Pria berambut violet itu tampak begitu tenang duduk di sofa yang berhadapan dengan seorang pria berambut merah pendek itu.
"Jadi..."Laure membelah keheningan dengan membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Apa yang di inginkan pangeran pertama, sampai datang ke tempat kumuh kami ini?"tanya Laure dengan senyuman.
Dia tersenyum lebar sampai ujung bibirnya tertarik dan hampir mengenai ujung matanya.
Tap
Pangeran Rosseh menunjukan sebuah kartu nama perpaduan warna putih dan ungu tsb.
Tertulis 'Serikat dagang Laukar'
Bibir Laure yang sebelumnya tampak tertarik itu terlihat sedikit mengendur dan membuat senyuman lebarnya hanya tampak senyuman tipis.
"Jadi anda adalah pelanggan"ucap Laure sembari meraih kartu tsb dari atas meja.
Dia merentangkan tangan kanannya ke sofa dan kaki kirinya terlipat di atas kaki kanannya.
"Sudah moto dari perusahaan Laukar', jika kau menawar harga yang cukup kami akan berusaha melakukan apapun. Namun ingat tuan, kami sama sekali tidak menerima permintaan untuk membunuh manusia"ucap Laure menjelaskan kepada pria dihadapannya tsb.
"Aku ingin kau mencarikanku sebuah obat"ucap pangeran Rosseh dengan wajah serius.
"Obat?, jika ini untuk penyakit. Lebih baik anda membela air suci dari kuil"tanya Laure menurunkan tangan kanannya.
Dia juga mensejajarkan kakinya lalu menegakkan tubuhnya yang tadinya bersandar di sofa.
"Kami sudah menggunakan air suci, namun penyakit itu sama sekali tidak sembuh ataupun membaik"ucap pangeran Rosseh tampak menyentuh dahinya.
Laure terdiam, lalu bangkit dari sofa.
Ia berjalan keara meja kerjanya dan mengambil tumpukan kertas berwarna kekuningan dari dalam laci.
"Aku mengerti, jadi obat apa yang anda inginkan dari serikat Laukar' kami ini yang mulia?"tanya Laure tersenyum.
"Aku mencari obat yang bisa menyembuhkan penyakit aneh"ucap pangeran Rosseh menatap Laur.
"Penyakit aneh?, tuan jika anda bicara sepotong-sepotong bagaimana bisa saya memahami cerita anda"ucap Laure menatap pria berambut merah itu.
Tangannya masih sibuk memilah-milah lembaran kertas yang ia genggam.
" pada awalnya muncul ruam dan bintik-bintik layaknya jerawat di sekujur tubuh lalu kemudian bintik tsb mulai mengeluarkan cairan Nana bahkan baunya mulai terasa amis. Kemudian dalam beberapa hari bagian tubuh yang bernanah itu perlahan membusuk bahkan terdapat banyak belatung uang mendiami lubang lubang bekas dari tempat nanah yang sudah kering"ucap pangeran Rosseh.
Wajah pria berambut merah itu tampak begitu serius, kaki kirinya juga tampak terus bergetar dengan ekpresi wajah yang tampak begitu cemas.
"Penyakit itu tak kunjung sembuh selama bertahun-tahun, dan orang orang mulai menyebutnya sebagai kutukan dewa"ucap pangeran Rosseh.
"Kutukan dewa ya?, apa anda perna pergi ke kuil dan meminta pendeta atau saintess untuk membantu anda?"tanya Laure menghentikan gerakan tangannya..
"Sudah, aku sudah mengundang orang kuil. Bahkan saintess sendiri lah yang menangani kondisinya. Tapi sama sekali tak ada perubahan "ucap pangeran Rosseh menatap ke lantai.
Tangannya tampak saling menggenggam erat.
Laure tampak mengangguk-anggukkan kepalanya singkat sembari masih memilah kertas yang ia genggam.
"Bahkan setelah 7 tahun berlalu, tubuh anak itu masih tampak sama seperti usia nya saat 10 tahun."lanjut pangeran Rosseh masih menutupi wajahnya.
Laure menatap pria yang bicara dengan suara yang hampir tersedak itu.
"Selain bau busuk dari nanah dan daging busuk apa anda perna mencium aroma lain?, entah itu aroma manis?"tanya Laure masih memilah lembaran demi lembaran kertas .
"Aroma manis"ucap pangeran Rosseh sembari berfikir.
"Sepertinya tidak ada, selain bau asam nanah dan bau busuk dari daging. Tidak ada bau yang cukup membekas"ucap pangeran Rosseh tampak bingung.
"Pfft seperti nya anda sama sekali tak menyadari... Kalau dari anda tercium bau manis. Apa sebelum pergi kesini, anda sempat mampir ketempat orang itu " ucap Laure melirik pria berambut merah pendek tsb.
"Aroma manis apa yang anda maksud?. Saya sama sekali tak bisa menciumnya "ucap pangeran Rosseh mulai mengendus pakaiannya.
"Aromanya mirip seperti aroma cream stroberi+vanilla yang di campur jadi 1 aromanya sangat manis sampai membuat gigiku berdenyut. Jika di hitung dari waktu keberangkatan setidaknya aroma itu sudah menempel pada anda selama 4 hari. Tapi aromanya hanya memudar dan tak menghilang"ucap Laure lalu berhenti memilah dokumen.
Kemudian dia mengangkat selembar kertas itu keatas dan mendongakkan kepalanya sampai ia mampu melihat langit-langit ruangan itu.
"Hmmm~" perlahan ujung bibir Laure terangkat..
"Sepertinya itu bukan kutukan ataupun penyakit"ucap Laure dengan santai.
Matanya melebar menatap tulisan tulisan di sana.
"Apa maksudmu?"tanya pangeran Rosseh langsung membuka telapak tangannya.
Laure menaruh selembar kertas yang terdapat gambar sebuah tanaman hitam putih.
"Singkatnya orang yang anda sebutkan itu sudah di racuni"ucap Laure bicara dengan senyuman di wajahnya.
"Racun?, racun apa itu?"tanya pangeran Rosseh berdiri dari sofa.
Tanpa sadar dia menggebrak meja cukup keras sampai membuat cangkir teh di sampai cangkir teh itu tumpah.
Teh panas itu mengalir dan mengenai salah satu tangan pangeran Rosseh.
Namun pria itu sama sekali tak terlihat kepanasan.
Laure menatap jemari pria itu, tampak banyak bekas luka dan kapalan di setiap ujung jarinya.
" racun jenis ini biasanya hanya membuat ruam dan rasa gatal. Sama sekali tak berbahaya sampai bisa membunuh seseorang. "Ucap Laure menjelaskan.
Pangeran Rosseh tampak duduk kembali ke sofa dan mencoba menenangkan nafasnya.
Pangeran Rosseh hanya tampak diam dan memperhatikan semua perkataan Laure.
"Namun, jika kondisinya sudah separa itu. Kemungkinan orang itu sudah diracuni bahkan sebelum gejala pertamanya muncul. Namun seharusnya racun ini bisa hilang jika kau terus meminum air bersih, tapi kau bilang bahkan setelah minum air suci gejala nya sama sekali tak membaik"ucap Laure perlahan berfikir
"Iya benar"jawab pangeran Rosseh.
"Apa kau mengambil air suci itu sendiri, tuan?"tanya Laure melirik kearah pangeran Rosseh.
Tampak pangeran menggeleng pelan.
"Tidak, yang mengambilnya tentu saja adalah perwakilan dari kuil"ucap pangeran.
"Apa air itu tampak normal?, apa tidak ada bercak abu-abu dari dalam air?"tanya Laure lagi.
"Entahlah, orang kuil selalu membawakan air suci menggunakan botol perak. Jadi aku sama sekali tak bisa melihat isi didalam botol tsb "ucap pangeran.
Laure tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu anda bilang, saintess sendirilah yang mengobati orang itu. Apa anda perna melihat ketika sesi pengobatan sedang di laksanakan?"tanya Laure.
Pangeran menggeleng lagi.
"Setiap sesi pengobatan di lakukan, akan ada 2 kesatria suci yang menghadang di depan kamar. Mereka bilang agar tidak ada orang yang menganggu saintess. Selain itu selama beberapa tahun memang saintess lah yang mengobati Abel jadi aku tidak terlalu curiga"ucap pangeran Rosseh menjelaskan.
"Ini adalah pertanyaan terakhir saya yang muliah, siapa nama saintess yang mengobati orang itu?"tanya Laure.
"Saintess Giselle Gornia"ucap pangeran menjelaskan dengan lantang..
Laure tampak terdiam sejenak.
Lalu merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Aku sudah mengerti sekarang, Aku bisa membantumu menemukan penawar dari racun ini"ucap Laure menyentuh dahinya.
" benarkah, jadi kapan obat itu bisa selesai?"tanya pangeran Rosseh dengan wajah lembut.
Matanya menatap Laure dengan harapan kuat.
"Meskipun saya berkata seperti itu, tapi ada sedikit masalah disini "ucap Laure
"Masalah?"tanya pangeran Rosseh bingung.
"Aku sudah tahu penawar dari racun itu, tapi sayangnya mereka (tanaman) hanya tumbuh di musim semi. Jika harus menunggu salju mencair akan memakan waktu sekitar 4-5 bulan lagi. Namun saya ragu orang yang anda maksud akan bertahan selama periode waktu tsb ketika dia masih mengonsumsi racun tsb"ucap Laure memangku dagunya.
"5 bulan itu terlalu lama, apa anda sama sekali tak punya bahan cadangan?. Saya akan membayar nya dengan semua uang yang saya punya. "Ucap pangeran Rosseh berdiri dari sofa.
"Jika itu belum cukup, saya akan mencoba mencari uang lagi bahkan jika saya harus menjual organ saya sendiri. Jadi saya mohon tolong selamatkan adik saya"ucap pangeran Rosseh berlutut di lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasia"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
