09 - 6 : PEMARAH DAN EGOIS

901 93 2
                                        

“Berkabut sekali ya?” komentar Gu Chanseong, tentang koridor lantai delapan yang memang sangat berkabut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Berkabut sekali ya?” komentar Gu Chanseong, tentang koridor lantai delapan yang memang sangat berkabut. Dia dan Jang Manwol sedang menuju kamar tempat Dewa Penunggu Sumur berada.

Manwol menghentikan Gu Chanseong. “Heh, kalau kau hanya ingin terlihat berani tapi sebenarnya ingin aku hentikan, baiklah, aku akan menghentikanmu. Gu Chanseong, jangan temui Dewa itu, pulang saja.”

“Karena barusan Anda mencoba menghentikan, aku jadi merasa keren nih.” Chanseong membusungkan dada dengan sok penuh pesona.

“Hentikan. Kau itu penakut. Keren dari mananya? Sudah, kabur saja. Sudah susah-susah aku melepaskanmu, kenapa malah balik lagi?”

“Anda juga sebenarnya berharap aku kembali lagi, kan? Satu, dua, tiga,” Chanseong menghitung dengan jari-jarinya. “Tiga detik. Untuk sesaat, Anda menginginkan hal yang sebaliknya. Kali ini, selama tiga detik. Bagaimana mungkin aku tidak kembali?”

Manwol terdiam karena itu benar.

Chanseong tersenyum.

“Jangan senyum. Aku sedang marah.”

“Anda bukan marah, tapi khawatir.” Lalu Chanseong memegangi bahunya dan berkata, “Jangan khawatir. Berdasarkan pengalaman, biasanya Dewa itu menyukaiku, karena aku tidak berdaya. Hm?”

Chanseong pun melangkah menuju kamar paling ujung di lantai delapan ini. Dia masuk lebih jauh ke dalam kabut, sehingga perlahan tapi pasti Manwol jadi tidak bisa begitu jelas melihatnya. Apa yang harus dia lakukan? Walau bagaimanapun, Chanseong benar, Manwol khawatir terhadapnya, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Karena itu ….

“Gu Chanseong!” Manwol berseru, dan bergegas menuju pintu bernomor 813 di ujung sana—meski dia harus melawan kabut yang mengganas, tapi BLAK! Pintu itu telah tertutup tanpa Gu Chanseong di luar dan tidak bisa dibuka lagi sekuat apa pun Manwol mencobanya.

Di balik pintu itu, Chanseong ‘terjatuh’ ke suatu tempat, ke suatu masa, di mana sebuah sumur masih menjadi tempat berkumpul yang menggembirakan bagi banyak manusia. Chanseong tidak terlihat oleh mereka.

Chanseong mendekati sumur itu dan mendongak ke dalamnya, dan berteriak, “Apa Anda ada di sini? Penunggu Sumur, apakah Anda ada di dalam?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chanseong mendekati sumur itu dan mendongak ke dalamnya, dan berteriak, “Apa Anda ada di sini? Penunggu Sumur, apakah Anda ada di dalam?”

“Ya. Kau mengizinkanku masuk dan aku sangat senang berada di sini.” Dewa Penunggu menjawab jauh dari dasar sumur yang entah sedalam apa.

HOTEL DEL LUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang