77. konflik

730 113 7
                                        

"Hm... Kau memang tampak seperti seorang pecundang, tuan pendeta"ucapku dengan ekpresi datar.
"Pfffth" tiba tiba tawa kecil muncul dari bibir Renete.
" seharusnya anda berkata 'tidak' tadi. Kejujuran anda sedikit menyakiti perasaan saya"ucap Renete sembari tertawa kecil.
Mata birunya terarah kepadaku, matanya sedikit berbinar.

"Tidak akan ada orang yang bahagia dengan kebohongan, tuan Renete. Lebih baik merasakan pahitnya dari awal daripada anda terlalu berharap"ucapku memalingkan wajahku.
"Ini sudah terlalu lama, rasa lengket dari pakaian saya juga sudah terlalu meresap. Lebih baik aku mengganti pakaianku terlebih dulu"ucapku sembari berbalik.

Tak
"Tuan Duke"tiba tiba terasa genggaman singkat dari tangan yang hangat menggenggam pergelangan tanganku cukup erat.
Mataku berputar dan menatap pria berambut hitam tsb.
"Tuan tangan anda?"ucapku dengan nada sopan.
"Say—"ayah....."kata kata kata Renete terpotong di gantikan dengan suara Leamona.

"Mona?"ujarku sembari menoleh keara pintu.
"Nona Leamona?"ucap Renete berdiri.
"Ayaaahh hiks..."suaranya terdengar seperti sedang menangis.
Suaranya terasa seperti tersangkut di tenggorokannya.
Aku menepiskan tangan Renete keras dan segera berlari keluar dari kamar itu.

"Tuan tolong tenanglah"ucap Renete menyusulku.
Ketika pintu terbuka, tampak dari kejauhan( ± 10 meter dari karllan) seorang gadis berambut perak yang berlari tanpa alas kaki.
Gadis terus memanggil kata "ayah..." Dari mulut kecilnya. Ia mengangkat gaunnya dengan air mata yang terus menetes.
Gubrak
Tiba tiba gadis itu terjatuh karna terinjak ujung gaunnya.
Membuat wajahnya langsung bergesekan dengan lantai yang keras.

Tampak darah mengalir dari jidat dan telapak tangan gadis itu.
"Ayah.... Hiks.... Ayah..."gadis itu menangis dalam posisi terduduk.
Gadis itu  mencoba menghentikan air matanya dengan kedua sikunya.
"Mona..?"ketika langkahku terhentak aku memanggil gadis itu dengan suara keras.
"Saya akan mengambil kotak obat dari kamar saya"ucap Renete masuk lagi kedalam kamar.
Mata zamrudku hanya tertuju kepada gadis yang menangis keras itu.

"Ayah...."mata zamrud gadis itu tampak tertuju lurus kepadaku.
Ketika mata kami saling bertemu, semakin banyak air mata yang ia tumpahkan.
Gaunnya tampak begitu berantakan , kedua lututnya tampak tergores dan mengalirkan sedikit darah.
Aku berlari keara gadis itu.
"Ayah.... Ayah..."ucap Leamona berulang.
Ketika aku berada tepat di hadapan gadis berambut perak itu.
Aku langsung mendekapnya erat.
Membenamkan wajahnya dalam dadaku.
"Ada apa Mona?, ayah ada disini"ucapku sembari menepuk neouk rambutnya.

"Ayah apa yang harus kulakukan... Hiks hiks maafkan aku ayah. Maafkan aku"ucap Leamona terus menangis .
Aku merasakan cengkraman keras mendarat di punggungku. Cengkraman yang berasal jemari Leamona yang tampak cemas.
"Kenapa kau minta maaf?, ada apa?. Katakan pada ayah"ucapku mencoba menenangkan gadis itu.
"Hiks hiks aku ... Hiks ayah..."gadis itu terus menangis sembari menarik pakaianku erat

"Ada apa?, jangan takut Mona. Ayah ada disini. Tidak ada yang berani mengganggu mu disini"ucapku terus menepuk punggungnya.
Perasaan dingin mulai terasa dari air mata Leamona yang membasahi pakaianku.
"Hiks akghu hiks menghlehat hiks ayyha lhaule hiks hiks"ucap Leamona
"Ya kau melihat ayah Laure kenapa?"tanyaku.
"Dhia thkdurk denghan gihelle"ucap Mona dengan suara tak jelas
Ketika kata kata itu keuar dari mulut Leamona, entah perasaan janggal apa ini.
Namun yang pasti ada dibenakku saat itu aku merasa begitu marah
"Tuan Duke,saya sudah membawa kotak obat "ucap Renete berlari sembari membawa kotak besar.

"Tuan Duke?"tanya Renete sembari menyentuh pundakku.
Namun seketika mulut nya langsung terbungkam ketika menatap wajahku.

Aku menepuk rambut gadis itu dengan lembut
"Tidak apa apa sayang, ayah ada disini. Lagipula jika ayah Laure berselingkuh dari ayah. Ayah hanya perlu memotong penis serta lehernya"bisikku kecil di telinga Leamona.
Ketika kata kata itu terucap, tangisan Leamona tiba tiba terhenti dengan tatapan aneh menyelimuti matanya.
Ia melepaskan pelukannya lalu menatap langsung ke wajahku.
"Astaga wajahmu kacau sekali"ucapku mengambil saputangan dari kantung celanaku.
Namun tak ada satupun saputangan disana.
Lalu aku memutuskan untuk mengelap air mata Leamona dengan lengan pakaianku yang memang sudah kotor sejak awal.

"Astaga anak anak, lihatlah wajah kakak kalian yang cengeng ini"ucapku mengelap wajah Leamona.
"Aku sama sekali tidak.... cengeng"ucap Leamona membanta singkat dengan air mata yang terus mengalir.
"Baik-baik ayah tahu"ucapku  memperhatikan wajah Leamona yang menjadi merah karna ku gosok kasar dengan lengan pakaianku.
Dan tampak beberapa kali kancing pakaianku malah bergesekan dengan luka di dahi gadis itu dan membuat luka itu menjadi semakin terbuka.

"Tuan Renete, bisakah aku memintamu untuk mengantar Leamona untuk mendapatkan pengobatan?"tanyaku tersenyum.
"Ba-baik, saya akan melakukannya"ucap Renete sedikit terbata.
"Nona Leamona"ucap tuan Renete menjulurkan tangannya.
Mata Leamona sedikit melihat kearaku.
"Pergilah..."ucapku tersenyum.

Leamona perlahan pergi bersamaan dengan Renete meninggalkan diriku sendiri di lorong itu.
Ketika langkah mereka semakin menjauh, aku beranjak dari tempat dudukku.
Aku berdiri sembari menghadap keara satu jendela kaca.
Prcaaak
Jendela Kaca itu langsung pecah  ketika pukulan kerasku menembus benda transparan yang cukup tebal itu.
Aku mengambil salah satu pecahan kaca paling besar, dan berjalan dengan darah yang terus menetes dari tanganku.

Suara keras itut terdengar begitu keras dan bergema memenuhi setiap lantai.
"Tuan karllan...?"
"Tuan Karish ....?"
"Karllan?.."terdengar suara suara dari belakangku.
Aku sama sekali tak menoleh dan terus maju mengabaikan.
Aku terus berjalan melangkah menuju kamar Laure yang berada di lantai yang sama.

Jika dia benar benar tidur dengan gadis itu, aku pasti akan mengakhiri nyawa nya.
Ketika aku sampai di kamar paling pojok. Yang kau saksikan bukankah keadaan manis yang sejak tadi kubayangkan.
Namun tampak seorang pria berambut ungu gelap itu mencekik seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam saja, pakaian gadis itu tampak begitu transparan.
"Siapa kau?"teriak laure keras.
Dan disaat bersamaan tiba tiba muncul trance entah dari mana.
Seolah-olah, semua hal aneh sudah di rencakan.

Aku melangkah mendekat keara pria berambut ungu gelap itu.
Ia tampak berkeringat dengan wajah kebingungan.
Selain itu aroma manis serta bau anyir tercium begitu semerbak di ruangan itu.
aroma itu benar benar menjijikan dan hampir merusak hidungku.
Mataku sedikit menoleh keara gadis yang terlihat tak senonoh itu, dan tampak sudut bibirnya sedikit terangkat dengan matanya yang sedikit.
saat aku mulai paham dengan keadaan itu, aku menutup setengah wajahku.
"Ternyata ini yang dia rencanakan!"

"Tuan tolong dengarkan saya... Saya sama sekali tid—praaak"
Tamparan keras dari tanganku mengenai wajah Laure.
Suara tamparan itu terdengar bergema dengan cipratan darah mendarat di pipi kiri Laure.
Aku menaruh jari telunjukku di bibirku, memberinya tanda untuk diam.

"Laure.. temui aku di ruangan ku"ucapku melangkah menjauh dari pria yang tampak murung itu.
"Sebelum itu bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, karna barumu begitu menjijikan"ucapku melangkah keluar dari kamar.

Dengan suara sendu dan wajah yang tertunduk pria itua menjawab.
"Baik tuan.."

---
Selamat membaca.
Makasi buat yang selalu komen, karna cerita 'pembalasanku' mulai masuk ke arc serius.
komentar kalian itu berharga banget sumpah. Sangking excitednya Sampe Mimin screenshot dan Mimin baca berkali-kali.

Makasih yang Uda vote dan komen

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang