23. Apa itu?

6.2K 583 6
                                        


.
.
.
.
.
Tidak ada yang tau apa yang sudah terjadi pada Danish saat pulang tadi, karena baik Danish maupun Mada tidak menceritakan hal itu pada yang lain.

Mada yang biasanya tidak pernah suka jika Danish berlaku manja padanya, sekarang hanya diam saja. Mada bahkan hanya diam saat Danish masuk ke kamar nya dan tidur di sebelahnya.

"Lo kenapa gak tidur di kamar lo sendiri sih?" Danish hanya menggeleng.

"Gue lagi gak bisa tidur bang, biasanya gue ke studio terus begadang sampe pagi. Tapi sekarang gak bisa, nanti gue di marahin bang Vian." Mada hanya menghela nafas panjang.

"Ya udah tidur, gue gak mau di marahin yang lain lagi." Danish merengut, dia kan ingin dekat dengan Mada.

"Bang Dabi, dulu kak Janesh pernah bilang gak kalau tingkah dan sifat lo kayak Bang Balthasar?" Mada menaikan sebelah alisnya sebelum mengangguk.

"Pernah, kenapa?" Danish hanya menggeleng.

"Gak papa, kalian sama-sama mirip beruang angry bird, sukanya galak kalau sama gue." Mada melirik Danish yang bergelung dengan selimutnya.

"Lo pasti ngeselin sampe bang Altha galak ke lo." Mada yang memang ingin tau bagaimana perlakuan Balthasar pada Danish pun sengaja mengatakan itu.

"Emang kalau gue diem aja jadi ngeselin ya bang? Gue kan gak pernah ngomong sama bang Altha sejak kelas tiga sd, tapi dia tetep galak ke gue." Mada tidak tau lagi harus memberikan respon seperti apa saat ini, karena jujur saja selama ini dia mengenal Balthasar sebagai kakak yang baik untuk Janesh, bahkan dia pernah iri pada Janesh karena punya kakak seperti Balthasar.

"Udah sekarang lo tidur! Kalau gak lo balik ke kamar lo aja deh." Danish langsung menggeleng dan memilih memejamkan matanya, mencoba tidur dari pada di usir oleh Mada.

"Kan bang Dabi galak lagi ke gue, ngeselin emang kayak beruang marsha."
.
.
.
.
.
Jeffrey cukup terkejut saat melihat Danish bergelung nyaman di kasur Mada, sedangkan sang pemilik kasur justru tidur di kasur miliknya.

"Pantes kata bang Sav nih bocil gak ada di kamar, ternyata tidur disini." Mada yang mendengar ucapan Jeffrey pun menoleh.

"Kenapa?" Jeffrey menatap lekat pada Danish yang terlihat sangat nyenyak.

"Bang Sav kira nih bocil ke studio, tau nya tidur disini." Mada hanya berdehem sebelum kembali fokus pada ponselnya, menonton serial anime yang baru dia download.

"Nih bocil gak lo apa-apain kan bang?" Mada melirik ke arah Jeffrey yang membenarkan posisi tidur Danish.

"Lo berharap dia gue apain? Gue jual?" Jeffrey tertawa pelan saat mendengar ucapan Mada.

"Gue tau lo gak akan setega itu bang." Tatapan Jeffrey yang semula lembut langsung berubah tajam saat melihat bekas tangan di pipi Danish.

"Lo nampar dia bang?" Mada bangkit dan duduk di ranjang Jeffrey.

"Gak." Jawaban Mada ternyata tidak membuat Jeffrey percaya, karena bagaimana pun Mada pernah kelepasan menampar Danish beberapa hari lalu.

"Terus siapa yang nampar dia? Dia balik sama lo." Mada tau jika Jeffrey tengah marah saat ini.

"Nyokapnya." Ucapan Mada membuat Jeffrey terdiam.

"Mereka kesini?" Mada menggeleng.

"Kita ketemu di resto Kurta, disana gue liat gimana mereka nampar Danish tanpa alasan." Jeffrey akhirnya berjalan mendekati Mada dan duduk di samping nya.

"Lo udah tau perlakuan orang tua Danish sebelum nya?" Jeffrey mengangguk kecil.

"Sejak kapan?"

"Waktu acara pertemuan keluarga kemarin, gue gak hanya liat Danish di tampar, tapi juga dimaki bang." Mada mengepalkan tangan nya saat mendengar jawaban Jeffrey.

"Selama ini kita salah kan?" Jeffrey menatap Mada bingung.

"Hah?"

