101. zalcia

147 10 0
                                        

Pria yang terbaring itu perlahan mulai menggaruk lehernya sendiri.
"Maafkan aku"
"Jangan bunuh aku"gumam Giselle sembari terus menggaruk lehernya dengan kencang.
Tampak kukunya yang berwarna putih mulai menjadi merah karna di aliri darah dari luka yang di timbulkan oleh jemarinya sendiri.

Dargon tampak panik.
"Giselle... Bangun Giselle"ucap Dargon mencoba menghentikan Giselle.
Namun sekeras apapun ia menggocang tubuh Giselle, gadis itu tampak tak bangun namun terus menerus melukai dirinya sendiri.
"Gissele"teriak Dargon keras sembari menggocang gadis tsb.

Srrrt
Wanita itu tiba tiba tersentak dengan mata yang terbuka lebar.
Bola matanya tampak menatap kedepan.
Lalu
"Aaghhkkk tidaaaak, maafkan saya tuan. Saya yang salah maafkan saya"teriakan gissele langsung memenuhi ruangan itu.
"Maafkan aku tuan karllan, saya tidak akan lagi menganggu anda. Maafkan saya"ucap Giselle yang tampak bangkit dan mengambil posisi duduk.
Tubuhnya gemetar wajahnya berkeringat, dan matanya terus bergerak tak beraturan seolah-olah cemas.

"Giselle, sadarlah. Ini aku"ucap Dargon memegang pundak gadis itu.
Mata Giselle yang tadi tampak cemas perlahan mulai rileks.
"Dargon?!"ucap gadis tsb menatap pria yang ada di hadapannya.
"Iya ini aku, ada apa?"tanya Dargon tampak cemas menatap wanita yang masih menunjukan ekpresi ketakutan itu.

Wanita itu menatap pria yang ada dihadpanya, lalu ia menjatuhkan tubuhnya kedalam dekapan pria itu
"Dargooon, hiks"Isak tangis seketika pecah.
"Tolong selamatkan aku, Dargon hiks"gadis itu menangis dengan suara yang begitu menyedihkan
Air matanya perlahan membasahi jas putih yang di pakai Dargon.

Dargon mengelus kepada gadis itu dengan lembut.
"Apa yang terjadi, Giselle. Kemana saja kau selama ini?"tanya Dargon dengan wajah cemas.
"Aku kabur, Dargon. Aku hampir dibunuh"ucap Giselle menangis.
"Dibunuh?, siapa yang ingin membunuhmu?"tanya Dargon dengan suara lembut.
"Duke Karish, dia hampir membunuhku hiks, hiks. Dia juga menusuk Trance dengan pedangnya dan aku menyaksikan hal itu dengan kedua mataku sendiri."ucap Giselle memeluk Dargon.

"Maaf jika saya menyelah, nona. Namun Duke Karish bukanlah orang yang kejam seperti yang anda ceritakan. Saya mengenal Duke Karish, dan beliau adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya"ucap Zalcia yang tampak tak percaya dengan kata kata Giselle

"Bukan hanya aku saja yang melihat kekejaman itu paus Zalcia. Ada seorang pelayan yang menyaksikan hal itu bersama saya dan pelayan itu di bunuh langsung oleh Duke Karish"ucap Giselle menatap Zalcia.
"Entah bagaimana dengan seketika tubuh pelayan berambut merah itu meledak tercerai-berai dengan darah yang bercecer memenuhi lantai putih tsb."ucap Giselle meratapi.

Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tampak tetesan demi tetesan air mata mulai jatuh
"Hiks hiks maafkan aku Emily seharusnya aku tidak mengajakmu hanya karna aku penasaran"ucap Giselle dengan suara bergetar dengan terisak-isak.

Mata Zalcia perlahan melebar ketika mendengar nama yang Giselle sebutkan.
"Nona saintess, bi-bisakah anda menyebutkan deskripsi pelayan bernama Emily yang anda sebutkan tadi?"tanya Zalcia dengan suara bergetar.
"Huwek"tiba tiba wanita itu muntah di pakaian Dargon.
"Giselle?!"ucap Dargon dengan wajah khawatir.

Setelah mengeluarkan air yang cukup banyak, wanita itu memegang erat pundak Dargon.
"Dargon, hiks hiks. Kumohon meskipun itu hanya mayatnya saja. Bisakah kau membantuku menyelamatkan Emily"tangisan itu kian menjadi nyaring dan terdengar begitu menyedihkan.
"Aku... Akan membantumu"ucap Dargon menepuk rambut pirang sebahu Giselle.
"Teri..ma ka..sih"setelah bicara dengan terbata-bata wanita itu pingsan kembali.

Dargon perlahan membaringkan tubuh wanita itu kembali ke tempat tidurnya.
"Paus Zalcia"ucap Dargon perlahan berbalik.
Mata pria itu mendapat wanita dengan pakaian putih yang berdiri tak jauh darinya.
Wajah wanita itu tampak kebingungan namun di lain sisi juga dia kelihatan cemas.

"Paus Zalcia, mengapa wajah anda menjadi gusar?. Apa anda mengenal pelayan bernama Emily tsb?"tanya Dargon dengan nada lembut menatap wanita bermata emas yang tak linglung tsb.
Zalcia menarik nafasnya berat.
"Saya memang mengenal gadis tsb"ucap Zalcia menatap Dargon.
"Lalu... Apa kuil aja bergerak?"tanya Dargon
"Tidak, kuil tidak akan bergerak jika kebenarannya belum bisa di pastikan. Bahkan dewa sekalipun belum menurunkan titahnya. Jadi kuil tidak bisa langsung asal bergerak hanya karna beberapa kata dari seorang saintess yang belum di angkat secara resmi oleh dewa"jawab Zalcia dengan suara tegas.

"Apa maksud and Paus Zalcia, bukankah pengguna sihir hitam adalah kejahatan. Sihir hitam bertentangan dengan kekuatan ilahi. Jadi mengapa anda tidak bergerak bahkan ketika sudah jatuh korban"ucap Dargon tampak tak puas dengan jawaban Zalcia.

"Bukan seperti saya mengabaikan kata kata nona saintess. namun... Kuil bergerak atas kehendak dewa. Jika kami bergerak begitu saja tanpa bukti yang jelas, sama saja seperti kami sedang menghina dewa yang kami imani"ucap Zalcia dengan lembut.

"Saya dengar 2 orang pendeta dari kuil lampion menghilang ketika hendak mengunjungi Utara, apa anda sama sekali tidak berfikir kalau hal itu aneh?. "Ucap Dargon berdiri.
"Anda harus berhenti yang mulia, kata kata tanpa dasar bukti bisa menjadi sebuah fitnah yang kejam bagi korban yang di jadikan kambing hitam. Untuk sekarang mari kita fokus kepada kesembuhan nona saintess "ucap Zalcia perlahan meninggalkan ruangan itu.

Ia perlahan melangkah melewati lorong yang panjang.
Cahaya lilin yang tampak remang remang mengiringi langkahnya.
Perlahan langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria dewasa berdiri disana.
Dari cahaya remang tsb tampak pria itu sedang memakai pakaian Butler.

"Apa anda tidak berfikir semua hal yang di katakan 2 orang tadi bisa saja benar?"tanya pria itu bersandar disana.
Wanita itu menghela nafas lalu membuka mulutnya.
"Bagaimana kondisi adikku sekarang, tuan Louise ?"ucap wanita tsb menatap pria yang wajahnya tertutup bayangan tsb.

Pria itu perlahan melangkah mendekat.
Tampak rambut coklat tua dengan kulit kuning Langsat.
Pria itu menyilangkan tangannya di depan dadanya lalu sedikit membungkuk kepada Zalcia
"Semoga di lindungi oleh seluruh dewa yang anda imani"ucap Louise tersenyum.

"Kondisi Emily sudah membaik, dan dia sudah sadar dari tidur panjang nya beberapa jam yang lalu. Oleh karna itulah tuan karllan memerintahkan ku untuk memberimu peringatan"ucap Louise.
"Peringatan?, apa itu?"tanya Zalcia.
"Tuan berkata ' Berhati-hatilah dengan gadis bernama Giselle, dia memiliki kekuatan untuk membuat ilusi. Bahkan jika kau seorang paus sekalipun kekuatan nya pasti juga akan menghancurkan mu. Karna dia memiliki dewa di sisinya' itulah yang tuan sampaikan. Paus"ucap Louise

"Selain hal itu tuan juga berkata kalau Anda harus waspada kepada para pendeta perwakilan setiap kuil, karna orang yang telah melenyapkan pendeta bernama Arshan itu setidaknya memiliki kaitannya dengan kuil"ucap Louise dengan suara tenang
"Aku mengerti, aku akan waspada"ucap Zalcia

"Tapi ...."ucap Zalcia perlahan menampakan ekpresi bingung.
"Ya apa ada hal yang ingin anda bicarakan?"tanya Zalcia
"Bukankah jarak Utara ke ibukota memakai waktu setidaknya 4-5 hari perjalanan dengan kereta. Lalu dari keterangan anda adik saya baru sadar beberapa saat yang lalu bukan beberapa hari yang lalu, apa Duke Utara memiliki gerbang teleportasi?"ucap Zalcia
Louise hanya tersenyum tipis.

"Sebelum menjawab, saya harus berterima kasih kepada adik anda. Setelah beliau memberikan darahnya kepada saya, kekuatan fisik saya semakin lebih kuat bahkan regenerasi saya juga sudah di atas manusia normal. Saya tidak menggunakan gerbang teleportasi tapi saya hanya berlari dengan kaki saya sendiri"jawab louise tersenyum.

Zalcia tampak terkejut dengan kata kata Louise
"Kau memang sudah tidak bisa disebut sebagi manusia lagi, jika kau sudah menyerap darah dari seekor naga. "Jawab Zalcia yang masih terkejut.
"Sebelum saya pergi, saya ingin memberikan anda surat ini"ucap Louise tersenyum sembari memberikan amplop berwarna coklat tua dengan stempel lilin berwarna ungu
"Surat?, bukankah semua peringatan dari tuanmu sudah kau sampaikan dengan mulutmu sendiri, mengapa beliau sampai memberikan surat secara terpisah?"tanya Zalcia bingung.

"Karna surat ini adalah inti dari pembicaraan kita sebelumnya. Tuan hanya menyampaikan, bacalah surat tsb di dekat patung dewa lampion. Dengan hal itu keempat dewa lainnya tidak akan mampu mengintip isi nya "ucap Louise tersenyum.
"Baik, aku mengerti, aku akan mengingatnya"ucap Zalcia mengangguk sembari meraih amplop tsb.

"Kalau begitu saya permisi"ucap Louise lalu perlahan melangkah pergi.
Zalcia tampak menghela nafas dengan berat.
"Haaah, apa kita memang tidak bisa menghindari perang seperti yang ada dalam ramalan?"

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang