60. percakapan Arshan dan Dewi lampion (2)

1.4K 169 6
                                        

Hujan turun begitu deras di pagi ini, seolah Dewa sedang  menumpahkan semua air matanya kedunia ini.
Suara rintik hujan yang deras membuat kamar dingin itu terasa senyap.
Gruss
Gruss
Hanya ada suara yang berasal dari gesekan batu penggiling yang memenuhi telingaku.
Mataku selalu terpaku kepada batu penggiling dihadapanku yang sedang menggiling daun kering.

Dengan hati hati aku menambahkan helaian helaian daun kering kedalam penggiling, lalu menumbuknya sampai daun daun itu menjadi sehalus serbuk bedak.
Srrrt
Aku mengambil serbuk itu dengan jari kelingkingku lalu menjilatnya.
Tidak ada rasa apapun didalam serbuk itu, namun suasana hatiku tiba tiba menjadi baik.
Aku mulai merasa tubuhku menjadi ringan dan mulai berhalusinasi.
Aku hanya menjilatnya sedikit saja namun efeknya sudah sebesar ini.
"Aku berhasil membuatnya"ucapku tersenyum riang.
Aku menatap langit yang masih hujan.
"Kuharap malam hari akan cepat datang "ucapku sembari tertawa

Ketika matahari mulai beranjak menghilang dari langit, pria berambut hijau itu berdiri didepan sebuah dandang besar.
Pria itu memasukkan segenggam serbuk hijau yang ia bawa kedalam sebuah dandang berisi makanan yang akan dimakan oleh semua penghuni kuil untuk makan malam.

Pria itu mengaduk sup di panci dengan rata sampai bubuk bubuk hijau itu tercampur dan tak tampak lagi.
"Arshan apa yang sedang kau lakukan disana?"tanya seorang koki yang muncul dibelakang.
"Kau... Jangan bilang kau ingin mencuri makanan"ucap koki itu tiba tiba.
Pria yang awalnya terkejut itu segera menyembunyikan ekspresinya.

"Sial, aku malah ketauan, bagaimana ini"dia berucap seperti bergumam namun suaranya cukup keras untuk di sebut gumaman.
"Kau mengakuinya"ucap koki itu
"Emh tidak, saya tidak mencuri"ucapku berbalik.
"Lalu jika kau tak mencuri, bagaimana bisa ada remahan roti di pipimu?"tanya koki
"Emh?"ucapku langsung menutup mulutku.
Srrrt
Tiba tiba koki menjewer telingaku.
"Dasar anak nakal ini, kau berani-beraninya menipuku"ucap koki marah.
"Maaf maaf aku hanya laparr , huwee tolong jangan beritahu suster dan pendeta. Bisa bisa aku di hukum nanti"ucapku memohon mohon.
"Haaah....."koki itu menghela nafasnya.
"Baiklah baiklah, aku tidak akan memberitahu paru pendeta"ucap kepala koki tersenyum sembari menepuk rambutku
"Yeeey terima kasih, kepala koki"ucapku tertawa cengegesan.

"Ini ambil ini"ucapku memberikan kotak dengan teh
"Emh? Apa ini?"tanya kepala koki
"Ini daun teh, saya dengar anda mengalami insomnia parah.
Jadi saya berikan ini  kepada anda karna anda sangat baik pada saya. Lalu ingat anda harus meminumnya sebelum tidur karna teh ini memiliki khasiat untuk merilekskan tubuh"ucapku tertawa.
"Astaga anak ini, kau sudah dewasa rupanya yah"ucap kepala koki menekan kepalaku.
"Kalau begitu aku akan pergi untuk melakukan doa sore, sebelum kembali untuk makan malam"ucapku tertawa sembari melambaikan tanganku pada pria itu.
Aku berlari dan pergi dari dapur, selama perjalanan ke ruang doa aku sama sekali tak mampu menyembunyikan tawaku.

Aku menggenggam kedua tanganku di depan patung dewa takdir yang tergambarkan dengan seorang pria dengan tubuh tinggi yang menggenggam kedua tangannya.
Aku memejamkan kedua mataku sembari melantunkan doa doa yang kupendam dalam hati.
Setelah berdoa cukup lama aku beranjak dari tempat dudukku, namun mataku langsung teralihkan kepada seorang pria yang berada di tempat duduk yang berhadapan dengan patung seorang Dewi yang memakai tudung yang menutupi setengah wajahnya.

selama 3 tahun tinggal di kuil utama, aku hampir tidak perna melihat seorangpun yang berdoa di hadapan patung Dewi Lampion. Namun hanya ada 1 orang yang selalu berdoa dengan begitu tulus.
Pria itu memakai sebuah baju pendeta berwarna putih
Dari pakaian dan banyak garis berwarna hijau di pergelangan bajunya, aku bisa menebak kalau pria itu adalah seorang pendeta magang.
Dia memiliki kulit tan yang indah dengan wajah yang begitu datar, namun aku bisa melihat ketulusan dari matanya yang berwarna biru laut itu.
"Dia terlihat begitu indah" itulah kata kata pertama yang kulotarkan kepadanya.
........
"La la la la" seorang pria berambut hijau muda terus bersenandung sembari melangkahkan kakinya dengan riang
Dia sesekali melompat lompat kecil seolah sangat menikmati langit malam yang dipenuhi dengan bintang.
Pria itu berhenti melangkah di depan sebuah pintu yang cukup besar.

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang