10. Tidak butuh!

8.5K 709 13
                                        


.
.
.
.
.
Yuvan menatap lekat pada Danish yang sedang di rias, anak itu mendapat giliran terakhir. Yuvan memang menyadari jika Danish tidak seperti biasanya, pemuda itu tampak lebih sering membalas cibiran yang tertuju padanya, di banding diam seperti dulu.

"Ada yang aneh di wajah gue bang?" Yuvan terkesiap saat tiba-tiba Danish membuka suara. Pemuda dua puluh tahun itu terlihat menatap kearah nya melalui kaca.

"Lo berapa hari gak tidur? Liat kantung mata lo tetep keliatan meskipun udah di make up." Danish mendengus kesal, tapi kemudian tertawa pelan.

"Kenapa lo malah ketawa?!" Kali ini Yuvan berucap sedikit keras, dan itu membuat semua orang yang ada di ruangan mereka menatap ke arah keduanya.

"Lo lucu bang Yuvan, kayak pertama kali liat gue begadang aja." Jawaban Danish jelas membuat Yuvan langsung terdiam.

"Lo itu ya ka-"

"Akrala lima menit lagi!" Ucapan Yuvan terpotong oleh seruan staff yang memanggil mereka untuk bersiap.

"Semoga kali ini lo gak bikin malu kita!" Danish menatap Ersya yang baru saja menatapnya tajam.

"Udah lah bang, mulai sekarang gue bakal pastiin kalau gue gak bakal bikin kalian malu!" Setelah mengatakan itu, Danish berjalan mendahului yang lain untuk keluar dari ruang tunggu mereka. Punggung mungil itu terlihat tegap dan tegas saat ini, hal itu tidak luput dari perhatian semua anggota Akrala yang lain.

"Bang Sav, dia beneran Danish?"

"Dia Danish." Savian menepuk pundak adik-adiknya dan menyusul Danish.

Ini penampilan pertama mereka setelah Danish amnesia, dan mereka semua berharap jika Danish tidak akan lupa lirik atau koreo mereka.

"Lo bisa Danish, lo bisa buktiin ke mereka kalau lo bisa."
.
.
.
.
.
Penampilan mereka berjalan lancar, tidak ada kesalahan sama sekali, bahkan mereka mendengar sorakan dari penggemar mereka.

"Kerja bagus anak-anak." Para anggota Akrala tersenyum saat mendapat pujian dari Erhan.

"Danish!" Danish yang sedang mengatur nafasnya hanya melirik pada Kenzo yang memanggilnya.

"Hm?"

Grep

"Good jobs Danish! Lo luar biasa hari ini, ekspresi lo bener-bener wow!!" Danish mengernyit saat Kenzo mengatakan itu, bukan karena apa, tapi karena kepalanya tiba-tiba merasa pusing.

Danish tidak menyangka jika Danish yang asli akan mengirimkan ingatannya malam ini, padahal mereka belum pulang ke rumah.

"Danish?" Kenzo hampir saja melepaskan pelukannya pada Danish saat tidak mendapat respon dari pemuda itu, tapi begitu merasakan tubuh Danish hampir meluruh Kenzo kembali mengeratkan pelukannya.

"Ugh." Kenzo bisa melihat tatapan khawatir dari Erhan dan beberapa staff mereka.

"Danish kenapa?" Kenzo hanya bisa menggeleng.

"Halah, paling dia pura-pura lagi!" Kenzo menggeleng saat mendengar Ersya mengatakan itu.

"Yaya, please, jangan pernah ngomong gitu lagi soal Danish!" Ersya yang di perlakukan seperti itu hanya mendengus kesal, dan itu membuat Wiya langsung merangkul pundak Ersya.

"Danish, lo denger gue?" Kenzo terpaksa membiarkan tubuh Danish meluruh. Pemuda itu menepuk pipi Danish beberapa kali, dia khawatir, terutama saat melihat dahi yang lebih muda itu berkerut.

"Danish, jangan dipaksa!" Kenzo mengelus dahi Danish saat melihat ekspresi kesakitan dari adiknya itu.

"AARRRGGHH!!" Kenzo mengeratkan pelukannya saat Danish justru bergerak menjambak rambutnya sendiri.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang