.
.
.
.
.
Pemotretan mereka berjalan lancar, anak-anak Akrala sama sekali tidak membiarkan Sandi mendekati mereka. Terutama Wiya, Mada dan Jeffrey, ketiganya langsung pasang badan saat Sandi berjalan mendekati mereka.
Ketiganya masih marah jika mengingat kejadian Sandi mendorong Danish hingga pingsan kemarin, belum lagi ucapan yang pemuda itu keluarkan saat rapat tadi pagi.
"Mau apa lagi?" Mada langsung memasang wajah datar dan berucap ketus.
"Aku cuma mau nawarin kue kak, aku bikin kue, di jamin enak kok. Kak Savian aja suka dan selalu bilang enak." Wiya langsung menatap Savian dengan tatapan menyelidik, namun Savian hanya menggeleng pelan.
"Oh Danish juga bilang enak kok." Danish yang mendengar namanya di sebut langsung mendongak dan menatap ke arah Sandi dengan alis terangkat.
"Kenapa bawa-bawa nama saya?" Sandi terkejut, dia tidak menyangka jika Danish akan membuka suara.
"Ini Danish, aku bawa kue, ayo cobain lagi. Kamu bilang waktu itu enak kan." Danish mengernyit.
"Kapan saya bilang enak? Saat itu bahkan saya bilang kue kamu tidak seenak buatan bang Wiya, dan lagi saya gak akan mau nyicipin kue kamu untuk kedua kali nya." Ucapan dingin Danish membuat Sandi memasang wajah sedih.
"Danish kok jahat, kenapa bilang gitu ke aku? Harusnya kalau kamu gak mau nyicip gak usah ngomong jahat." Danish mendengus kesal.
"Yang jahat saya atau kamu?" Danish tidak suka di tatap oleh banyak orang, namun saat ini dia bisa menggunakan situasi untuk memberi pelajaran pada Sandi.
"Kamu jahat Danish! Kamu bilang kue saya gak enak!" Danish bangkit dari duduk nya dan menatap lekat pada Sandi, bahkan Danish bisa melihat jika manager Sandi berjalan mendekati mereka.
"Kapan saya bilang kue kamu gak enak? Saya hanya bilang tidak seenak buatan bang Wiya, lagi pula saat itu manager kamu dan beberapa staff Himmel mendengar ucapan saya." Sandi meremat tangan nya, dia sudah cukup terkejut karena Danish mau membalas ucapannya.
"Lalu kamu bilang saya jahat? Justru kamu lah yang jahat. Kamu memaksa saya mencicipi kue buatan kamu padahal saya sudah menolak, dan karena hal itu saya berakhir di rumah sakit kalau kamu lupa." Ucapan Danish membuat anggota Akrala dan beberapa staff terkejut. Mereka memang pernah mendengar jika Danish di larikan ke rumah sakit karena di temukan pingsan di toilet oleh managernya, namun tidak ada yang tau alasannya.
"Kamu sudah tau jika saya alergi kacang Sandi, tapi kamu tetap memaksa saya mencicipi kue kacang yang kamu bawa, jadi kamu lah yang jahat bukan saya. Lagi pula saya tidak pernah melakukan apapun pada mu, tapi kamu sering melakukan hal yang bisa mencelakai saya." Sandi di buat terdiam dengan wajah memerah oleh ucapan-ucapan Danish.
"Bukan kah lebih baik anda membawa model anda pergi dan menjauh dari saya?" Danish menatap ke arah manager Sandi yang diam di belakang Sandi.
"Katakan padanya jangan pernah mencoba mencelakai saya lagi, atau mendekati saya maupun anggota Akrala yang lain. Atau dia akan merasakan rasanya jeruji besi, karena saya pastikan akan melaporkan semua kelakuannya terhadap saya." Setelah mengatakan itu Danish berlalu pergi, pemuda itu mendekati Biya yang sedari tadi menatap ke arah mereka.
"Kak Biya." Biya memasang wajah khawatir saat Danish berdiri di hadapannya.
"Iya Danish, dia tidak menyakiti kamu kan?" Danish menggeleng.
"Kak Biya, boleh saya minta tolong?" Biya langsung mengangguk tanpa pikir panjang.
"Apa yang bisa saya bantu?" Danish tersenyum manis pada salah satu fans nya itu.
"Boleh saya minta salinan rekaman cctv yang ada di toilet lantai lima kak?" Biya mengerjap.
"Toilet lantai lima? Kamu tau disana ada cctv?" Danish mengangguk.
"Tentu saja saya tau kak, bahkan sejak awal saya masuk ke dalam toilet saya langsung sadar." Biya tersenyum, tentu saja Danish tau, Danish terkenal dengan kesadaran nya yang akurat terhadap kamera yang menyorot ke arah nya.
"Baik lah, kamu mau rekaman yang tanggal berapa?" Danish terlihat berfikir sejenak.
"Yang ini cukup lama sih kak, saya mau rekaman cctv di tanggal 16 bulan april kak, bisa?" Biya terlihat berpikir sebelum akhirnya mengangguk.
"Bisa, kamu butuh sekali rekaman itu?" Danish mengangguk.
"Iya kak, nanti tolong kirim kan ke email saya ya, nanti kak Biya juga bisa lihat apa yang terjadi di cctv itu." Lagi-lagi Biya mengangguk.
"Baiklah nanti akan saya kirim."
"Terima kasih kak Biya."
.
.
.
.
.
Pemotretan mereka selesai menjelang sore, Erhan dan Firly langsung mengantar anggota Akrala ke asrama. Keduanya meminta mereka istirahat, terutama Danish, karena besok mereka harus pergi ke pengadilan untuk bertemu dengan pihak Vanka.
"Bang Han, gue mau keluar sama Mada sebentar. Kita bakal balik sebelum jam sembilan." Erhan mengangguk saat Yuvan meminta izin padanya.
"Baiklah, tapi ingat Yuvan jangan melakukan hal aneh saat di luar." Yuvan mengangguk semangat, dan segera menarik Mada untuk pergi dengannya.
"Kita mau kemana?" Mada menatap Yuvan bingung saat mereka berakhir di mobil milik Yuvan.
"Kencan, tapi maaf kita gak bisa mampir ke tempat-tempat tertentu." Mada tersenyum mendengar jawaban Yuvan.
"Gak masalah, nanti kita beli cfk aja sama beli kopi." Yuvan mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.
"Okey kalau gitu kita beli cfk dulu, nanti kita makan sambil nonton bioskop mobil." Mada mengangguk setuju.
Yuvan segera saja membawa mobilnya ke sebuah restoran cepat saji danmemesan makanan dengan layanan drive thru, lebih aman untuk mereka.
"Yuvan." Mada menatap lekat pada pemuda tampan di sebelahnya itu.
"Hm?"
"Kita bakal baik-baik saja kan?" Yuvan mengernyit bingung saat mendengar pertanyaan Mada.
"Maksud kamu?"
"Hubungan kita, kita gak tau apa keluarga kamu bakal terima atau gak. Aku takut Van, aku takut ngebuat orang tua mu kecewa, mereka sudah terlalu baik sama aku selama ini." Yuvan yang melihat ekspresi sedih Mada segera menepikan mobilnya di tempat parkir, beruntung saat ini tempat itu tidak terlalu ramai.
"Mada dengerin ya, mereka akan setuju. Papa sama mama pasti akan setuju, kamu gak perlu khawatir, sama kayak orang tua kamu yang nerima aku jadi pacar kamu, orang tua ku juga pasti nerima kamu jadi jadi pasangan ku." Mada mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada Yuvan.
"Tapi kita belum tau pasti Van, aku juga maunya positive thinking tapi gak bisa, aku khawatir. Takut mama sama papa kamu kecewa." Yuvan tersenyum tipis.
Cup
"Percaya sama aku, mereka pasti setuju, kamu gak perlu khawatir. Jauh sebelum kita pacaran kayak sekarang, mereka bahkan sedah sering nanyain ke aku kapan aku mau bawa kamu ke rumah sebagai pacar. Mereka bahkan sudah merestui hubungan ini jauh sebelum hubungan ini ada." Mada tampak terkejut mendengar ucapan Yuvan.
"Kamu gak usah bohong!" Yuvan terkekeh pelan.
"Aku gak bohong, apa perlu aku hubungi mama sekarang biar kamu bisa tanyakan sendiri soal itu?" Mada buru-buru menggeleng, dia percaya pada Yuvan, selama ini Yuvan sama sekali tidak pernah membohongi nya.
"Aku percaya." Yuvan kembali tersenyum.
"Ya sudah sekarang ayo beli kopi terus kita nonton, waktu kita cuma sampai jam delapan, karena jam sembilan kita sudah harus kembali ke asrama." Mada mengangguk dengan senyum di wajahnya.
"Yuvan, nanti pulang jangan lupa beliin roti kopi buat Danish ya, biar bisa di buat sarapan sama itu bocil besok pagi." Yuvan mengangguk setuju.
"Danish perlu banyak tenaga untuk melawan orang-orang gak punya otak yang bisa nya ngandelin uang."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat pagi
Akrala up
Ada yang kangen gak?
Ada yang nungguin?
Selamat membaca dan semoga suka
See ya
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