"Kita benci dia karena dia masuk ke Akrala seminggu sebelum debut, gantiin posisi Janesh gitu aja. Padahal kita tau gimana debut kita adalah impian Janesh, kita tau Janesh berusaha dan bekerja keras buat dapat itu, tapi ternyata yang debut justru Danish." Jeffrey terdiam mendengar kalimat panjang Mada.

"Kita beranggapan Danish emang ingin posisi Janesh, terutama saat kedua orang tua nya juga setuju dengan masuk nya Danish ke Akrala. Kita ngira dia anak manja yang bisanya sembunyi di balik nama dan uang orang tua nya, tapi ternyata kita salah kan? Hidup Danish bahkan gak lebih baik dibanding Janesh." Jeffrey mengangguk kali ini.

"Kita emang salah bang, kita buta soal itu karena ego. Kita kehilangan sosok Janesh saat itu, dan kita tetap harus debut. Kita ngelampiasin itu ke Danish, karena pikiran bodoh kita. Padahal harusnya kita tau, kalau Danish pasti jauh lebih kehilangan daripada kita."

"Mereka kembar, bukan hanya sebatas kakak dan adik, tapi mereka pasti punya ikatan spesial dan kita lupa akan itu."
.
.
.
.
.
"Anjir! Ini serius ada yang kasih kita ginian?" Kenzo menatap tidak percaya pada kotak kecil yang ada di atas meja.

"Gila, Riziend emang suka ngadi-ngadi!" Ersya hanya bisa menggelengkan kepala.

"Masalahnya hadiah ginian kok bisa lolos dari perusahaan?" Semua menggeleng saat Yuvan bertanya, bahkan Savian pun hanya diam sambil memijat kepalanya.

Pagi ini mereka di kejutkan dengan adanya hadiah aneh dari Riziend, memang bukan yang pertama kalinya mereka mengirim hadiah aneh tapi untuk kali ini hadiah itu berhasil membuat syok.

Padahal awalnya mereka membuka hadiah-hadiah yang di bawa oleh Erhan ke rumah dengan damai, tidak ada berebut karena memang semua sudah di pisah sesuai nama yang tertera. Namun hadiah untuk Kenzo berhasil membuat mereka tercengang.

"Emang itu apaan sih bang? Kenapa kaget banget?" Tujuh pasang mata langsung menatap ke arah Danish yang sejak tadi sibuk memainkan boneka kucing yang dia dapat dari Riziend.

"CIL LO BENERAN GAK TAU APA INI?" Danish menggeleng saat Wiya menunjukan kotak berwarna merah muda itu kehadapannya.

"Gak tau bang, kenapa ngegas banget lo?!" Ketujuh pemuda yang lebih tua saling melirik dan akhirnya mengkode untuk menyembunyikan barang itu.

"Lo beneran gak tau itu apa Dan?" Danish kembali menggeleng.

"Emang itu apa?" Kenzo tersenyum sedih saat Danish bertanya dengan polosnya.

"Aduh gimana jelasin nya ya, lo masih kecil sih." Danish merengut saat Jeffrey mengatakan hal itu.

"Segede ini masih kecil? Terus gede nya segimana?!" Danish yang kesal pada Jeffrey beralih menatap Mada, karena dia tau Mada akan menjawabnya tanpa banyak drama.

"Bang Dabi, emang itu tadi apa?" Mada melirik ke arah Danish acuh.

"Kondom." Jawaban frontal Mada berhasil membuat yang lain melotot, bahkan Savian dan Yuvan sudah bersiap memukul kepala pemuda bongsor itu.

"Oh jadi kondom itu bentukannya begitu." Danish mengangguk-angguk kecil sambil bergumam pelan, namun ternyata anggota Akrala yang lain masih mendengar gumaman nya.

"Ya gusti Danish, lo udah dua puluh tahun dan lo baru tau bentuk kotak kondom? Lo selama ini hidup kayak apa sebenernya?" Danish menatap Yuvan lekat saat pemuda itu mengguncang pundaknya.

"Ya maaf bang, selama ini hidup gue isinya cuma belajar, diem di kosan soalnya mager buat keluar." Jawaban Danish menghasilkan kernyitan bingung dari tujuh pemuda yang lain.

"Lo tinggal di kosan? Padahal rumah keluarga lo segede itu?" Danish mengangguk meskipun setengah meruntuk dalam hati kenapa dia bisa keceplosan membicarakan kehidupannya sebagai Agra, ya meskipun kehidupan Danish juga tidak jauh beda sih.

"Y-ya kan gue pingin hidup mandiri, lagi pula gue capek harus naik turun tangga cuma buat pergi ke dapur."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat sore
Double up nih?
Seneng gak? Seneng gak? Seneng aja udah ya ...
Gimana sama chapter kali ini?
Mada masih nyebelin gak buat kalian?

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang