48. saya mohon

2.3K 247 4
                                        

Rachael dan Aroon terus  merengek kepadaku.
"Astaga sepertinya kalian tidak puas dengan 2 tamparan...."ucapku dengan nada lembut.
"Hikkk..."ucap kedua pria itu yang melompat kebelakang Laure dan Areen secara bersamaan.
"Hmmm?, kenapa kalian tidak menjawabku?"ucapku sembari sedikit meregangkan jari jariku.
"Ka-kami minta maaf..."ucap kedua pria itu dengan suara memelas.
Bahkan telinga dan ekor serigala Rachael yang sudah di tutupi dengan sihir ilusi masih terlihat merunduk di mataku

"Baiklah"ucapku menurunkan tanganku.
"Wow ... Kakak Rachael dan kak Aroon cepat sekali"ucap Danish yang terkagum.
"Danish juga kalau besar nanti. Juga bisa melompat secepat kak Rachael dan kak Aroon"ucapku menyentuh rambut Danish yang berwarna biru mudah.

"Ayah...."suara seorang wanita.
Saat suara itu muncul, sontak aku langsung mengangkat kepalaku.
Mengalihkan pandanganku keara suara itu.
Dari kejauhan, aku melihat seorang gadis berambut perak yang di kepang menjadi 1 dengan mata zamrud yang begitu indah

Dia memakai gaun berwarna navy dengan renda katun berwarna abu abu yang menghiasi ujung gaun serta bagian lengan gaun yang pendek dengan bordiran bunga anggrek.
Gaun yang memiliki kerah sehingga menutup bagian dada, serta dengan tambahan bolo tie yang berbentuk bundar dengan  perpaduan warna emas ada talinya dan permata yang berwarna merah maroon sebesar jempol kaki pria dewasa.

Tak tak
"Ayah...."gadis itu memanggilku sembari terus melangkah. Dengan kedua tangan yang mengangkat sedikit gaunya.
Sehingga sepatu yang ia kenakan serta sedikit betisnya terlihat.
Gadis itu melangkah dengan sepatu pumps berwarna navy yang sederhana dengan tinggi 5 cm terlihat begitu serasi dengan gaun yang ia pakai.

Aku membentangkan kedua tanganku.
"Mona...."ucapku dengan senyuman lembut
Mata gadis itu melebar lalu dengan beberapa tetes air yang jatuh.
Melihat gadis itu berlari dengan wajah berkeringat serta suara yang terus memanggilku, membuat ingatan Karllan muncul di kepalaku.
Sebuah ingatan tentang seorang gadis kecil yang memanggilku dengan air mata yang berlinang.
"Ternyata bayi kecilku sudah tumbuh sebesar ini tanpa aku sadari..."

Grab
Gadis itu mendekapku begitu erat, seakan ia tidak ingin melepaskan ku.
"Ayah... Ayah...."gadis itu merengek seperti anak kecil ya.
"Emh... Ayah ada disini, Mona"ucapku menepuk rambut perak.
"Kenapa ayah lama sekali membalas surat dariku..."tangisnya keras.
"Maafkan ayah... Lain kali ayah akan membalas lebih cepat"ucapku tersenyum.
"Tuan, silahkan"ucap Emily memberikan saputangan berwarna cream dengan corak mawar berwarna putih di setiap sudut dengan kedua tangannya.

"Terima kasih Emily"ucapku mengambil sapu tangan itu dengan tangan kananku, lalu perlahan mengusap air mata yang terus jatuh dari pelupuk mata gadis berusia 15 tahun itu.
"Astaga lihat betapa berantakannya wajah anak ayah"ucapku tersenyum tipis.
Aku menutup lembut hidung Mona dengan saputangan itu.
"Ayo hembuskan perlahan"ucapku tersenyum sembari menatap gadis itu.

"Eh?"
"ahh bi-biarkan saya saja"ucap Mona langsung mengambil saputangan itu dariku dengan suara gelagapan.
Wajah Mona tiba tiba memerah sampai terlihat seperti tomat, dengan asap yang mengepul dari kepalanya.

"Ehem"
"Le-lebih baik kita masuk terlebih dahulu lalu melanjutkan pembicaraan kita di dalam "ucap Mona mengubah ekspresi wajahnya ke mode serius.

_____
Ruang tamu.
Aku duduk di sofa yang lebar itu berhadapan dengan Mona.
"Jadi kemana anda selama 3 bulan terakhir ini, ayah?"tanya Leamona.
Anne perlahan menuangkan teh kedalam gelas kosong yang berada di hadapan kami dengan teh berwarna coklat tua dengan aroma yang begitu menggoda.

Srrrt
Aku meraih gelas teh yang terbuat dari tembikar berwarna putih yang indah.
"Jika harus di jelaskan secara singkat, ayah pergi ke perbatasan laut kekaisaran dan Negera republik di semenanjung selatan untuk membersihkan perairan dari monster yang sering menghancurkan kapal"ucapku
Lalu perlahan menyesap teh yang terasa sedikit pahit itu.

"Monster di perairan semenanjung selatan,Apa maksud anda Ras monster yang memiliki tubuh setengah manusia dan ular itu?"tanya Leamona kaget.
"Benar!"jawabku menurunkan gelas itu ke atas tatakan.
"Bukankah mereka memiliki kekuatan untuk memanipulasi pikiran orang lain serta bisa mendatangkan badai dengan nyanyian mereka yang mengerikan?"tanya Leamona dengan wajah khawatir.

"Ya itu benar, ketika satu ras Siren mulai bernyanyi. Ombak mulai bergerak deras, di ikuti dengan angin badai yang keras. Dan bahkan tak jarang petir juga akan ikut datang atas panggilan dari nyanyian mereka"jawabku dengan ekspresi datar.
"Lalu bagaimana dengan kondisi anda, ayah?"tanya Leamona dengan wajah yang sangat khawatir.

"Aku baik baik saja, karna sebelum hal gawat terjadi. Aku melakukan beberapa negosiasi kecil kepada mereka"ucapku menyesap teh lagi.
"Negosiasi kecil?, apa saya boleh mengetahuinya?"tanya Leamona.
"Aku hanya memberikan apa yang sangat mereka inginkan dengan imbalan yang tidak merugikan di kedua pihak. Itu adalah BLA BLA BLA...."
Dengan wajah datar aku mulai mengatakan kebenaran tentang negosiasi ku yang di lakukan dengan si anak kembar serta sarat yang kuberikan kepada si kembar.

Setiap kata kata yang keluar dari mulutku, ekspresi Leamona mulai beruba semakin hitam dan gelap.
Lalu
Brak
Dia menggerakkan meja kaca didepan kami dengan sangat keras.
"Ba-bagaimana bisa anda berkata kalau negosiasi ini tidak akan merugikan pihak kita. Ayah?"teriak Leamona keras.
"Mereka menyetujui 2 syaratku. Untuk melindungi kalian bertiga dan membantu kita untuk membalas dendam atas penghinaan yang sudah mahkota lakukan kepadamu. Aku sama sekali tak melihat kerugian dari hal itu?"ucapku

"Lalu bagaimana dengan anda sendiri"ucap Leamona keras kepadaku.
"Bukankah Emily juga sudah memberitahu anda tentang resiko persalinan. Bagaimana bisa anda tetap melakukannya "ucap Leamona melihatku.
"Jika semua negosiasi itu tercapai dengan mengorbankan tubuhku. Itu tidak masalah"ucapku melihat keara lain.
"Tidak masalah apanya, dasar sialaaaan"teriak Leamona keras
"Leamona, kata katamu. Darimana kau belajar mengupat seperti itu"ucapku berdiri.

"Sialan, sialan, sialan,sialan..."ucap Leamona berkali kali.
"Leamona... Berhenti mengupat"ucapku mendekatinya.
"Mengapa anda selalu saja berkorban demi kami. Mengapa anda tidak perna sekalipun memikirkan tentang diri anda sendiri"ucap Leamona memegang kedua tanganku.
"Bukan anda saja yang takut kehilangan kami, kami juga sangat takut kehilangan anda ayah"teriakkan Leamona terdengar begitu keras.

" saya mohon, tolong..."ucap Leamona perlahan duduk di depan kakiku.
Lalu dia menundukkan kepalanya tepat di hadapan kakiku.
"Tolong sesekali pikirkanlah tentang kondisi tubuh anda"ucap Leamona dengan suara tegas..
"Leamona?"ucapku yang menatap gadis yang sedang membenamkan kepalanya di lantai sembari memohon di depan kakiku.

"Leamona angkat kepalamu"ucapku
"Saya tidak akan mengangkat kepala saya, jika anda tidak berjanji kepada saya untuk lebih mencintai diri anda sendiri"ucap Leamona sembari terus membenamkan kepalanya.
"Leamona... Bangunlah "ucapku dengan wajah datar.
Mataku tak sedikitpun berkedip dan hanya menatap gadis berambut perak yang terus sujud itu.
"Tolong... Saya memohon kepada anda sekarang. Bukan sebagai  putri Duke dan seorang Duke. melainkan sebagai gadis biasa yang mengkhawatirkan ayahnya"ucap Leamona.

"Tolong cintai juga diri anda sama seperti anda mencintai kami...."ucap Leamona mengangkat wajahnya.

Saat wajah itu terangkat, aku merasa seperti sudah gagal menjadi seorang ayah.
Karna bagaimana bisa seorang ayah malah membuat anak prempuan nya menunjukan ekspresi wajah yang tampak sangat putus asa di hadapan dirinya  sendiri.
"Leamona"ucapku perlahan berjongkok didepan gadis itu.
Grab

"Maafkan ayah Leamona, maafkan aku yang menjadi ayah tak berguna ini"ucapku memeluk erat gadis itu.
"Membuat seorang anak menunjukan wajah yang begitu putus asa seperti ini, membuatku sadar akan kegagalan ku menjadi seorang ayah. "Ucapku
"Tidak ayah, ini bukanlah salahmu. Tapi salah kami yang tak bisa membantu meringankan bebanmu"ucap Leamona memegang pundakku.

"Jadi tolong berjanji lah kepada saya ayah"
"Tolong jangan pendam masalah anda sendiri lagi. Karna anda tidak sendirian disini..."
Pupil mataku sedikit melebar saat Mendengar kata kata yang keluar dari mulut Leamona.
Lalu dengan lembut aku perlahan menjawab.
"Yah, ayah janji....."

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang