.
.
.
.
.
Pagi ini Savian kembali melihat perubahan Danish, pemuda itu dulu selalu sarapan sebelum memulai hari, dan harus nasi. Tapi pagi ini Danish bahkan menolak untuk sarapan, dan memilih diam di halaman belakang rumah.
Tidak ada yang menegurnya, karena bagaimana pun mereka belum menerima kehadiran Danish di tengah-tengah mereka.
"Danish udah bangun bang?" Savian menatap Kenzo yang datang dengan rambut basah.
"Dibelakang." Kenzo mengernyit, tapi dia tetap berjalan ke belakang untuk memastikan ucapan Savian.
"Danish!" Kenzo memanggil Danish sedikit keras, tapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh.
Tap
Kenzo tersenyum saat melihat Danish sedikit terkejut, pemuda itu penasaran apa yang membuat Danish sama sekali tidak menoleh saat dia memanggilnya tadi.
"Lo ngapain? Ayo masuk terus sarapan?" Danish menggeleng, tapi tangan pemuda itu menunjukan layar ponsel nya pada Kenzo.
"Lo ngeliat video kita?" Danish mengangguk.
"Gue lupa, jadi gue mau dengerin lagu-lagu kalian." Kenzo tersenyum tipis.
"Lagu-lagu kita dek, kamu juga bagian dari Akrala." Danish mengalihkan pandangannya dari Kenzo.
"Tapi mereka gak suka gue ada di Akrala, gue gak bisa jadi pengganti yang sesuai kan?"
Deg
Kenzo membulatkan matanya karena terkejut oleh ucapan Danish.
"Danish."
"Semalem gue dapet ingatan itu, mereka cuma ngatain gue karena gue bukan kak Janesh." Kenzo memejamkan matanya saat mendengar nada sedih Danish.
"Mereka bukan gak suka, mereka cuma belum nerima aja. Percaya sama gue mereka pasti bisa nerima lo nanti." Danish tersenyum tipis saat Kenzo mengatakan itu. Padahal sebenarnya dia juga tidak peduli, toh dia bukan Danish yang asli.
"Ya semoga." Kenzo gemas mendengar suara pelan Danish. Sejak awal Kenzo memang tidak pernah menganggap Danish sebagai pengganti Janesh, tapi dia memang menganggap Danish sebagai leader nya.
"Sudah ayo masuk, nasi nya udah mateng, nanti gue buatin nasi goreng sama telur dadar." Biasanya Danish akan mengangguk saat Kenzo menawarkan itu, tapi kali ini Danish menggeleng.
"Gue gak laper, nanti aja gue makannya. Tenang aja bang, gue bisa bikin sarapan gue sendiri." Kenzo menghela nafas, sejak sadar dari pingsan nya di rumah sakit, Danish berubah. Pemuda mungil itu seperti menjaga jarak aman dengan mereka, bahkan dengan Kenzo sendiri.
"Gue gak mau lo bakar dapur, bisa-bisa Wiya sama bang Savi ngamuk." Danish menatap tajam saat mendengar Kenzo meremehkan nya.
"Gue bisa masak tau bang, gue hidup sendiri selama ini. Gue gak pernah dilayani, jadi jangan khawatir." Kenzo sepenuhnya terdiam begitu mendengar ucapan Danish.
"Ya tapi gue tetep mau bikinin lo sarapan, jadi ayo ikut sarapan. Hari ini kita free, jadi gue bakal nemenin lo seharian ini." Danish menghela nafas panjang, sepertinya Kenzo termasuk orang yang keras kepala.
"Terserah lo aja bang."
.
.
.
.
.
Kenzo benar-benar menemani Danish seharian, bahkan disaat yang lain memilih pergi ke keluar untuk jalan-jalan, Kenzo menolak ikut.
Dan disinilah Kenzo sekarang, duduk di ranjang yang ada di studio pribadi Danish. Sedangkan si pemilik studio berbaring di sebelahnya.
"Tempat ini lebih nyaman dari kamar lo sama bang Sav ya Dan?" Danish yang semula sibuk dengan ponselnya langsung menoleh dan mengangguk kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
