Di sebuah ruangan yang tampak begitu gelap, seorang pria berambut merah muda duduk di atas kasurnya.
Suara decitan terdengar cukup keras dari gesekan sepatu kirinya dengan lantai kemarin itu.
Pria itu tampak begitu cemas dengan tangannya yang saling menggenggam erat.
"Apa yang harus kulakukan sekarang,Areen!"ujar pria itu sembari menatap langit langit kamar yang hampa..
Ketika poninya tersingkap, mata abu abunya tampak sedikit menggelap bahkan hampir menyerupai hitam.
Perlahan ingatan muncul di kepalanya.
Ingatan tentang 3 sekawan yang berlari bersama, bercerita dengan senyuman dan tawa ceria yang tak perna menghilang dari wajah mereka bertiga.
Namun kini, 3 sekawan itu kehilangan 1 orang.
"Aku... Harus tidur"gumam Aroon meremas kepalanya.
"Besok areen akan kembali"ucap Aroon berbaring di kasur lebar itu.
Matanya terus menatap keara langit langit.
Ruangan begitu senyap sampai sampai kau bisa mendengar detak jantungmu sendiri.
Aroon mengangkat lengannya lalu menutupi wajahnya.
"Areen~"
Suara tangisan itu terdengar dan disaat bersamaan air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya.
Ia menyebut nama adiknya sekali, kemudian tenggelam dalam tangisan tanpa suara.
Tenggorokannya terasa begitu panas dan sakit seolah-olah ia ingin berteriak.
Dia ingin meraung-raung seperti hewan menunjukan betapa bersedihnya dia, tapi setiap kata-kata yang ingin dia sampaikan terasa tertahan di dadanya.
Lalu perlahan pria itu terlelap dengan air mata yang masih membasahi matanya.
Kemudian Aroon pun bermimpi, tentang seorang pria yang tak ia kenali.
Aroon duduk di sebuah kursi dengan meja bulat dan secangkir teh tepat di hadapannya.
"Apa teh nya tidak sesuai dengan selerahnu?"perlahan suara berat terdengar dari sebrang meja.
Aroon mengangkat wajahnya dan menghadap keara suar aitu muncul.
Tampak seorang pria berkulit gelap duduk di hadapnya.
Pria itu memiliki rambut berwarna campuran antara merah dan orange, dia tidak memakai baju namun memakai celana longgar yang terbuat dari kain. Tapi benda yang sangat menarik perhatian Aroon adalah sebuah cadar yang sedikit transparan berwarna merah muda yang pria itu kenakan.
"Kau siapa?"tanya Aroon kepada pria itu.
Pria itu menurunkan cangkir teh yang sedang ia pegang.
"Apa kau ingin menghidupkan adikmu?"ucap pria itu tanpa menjawab pertanyaan Aroon.
"Aku bertanya lebih dulu, jadi jawab dulu pertanyaan ku"ucap Aroon ketus.
Pria itu tampak abai dengan kata kata Aroon, menyesap teh perlahan lalu mengambil cookies di hadapanya.
"Apa kau mau kue?"tanya pria itu menyodorkan sepiring kue kering.
"Kau siapa?"tanya Aroon sekali lagi dengan suara lebih keras.
"Jika kau Inging menghidupkan adikmu kembali, kau bisa amenemuiku lagi"ucap pria itu dengan nada datar lalu seketika Aroon bangun dari mimpinya.
Matanya langsung terbuka dan tampak langit langit kamar gelap itu, ia mengarahkan matanya pada matahari yang telah terbit.
Ktak ktak ktak
Suara kereta kuda dan kuda terdengar dari luar. Suara itu membuat Aroon tertarik dan akhirnya melangkah dari tempat tidur.
Aroon menatap dari jendela, tampak beberapa gerobak berserta kuda masuk dari gerbang.
Bau darah menyengat, dengan orang-orang yang penuh perban dan luka.
Aroon terus diam, ia terus menatap.
Lalu keluar beberapa orang yang begitu bersih tanpa sedikitpun luka di tubuhnya.
Matanya terus menatap kepada pria berambut hitam yang tampak tak asing untuknya itu.
Kemudian dia kembali melemparkan tubuhnya keatas kasur. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut berbahan sutra tsb
"Sialan, ternyata ini bukan mimpi..."ucap Aroon dengan suara tersedak.
Dan sekali lagi, dia menangis tanpa suara lagi.
Membasahi seluruh bantal dan kasurnya.
Di luar pintu kamar itu tampak seorang pria berambut perak sedang berdiri sembari mengangkat tangan kanannya seolah-olah akan mengetuk.
Namun sebelum ketukan pertama ia lontarkan pria itu segera menurunkan kembali tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasi"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
