70. Memutuskan

3.9K 295 8
                                        


.
.
.
.
.
Danish hanya diam saat sadar, apa lagi saat mengingat segala tulisan Janesh yang sempat di bacanya.

Danish merasa bersalah, karena sudah menjadi lemah dan tidak bisa menjadi kuat untuk dirinya sendiri.

"Danish, ada Jeffrey, mau ketemu?" Danish menggeleng pelan, sebelum akhirnya kembali menutupi tubuhnya menggunakan selimut, dia sedang tidak ingin bertemu siapa pun.

Penolakan Danish ternyata di lihat oleh Jeffrey yang memang berdiri di ambang pintu, tapi pemuda itu paham jika Danish pasti perlu menenangkan hati dan memulihkan kondisinya yang baru saja drop.

"Sorry ya Jeff." Jeffrey menggeleng.

"Gak papa bang, gue ngerti kalau Danish butuh istirahat. Tapi gak ada yang aneh lagi kan?" Balthasar menggeleng.

"Gak ada, dokter juga udah mastiin semua baik-baik aja, cuma Danish udah terlalu lama skip pengobatan jadi dia harus mulai menjadwalkan pengobatan lagi." Jeffrey mengangguk.

"Terus kabari gue soal perkembangan Danish ya bang." Balthasar mengangguk dan menatap Jeffrey lekat.

"Lo suka sama adek gue ya?" Jeffrey tersenyum.

"Gue suka Danish dari lama tau bang, masa lo baru sadar sih." Balthasar ingin sekali memukul kepala Jeffrey saat pemuda itu mengatakan hal itu.

"Sialan, lo tau gue gak deket sama Danish selama ini?!" Jeffrey mengedikan bahu nya.

"Ya salah lo sendiri sih kalau gitu bang."
.
.
.
.
.
Danish menatap pantulan tubuhnya di kaca yang ada di ruang gantinya, bayangan saat Wiya menyentuhnya masih terus membayangi benak Danish. Namun karena dia sudah berjanji pada jiwa Danish, maka jiwa Agra mencoba untuk bersikap lebih kuat.

"Mereka gak akan ninggalin lo Agra, mereka akan tetap ada disini Danish. Sekarang lo gak perlu khawatir, orang tua dan kakak Danish sudah ada disisi lo, lo punya banyak dukungan sekarang."

Danish bergumam pelan sambil sesekali menghembuskan nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya sebelum memutuskan kembali melangkah sebagai Danish.

Keterpurukannya kemarin adalah bentuk rasa sakit yang di terima Agra, karena bagaimana pun Agra tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, di paksa melayani orang yang dia anggap kakak.

"Danish, maafin gue, gue mungkin bisa bersikap biasa ke bang Yasa, tapi respon tubuh lo pasti gak bisa bohong kalau hal itu bikin gue trauma."

Tok

Tok

Tok

Ketukan di pintu kamar nya membuat Danish buru-buru membenarkan pakaiannya, pemuda itu membuka pintu bahkan tanpa peduli jika rambutnya masih setengah basah.

Cklek

Danish terpaku saat melihat Jeffrey berdiri di depan kamar nya, pemuda itu tersenyum saat melihat wajah segar Danish.

"Bang Jefy." Senyum Jeffrey semakin lebar saat Danish menyebut namanya.

"Boleh gue masuk?" Danish membuka pintu kamar nya sedikit lebar, sebagai tanda jika pemuda itu mengijinkan Jeffrey masuk.

Danish menutup kembali pintu kamarnya saat Jeffrey sudah masuk, saat ini dia sedang berada di rumah sendirian hanya bersama bi Minah dan pak Agus, sedangkan orang tuanya dan Balthasar sedang ada acara di luar, acara perusahaan yang membuat Danish menolak ikut saat diajak.

"Gue udah boleh panggil lo Danish lagi?" Danish mengangguk, karena memang sebulan sejak kejadian itu Danish menolak jika Jeffrey memanggilnya Danish dan akan merespon jika dipanggil Agra.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang