107. kenapa?

23 3 0
                                        

Di sebuah ruangan sebesar 10 x 10 meter tsb. Tampak 2 orang pria dan wanita sedang berdiri didepan meja kerja.
Mereka berdua sedang menatap seorang pria berambut perak yang tengah duduk di atas kursi kayu.

Pria berambut perak itu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja dengan perlahan namun tegas.
Ruangan itu terdengar begitu senyap, hanya ada suara nafas dan suara angin yang menerobos dari luar.

Srrrt
Karllan perlahan menyatuhkan kedua tangannya ke atas meja.
lalu matanya perlahan melirik kearah gadis berambut merah Ruby yang sedang menatapnya juga.
Mata emas gadis itu tampak sedikit bergetar bersamaan dengan jemarinya yang coba ia sembunyikan di belakang punggungnya.

"Apa kau mendengarnya, Emily?"tanya karllan dengan wajah datar.
Wanita itu mengangguk
"Saya mendengar semuanya, tuan!"ucap Emily.
Karllan mengangguk singkat.

"Jadi... Apa keputusanmu selanjutnya?"tanya karllan tak menunjukan ekpresi apapun.
Namun perhatiannya tampak tertuju lurus kepada Emily.
Kepala ekpresi gusar yang muncul di wajah wanita itu.
"Saya akan melakukan semua printah anda, tuan"jawab Emily menatap karllan dengan p
Tegas.

Mata yang awalnya bergetar langsung menghilang, ekpresi gusar sebelumnya juga berubah menjadi tatapan seolah dia sudah memilih dengan mantap dan takkan akan berubah sedikitpun.

Tangan karllan bergerak membuka laci meja di hadapannya.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop hitam yang sudah di segel dengan lilin ungu serta lambang keluarga Karish.

Dia meletakan amplop itu dimeja dan mendorongnya mendekat keara Emily yang masih berdiri.
"Pergilah ke pesisir benua temui Laure disana. Katakan padanya aku membutuhkan mereka sesegera mungkin"ucap karllan tanpa mengubah ekspresi wajahnya

"Bawalah Rachael bersamamu, hidungnya pasti bisa membantumu nanti"ucap karllan
Tangan Emily bergerak dan meraih amplop yang tergeletak di atas meja.
"Baik tuan, saya mengerti"jawab Emily menatap karllan.

Brak
"Karllan"suara teriakan tiba tiba terdengar bersamaan dengan suara pintu yang di dobrak.
Tampak seorang pria berambut hitam dengan mata hitam pekat berdiri di ambang pintu.
"Kalian bisa pergi sekarang!"ucap karllan
"Baik tuan"jawab Aroon dan Emily bersamaan.

Mereka beranjak pergi meninggalkan 2 pria yang tampak bersitegang di ruangan tsb.
Jemari mulai menggores kan setiap tinta dari pena bulu ke lembar kertas yang ada di hadapannya.

"Ada apa Heront?"tanya karllan tanpa melirik keara pria yang masih berdiri di ambang pintu.
Heront lalu melangkah mendekat.
Traak
Tangannya bergerak dan meraih kerah pakaian karllan.

"Beri aku penjelasan, karllan!"ucap Heront, wajahnya tampak memerah dengan nafas yang memburu.
"Tentang?"tanya karllan tak mengubah ekspresinya.
"Mengapa kau menjebloskan anakku kedalam penjara?"ucap Heront terus menarik pakaian karllan.

Karllan tak menjawab dan hanya menghela nafas berat lalu memutar matanya keara lain.
"Hei jawab aku bajingan, apa mulutku itu hanya panjangan saja?"tanya Heront berteriak.
Wajah karllan tampak begitu tenang.
"Apa kau sudah selesai?"tanya karllan merai tangan Heront.

"Kau bajingan"ucap Heront hendak memukul wajah karllan.
Namun tangannya segera di tangkap oleh seorang pria berambut coklat yang tiba tiba muncul entah dari mana.
"Tuan Heront, bisakah anda menjelaskan apa tujuan dari perbuatan anda saat ini?"tanya Louise menahan tangan Heront sekuat mungkin.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pembalasanku (Harem BL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang