gubrak tiba tiba terdengar suara keras seolah menghantam pintu kereta.
"Arshan ada apa?"tanya Renete kebingungan sembari membuka pintu.
Saat pintu terbuka disana dia melihat arshan yang terduduk sembari memegang wajahnya.
Terdapat sebuah belati di tangan kanan arshan, dan belati itu dipenuhi dengan bercak darah.
Renete juga melihat tetesan darah yang terjatuh memenuhi pakaian arshan yang berwarna putih.
"Arshan...."teriak Renete keluar dari kereta.
"Tuan pendeta...!"perlahan arshan menoleh keara rente dan darah yang terus mengalir dari mata kiri Arshan.
"Arshan..."ucap Renete langsung mendekati arshan yang mengeluarkan banyak darah.
"Tuan pendeta.... Anda harus kabur"ucap arshan menutupi wajahnya.
"Jangan berbicara, aku harus mengobati luka mu"ucap Renete.
"Apa yang terjadi?"ucap Renete yang tampak begitu khawatir.
"Tiba tiba entah dari mana sebuah belati muncul dan langsung mencap di mata kiri saya"ucap arshan yang bicara terbata.
"Belati?'tanya Renete melihat kearah rumput tempat sebuah belati sepanjang 15 cm itu berada.
Belati itu berwarna hitam dengan gagang sepanjang 7 cm dan mata pisaunya sepanjang 8 cm.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
